Opini

Habib Rizieq Shihab, Kapan Pulang?

Oleh: Erros Djarot

HABIB Rizieq Sihab (HRS) adalah seorang ‘imam besar’ yang sangat dihormati, disegani, dan dipuja oleh ribuan pengikutnya di negeri ini. Sementara di mata ribuan bukan pengikutnya, HRS dikenal sebagai tokoh yang sangat kental berada di garis keras politik identitas. Tokoh kontroversial yang kerap menebar rasa was-was lewat ucapan dan pidatonya ini, merupakan sosok yang sangat terkenal di kalangan nitizen jagad maya.
Maka wajar bila berita tentang penangkapan HRS yang dilakukan oleh fihak aparat di Tanah Suci, langsung menjadi pembicaraan hangat di setiap sudut kampung dan kota, terkhusus Jakarta. Apalagi penangkapan HRS oleh fihak keamanan setempat, salah satunya konon berkaitan dengan penempelan bendera –yang dipahami sebagai bendera Hizbut Tahrir, pada dinding rumah tempat tinggal HRS di Mekah. Selanjutnya banyak lagi versi yang berkembang seputar latar belakang ‘penangkapan’ HRS ini.

Perlindungan hukum pada setiap warga negara di luar negeri yang terkena kasus hukum pun, begitu cepat diberikan oleh pemerintah cq. Departemen Luar Negeri-Kedutaan Besar RI setempat. Alhasil HRS dibebaskan dengan jaminan. Konon persoalan yang utama seputar digiringnya HRS ke kantor polisi hanya sebatas izin tinggal yang sudah terlanjur over stay.

Apa pun alasan dan latar belakang terjadinya penangkapan sesaat HRS oleh pihak aparat keamanan di Tanah Suci, ternyata tidak terlalu dijadikan topik utama di setiap pembicraan seputar keberadaan HRS sekarang ini. Persoalan yang banyak muncul menjadi pertanyaan publik justru; kapan sang Habib pulang? Kenapa setelah munculnya kasus ‘tak sedap’, HRS justru memilih hengkang dan ‘menetap’ di tanah suci? Padahal kasusnya itu sendiri sangat sulit dipercaya bahwa hal yang tak pantas dan sangat merendahkan martabat Ulama, dilakukan oleh seorang imam besar.

Dengan meninggalkan Tanah Air menghindar dari proses persidangan kasus chat porno ini, bukankah malah justru mengundang berbagai dugaan dan penilaian terhadap sikap dan kualitas HRS sebagai pemimpin umat? Mengapa tidak cepat saja pulang? Toh kasus pelecehan terhadap Pancasila, penyidikannya sudah dihentikan lewat SP3 yang dikeluarkan oleh fihak Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat. Apa masalah kasus chat porno yang masih menjadi ganjalan? Atau ada hal-lain yang hanya Sang Habib dan Tuhan yang tau?

Ketika publik membuka-buka kembali catatan dari berbagai media yang mengunggah berita kasus chat porno antara HRS dan Firza Husein, tenyata fihak Kepolisian RI telah juga menghentikan penyidikan (SP3). Sayangnya dalam memberhentikan penyidikan ini, fihak kepolisian masih menyisakan celah yang membuat publik tetap penasaran dan ingin tahu apa sesungguhnya yang terjadi? Pasalnya, salah satu alasan diberhentikannya penyidikan, hanya karena fihak kepolisian tidak berhasil menemukan siapa si pengunggah chat porno tersebut (???).

Nah, pernyataan fihak kepolisian ini justru membuka celah bagi publik untuk melakukan berbagai dugaan maupun kesimpulan. Salah satu kesimpulan adalah; bahwa chat porno itu memang ada, tapi sang pengunggah bukan HRS. Sehingga berdasarkan hasil gelar perkara, kepada HRS sulit dikenakan pasal pelanggaran hukum yang dapat menjeratnya. Namun, walau SP3 dikeluarkan, dengan sangat cerdik fihak kepolisian memunculkan alasan tak berhasil menangkap si pengunggah sehingga memberi sinyal bahwa chat porno itu memang ada.

Kontan saja publik mempertanyakan kebenaran alasan yang digunakan sekaligus mempertanyakan tingkat kesiapan Polri dan kualitas survillan teknologi yang dimilikinya. Menjadi aneh dan menjadi pertanyaan karena dalam beberapa kasus sangat pelik saja fihak kepolisian begitu cepat menemukan sumber atau para pelaku pengunggah hoax. Dengan ketidakjelasan ini wajar bila fihak pembela HRS menyatakan bahwa kasus chat porno ini hanya lah sebuah rekayasa untuk menjatuhkan atau membusukkan nama HRS, sang ‘Ulama Besar’.
Konsekuensi logisnya fihak kepolisian harus meminta maaf secara terbuka kepada para fihak yang dirugikan oleh (seandainya hanya fitnah) permainan kotor ini. Tentunya institusi Kepolisian Republik Indonesia wajib memohon maaf kepada HRS secara terbuka yang disaksikan publik dari Sabang hingga Merauke. Sekaligus merehab nama baik HRS yang telah tercemar oleh isu murahan seputar chat porno tersebut.

Pada sisi lain, timbul pertanyaan; mengapa pula fihak HRS tidak mengugat Kapolri sebagai penanggung-jawab institusi kepolisian? Deliknya karena telah mengangkat kasus chat porno yang konon tidak terbukti dilakukan HRS, namun telah menyebar menjadi isu nasional dan santapan berita yang sangat laris ditelan oleh seluruh media yang eksis di republik ini.

Alasan bahwa HRS takut terhadap institusi aparat kepolisian, sangat lemah dijadikan alasan. Karena terhadap presiden saja keberanian mengkritik dan melakukan serangan terbuka sangat berani dilakukan oleh HRS. Dengan kata lain, HRS tidak takut bila harus dipenjara sekali pun, demi menyuarakan kebenaran. Sehingga timbul pertanyaan; kasus chat porno ini sebuah kebenaran atau kebohongan? Nah, keberanian untuk menggugat dan memperkarakan fihak kepolisian inilah yang dinanti publik.

Tentunya bila chat porno ini memang benar hanyalah sebuah rekayasa politik yang sengaja digelontorkan untuk menjatuhkan nama besar HRS. Hal yang sangat luar biasa kejam dan biadabnya menjebloskan seorang imam besar ke dalam kubangan perilaku mesum seperti terpapar dalam chat mesum tersebut. Oleh karenanya, HRS sebaiknya cepat pulang dan melakukan gugataan dan tuntutan untuk menyeret Kapolri ke meja hijau. Agar semuanya menjadi terang benderang dan tidak ada lagi dusta di antara kita.

Bila nanti pulang dan hanya mendiamkan hal ini tanpa tuntutan, dan malah menggelar berbagai perhelatan yang hanya menambah kegelisahan dan ketakutan baru di kalangan masyarakat luas, saya sangat mendukung bila Yang Mulia Imam Besar memutuskan untuk tetap berada di Tanah Suci. Dan masyarakat pun sebaiknya tidak perlu lagi melontarkan pertanyaan; Kapan HRS pulang?

KOMENTAR
Tags
Show More
Close