Catatan Ringkas 49 Tahun “Bersama” Gus Mus van Rembang 

Gus Mus Memang Kiai Nyentrik 

Gus Mus Memang Kiai Nyentrik 

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani 

“Oh, paket dari Gus Mus?” 

DEMIKIAN gumam bibir saya, kemarin, Jumat 10 September 2021. Saat itu, saya mau menuju ke masjid.  Untuk melaksanakan shalat Jumat. Ketika saya membuka pintu rumah, ternyata di situ ada bungkusan paket. Kemudian, ketika saya baca pengirimnya, saya pun melongo dan bergumam, “Gus Mus, kok repot sanget.” 

Selepas pulang dari masjid, paket itu pun saya buka dengan hati-hati, karena pada bungkusan paket itu  tertulis: isi makanan. Benar saja, ternyata, isinya makanan dan sirup kondang dari Rembang, Jawa Tengah, sirup  kawis. Kemudian, malam harinya, saya lagi-lagi mendapat kiriman makanan dan sirup dari Gus Mus. Kiriman  teraakhir itu dibawa saudara sepupu dan menantu saya yang baru saja datang dari Rembang. “Duh, Gus Mus.  Matur nuwun sanget, Gus. Kiriman luar biasa. Jazâkumullâh ahsanal jazâ’, Gus.” 

Gus Mus, tentu kita tahu. Beliau adalah seorang kiai yang sastrawan dan budayawan asal Desa Leteh,  Rembang, Jawa Tengah yang tidak kenal letih dalam berdakwah lewat gaya-gayanya yang khas. Gaya berdakwah  kiai yang pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin, Rembang, Jawa Tengah, di samping juga seorang  penyair, novelis, pelukis, dan cendekiawan Muslim ini benar-benar menyejukkan hati dan pikiran. Tidak aneh  jika saya kerap mengintip dan menyimak tanpa kulo nuwun facebook kiai yang kerap mendapat sebutan “Kiai  Klelet” (klelet adalah endapan nikotin rokok yang menempel di pipa) serta lahir pada Kamis, 20 Sya‘ban 1363  H atau 10 Agustus 1944 M dalam lingkungan kiai ini. 

Sambil menikmati makanan kiriman Gus Mus, segera saja bayang-bayang Kota Rembang dan sosok Gus  Mus mengisi benak saya. Kota Rembang, sebuah kota di tepi pantai Laut Jawa dan terletak di antara Kota Juwana  dan Lasem, telah saya kenal sejak kecil. Ingatan pertama saya tentang kota itu adalah saat saya ikut rombongan  keluarga K.H. Usman, Cepu (kakek saya) yang datang ke kota itu untuk menikahkan paman saya dengan putri  seorang kiai (keluarga Gus Mus) di kota itu pada awal tahun 1960-an. Selepas itu, antara 1965-1971, saya hampir  tiap tiga bulan menginap di rumah orang tua dua sahabat asal kota itu yang bersama-sama saya menimba ilmu  di Kudus dan Yogyakarta. Saya menginap di rumah itu setiap kali saya mau pulang dan liburan di Blora. Di rumah  orang tua saya.  

Kemudian, ketika saya sedang menikmati isi kiriman makanan dan sirup dari Gus Mus tersebut, tiba-tiba  benak saya “melayang-layang”. Ya, melayang-layang ke sekitar tahun 1972. Ya, 1972, sekitar 49 tahun yang lalu  dan teringat perbincangan yang terjadi puluhan tahun lalu itu, tentang Gus Mus. Perbincangan itu berlangsung  di dapur lantai 2 Gedung E Pesantren Krapyak, Yogyakarta, sambil menanak nasi dan menyiapkan sambel terong  bakar. Saya ketika masih sebagai santri Pondok Pesantren Krapyak.  

Kala itu, saya sebagai khâdim yang tinggal satu gotakan (ruangan) dengan Gus Adib Allah yarham (adik Gus  Mus) dan seorang paman saya yang kemudian menetap dan berpulang di Amerika Serikat. Sedangkan di gotakan  sebelah tinggal, antara lain, Kang Said Aqil Sirodj (kini menjadi Ketua Umam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama),  Kang Fahim Royandi Allah yarham (seorang kiai Pesantren Buntet, Cirebon), dan Mas Muhammad Suud, kini  mengajar di perguruan tinggi di Yogyakarta. 

