Opini

Halal Bil Halal dan Ucapan Selamat Idul Fitri dari Masa ke Masa

Oleh: Anwar Rahman

ACARA halal bil halal menjadi tradisi yang tak terpisahkan dari umat Islam, padahal beberapa kali saya di Saudi Arabia saat lebaran, disana juga tidak ada tradisi halal bil halal yang fenomenal seperti di Indonesia. Banyak orang mengira istilah halal-bihalal adalah dari bahasa Arab, yakni al-halal-bil-halal, padahal halal-bil halal berasal dari kata serapan ‘halal’ dengan sisipan ‘bi’ yang berarti ‘dengan’ (bahasa Arab) di antara ‘halal’.

Menurut pakar Bahasa Arab, istilah ‘halal’ berasal dari kata ‘halla’ dalam bahasa Arab, yang mengandung tiga makna, yaitu halal al-habi (benang kusut terurai kembali); halla al-maa (air keruh diendapkan); serta halla as-syai (halal sesuatu) yang secara ringkas makna halalbihalal adalah kekusutan,kekeruhan atau kesalahan yang selama ini dilakukan dapat dihalalkan kembali. Artinya, semua kesalahan melebur, hilang, dan kembali sedia kala.

Penggagas istilah ‘halal bihalal adalah KH Abdul Wahab Chasbullah Pengasuh Ponpes Tambakberas Jombang yang berawal dari pengtengkaran para elit politik di bulan Ramadan pasca Indonesia merdeka tahun 1948. Para elit politik saling bertengkar dan tidak mau duduk dalam satu forum.

Sementara itu, pemberontakan terjadi di mana-mana, seperti Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dan PKI Madiun. Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara meminta saran untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tengah carut-marut tersebut dan KH Wahab Hasbullah menyarankan agar diadakan pertemuan saat Hari Raya Idul Fitri, karena pada Idul Fitri seluruh umat Islam disunahkan bersilaturahim dengan alasan kita banyak dosa (haram) dan agar supaya mereka tidak punya dosa, maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturahim nanti dipakai istilah ‘halal bihalal’, jelas KH Wahab.

Hingga saat ini tradisi itu dilestarikan, sehingga pada hari raya Idul Fitri di Indonesia, jalan tol, jalan raya, jalan kampung, gang-gang sempit, kota besar, pelosok desa, pinggir pantai, lereng gunung, ramai lalu lalang orang yang berkunjung ke rumah tetangga, saudara, dan kerabat untuk halal-bil halal, semuanya saling memaafkan dan bersalam-salaman.

Namun seiring dengan perkembangan zaman, hal bil halal mengalami pergeseran pola dan narasi, era sebelum tahun 1980 an, sesibuk apapun , punya duit atau tidak punya duit banyak, orang akan berusaha pulang kampung untuk sungkem kepada kedua orang tuanya dan orang yang lebih tua di kampung. Menginjak tahun 1980 mulai bergeser beralih memakai kartu Lebaran, awal lalu tahun 1990 an sampai awal tahun 2000 an beralih pake telepon rumah langsung . Tahun 2005 sampai tahun 2010 beralih ke SMS dan pasca tahun 2015 lebih populer dengan teknologi WA , Facebook, Twiter, Instagram, Linkedin serta video call, hal ini terindikasi dari HP saya pribadi pada Lebaran tahun ini menerima kl. 2.500 WA ucapan selamat Lebaran, dan hanya 1 orang yang kirim ucapan selamat melalui SMS serta 3 keluarga yang datang langsung kerumah.

Begitu juga lafal (narasi) hal bil halal, kalau orang asal Jawa Tengah sangat panjang : “Bapak ..nami kulo Parjan saking Dusun Sidorejo.. kulo sowan mriki sepindah kulo bade silaturrahmi nyambung seduluran , nomor kalih … kulo ngaturaken sugeng riyadin, kawulo nyuwun pangapunten ingkang agung atas sedanten kelepatan kulo , lahir kaliyan batin. Kata arek Suroboyo : halah kesuwen: kosong..kosong Cak Yo…

* Dr Anwar Rahman SH MH, santri, Anggota Komisi III DPR-RI 2014-201

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close