Konsultasi Hukum

Hak dan Kewajiban Bertetangga

Pertanyaan :
Assalamualaikum Wr Wb.
Saya seorang ibu rumah tangga yang tinggal di pemukiman padat penduduk, selama ini hubungan kami dengan tetangga cukup harmonis, namun pada suatu hari ketika kami sedang tidak berada di rumah.

Tetangga samping kanan rumah posisi rumahnya lebih rendah dari rumah kami, tiba-tiba menutup saluran air selokan (got) yang ada di depan rumahnya tanpa alasan yang jelas.

Sehingga jika turun hujan aliran air meluap sampai ke pekarangan rumah kami dan sebagian menggenangi jalan pemukiman, hal ini berakibat mengikis tanah pekarangan kami dan membuat tidak nyaman bagi masyarakat pengguna jalan.

Pertanyaan kami,

Apakah tindakan tetangga kami tersebut dapat dikategorikan melanggar hukum?
Dapatkah kami menggugat ke Pengadilan?

Ibu Waty Lampung Tengah.

Jawaban :

Kepada ibu Waty, Terimaksih atas pertanyaan yang ibu sampaikan kepada kami.
Permasalahan yang ibu hadapi sebenarnya masalah yang sepele jika bisa di musyawarahkan dan dicarikan solusinya, tetapi jika salah satu pihak tidak menyadari dan tidak mengerti ada aturan hukum yang mengatur hal tersebut tentunya permasalahan akan menjadi rumit dan ujung-ujungnya membuat hubungan antar tetangga tidak harmonis dan tidak nyaman.

Faktor penyebab timbulnya masalah ini sebenarnya adalah factor alam yang tidak sengaja dibuat oleh manusia, namun demikian hukum juga mengatur untuk menghindari perselisihan antar tetangga sebagaimana dimuat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPdt).

Hukum mengatur hak dan kewajiban hidup bertetangga yakni“ Antara pemilik-pemilik pekarangan satu sama lain bertetanggaan, adalah berlaku beberapa hak dan kewajiban, baik yang berpangkal pada letak pekarangan mereka karena alam, maupun yang berdasar atas ketentuan Undang-undang.” (Pasal 625).

Sedangkan terkait posisi tanah atau pekarangan antara yang lebih tinggi dengan yang lebih rendah apabila terdapat air yang bukan kehendaknya dari tetangga maka tetangga yang posisinya lebih rendah mau tidak mau harus (wajib) menerima air yang mengalir, walau kemudian akibat dari aliran air menimbulkan kerugian secara hukum tidak boleh menuntut kerugian dan juga sebaliknya.

Hukum telah mengatur untuk kepentingan hidup bertetangga, sebagaimana diatur dalam Pasal 626 “Demi kepentingan mereka yang pekarangannya lebih tinggi duduknya, tiap-tiap pemilik pekarangan yang pekarangannya lebih rendah letaknya, berwajib menerima dalam pekarangannya, segala air yang karena kehendak sendiri, lepas dari campur tangan manusia, mengalir dari pekarangan mereka.

Mereka pekarangannya lebih rendah letaknya, tak diperbolehkan membuat sesuatu tanggul atau bendungan yang menghalang-halangi keluar mengalirnya air tersebut; sebaliknya pun mereka yang pekarangannya lebih tinggilah duduknya, tak diperbolehkan berbuat sesuatu, yang memburukkan keadaan air bagi pekarangan yang lebih rendah letaknya.”

Bahkan kehidupan antar tetanga terhadap selokan dan atau saluran air harus dipelihara bersama termasuk jika harus mengeluarkan biaya harus ditanggung bersama (Pasal 660) Artinya dalam hidup bertetangga telah diatur khusus hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan setiap individu yang hidup dan bertempat tinggal dilingkungannya.

Bahwa tindakan tetangga, dengan cara menutup parit/selokan dengan mengabaikan hak-hak dan kewajiban sebagai tetangga, maka tindakan tersebut masuk dalam perbuatan melawan hukum sebagaimana diatur dalam pasal 625,626 dan 660 KUHPdt.

Perbuatan Melawan hukum dengan cara menutup parit / selokan menimbulkan kerugian orang lain, maka seseorang yang dirugikan dapat menuntut secara perdata dengan cara mengajukan Gugatan ke Pengadilan Negeri setempat dengan disertai kerugian yang nyata dengan dasar pasal 1365 KUHPedt yang menyatakan “Tiap perbuatan yang melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut.”

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

Eka Intan Putri, S.H.,M.H.
Advokat/Ketua LKBH Intan.

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close