Sambil menanak nasi dan menyiapkan sambal terong bakar, saya bertanya kepada Gus Adib, “Gus Adib.  Gus Mus kayaknya nyentrik, ya?” 

“Mengapa begitu?” 

“Lihat saja gaya Gus Mus ketika masih sebagai mahasiswa dan berfoto di Kairo. Seperti yang ada di tiga  album Gus Mus yang Gus Adib bawa dari Leteh. Melihat gaya Gus Mus berfoto, pantesnya Gus Mus menjadi  aktor. Gayanya menarik. Gus Mus memang nyentrik pol!” 

“Nanti akan sampaikan kepada masku itu: Bang Rofi’ usul, masku itu jadi aktor saja. Bukan menjadi  kiai....hehehe.” 

“Oh, jangan, Gus Adib. Nanti saya kualat...”

Eh, tidak lama selepas membincangkan Gus Mus tersebut, beliau datang ke gotakan kami untuk menghadiri  acara haul K.H. Moenawwir, pendiri Pondok Pesantren Krapyak. Melihat Gus Mus, hati saya berdebar-debar.  Antara takut kualat dan senang sekali dapat bertemu dengan Gus Mus. Namun, selepas lama berbincang, saya  merasa beliau tidak menakutkan. Malah, beliau suka bercanda ala para kiai. “Alhamdulillah,” gumam bibir saya, “Saya dapat bertemu dengan kiai yang fasih berbahasa Arab dan Inggris serta penulis sederet buku itu, antara  lain Proses Kebahagiaan, Pokok-Pokok Agama, Saleh Ritual, Saleh Sosial, Pesan Islam Sehari-hari, Ohoi,  Kumpulan Puisi Balsem, Tadarus Antologi Puisi, Pahlawan dan Tikus, Rubaiyat Angin dan RumputWekwekwek, dan Canda Nabi & Tawa Sufi. Kiranya Allah Swt. memberikan kesempatan kepada saya untuk  menimba ilmu di Kairo. Seperti Gus Mus.”  

Kemudian ketika saya ditakdirkan Allah Swt. menjadi mahasiswa di Kairo, 1978-1984, saya pun berusaha  mencari berbagai lokasi yang menjadi tempat-tempat “klangenan” Gus Mus berfoto. Tampaknya, tempat foto  yang paling favorit “Kiai Klelet” yang lahir Kamis, 20 Sya‘ban 1363 H/10 Agustus 1944 M itu ketika berfoto di  Kairo adalah di depan pintu utama gedung Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kairo. Di situ, seingat saya, Gus  Mus berfoto dengan berbagai pose yang nyentrik. Selain itu, beliau juga suka berfoto di kantor Persatuan Pelajar  Indonesia, di Mansour St., Bab El-Louk. “Gus Mus memang nyentrik. Pantesnya beliau memang menjadi bintang  film atau budayawan saja, di samping menjadi kiai,” gumam pelan bibir saya kala melihat lokasi-lokasi itu.  

Kenyentrikan itulah, mungkin, yang membuat saya tidak dapat mengikuti jejak langkah kiai yang pernah  belajar di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir yang beliau rampungkan pada 1390 H/1970 M dan seusai menimba  ilmu di negeri orang lantas kembali ke kota kelahirannya untuk ikut menangani pondok pesantren, selain juga  aktif berorganisasi di Nahdlatul Ulama sehingga mengantarkannya menjadi Rais Syuriah Pengurus Besar  Nahdlatul Ulama. Selain saya hingga kini tidak pantas menjadi kiai seperti beliau, saya juga tidak memiliki bakat  sama sekali untuk menjadi budayawan dan tokoh yang nyentrik. Meski demikian, saya senantiasa mengagumi  beliau. Di sisi lain, sejak itu hingga kini, hubungan saya dengan kiai yang memberikan sambutan ketika ayah saya  berpulang terjalin akrab.  

Sebagai rasa terima kasih atas kiriman makanan dan sirup khas Rembang itu, saya pun berdoa, “Ya, Allah,  kiranya Engkau senantiasa mengaruniakan ridha, keberkahan, kasih sayang, dan cinta-Nya kepada Gus Mus,  allâhumma âmîn.” 

Matur nuwun, Gus Mus.