Gus Dur dan Palestina: Ikhtiar yang Terputus

Gus Dur dan Palestina: Ikhtiar yang Terputus
Gus Dur

DI ERA Gus Dur, aksi solidaritas ini digelar dengan berbagai cara: baik melalui aksi Malam Solidaritas Palestina, 1982, yang digelar bersama para penyair seperti Subagyo Sastrowardoyo, Sutardji Calzoum Bachri, D. Zawawi Imron, Taufik Ismail, Abd Hamid Jabbar, Gus Mus, dan lain sebagainya, maupun menggiatkan kembali pembacaan qunut nazilah bagi warga Nahdliyyin. Bahkan Gus Dur kemudian sempat menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta sekaligus Ketua Umum PBNU.

Tahun 1994, Gus Dur menghadiri undangan menyaksikan penandatanganan perdamaian antara Yordania dengan Israel. Hal ini kemudian mempengaruhi cara pandangnya, yaitu bahwa perdamaian bisa diwujudkan apabila ada iktikad baik kedua belah pihak. Sejak ada Perjanjian Camp David antara Mesir-Israel, 1978, maupun perjanjian Oslo, 1993, yang mengakui adanya Otoritas Palestina, maupun perjanjian antara Yordania-Israel di tahun 1994, tampaknya Gus Dur memilih pola win-win solution dalam melihat masalah Palestina dan Israel ini.

Di era Gus Dur sebagai presiden, kunjungan ke Yordania merupakan prioritas pertama dalam lawatan ke Timur Tengah. Sebab, selain bertemu dengan Raja Abdbullah II, Gus Dur juga menemui Yassir Arafat di Amman. Presiden Gus Dur menyatakan dukungannya terhadap kemerdekaan Palestina dan perdamaian di Timur Tengah.

Di kemudian hari, ketika bertemu dengan Presiden Palestina Yasser Arafat, dalam sebuah kunjungan kenegaraan resmi ke Indonesia (16/8/2000), Presiden Gus Dur selaku Kepala Negara menegaskan bahwa Indonesia terikat kepada keputusan yang dulu, yaitu bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan hak untuk mencapai perdamaian di Palestina ada di tangan rakyat Palestina sendiri.

“Yang dalam hal ini tentu diwujudkan dalam bentuk keputusan-keputusan atau konferensi OKI, PBB, dan lain-lain,” ujar Presiden Gus Dur saat jumpa pers bersama Yasser Arafat.

Baca Juga

Bagi Gus Dur, mewujudkan perdamaian di wilayah Palestina bisa dimulai dari kiprah Indonesia sebagai juru damai kedua belah pihak. Sebagai juru damai, Indonesia harus bisa dipercayai oleh Palestina maupun Israel untuk menjadi penengah. Langkah ini sudah dimulai oeh Gus Dur, antara lain dengan menjadi anggota Simon Peres Foundation, Israel. Sebuah langkah strategis yang sebenarnya bisa menjadi jembatan antara Yerussalem dan Tel Aviv.

Demi mewujudkan perdamaian dan kemerdekaan Palestina, di tengah kondisi kesehatan yang tidak stabil, Gus Dur mengunjungi Jalur Gaza pada 20 Desember 2003. Di kota kecil ini, Gus Dur diminta berpidato.

Cucu Hadratussyekh Hasyim Asy’ari ini mulanya berpidato dalam bahasa Inggris, karena beberapa senator AS dan pemimpin agama dari berbagai negara serta wartawan asing yang meliput. Namun, pidato bahasa Inggris ini kemudian diulang oleh Gus Dur dalam bahasa Arab dengan fasih diikuti kesan-kesan Gus Dur terhadap kota Gaza dan harapannya atas rakyat Palestina. Dalam pertemuan yang digelar di hotel sederhana di Gaza itu, Gus Dur menyerukan kemerdekaan bagi berdirinya sebuah Negara Palestina dan keadilan bagi seluruh rakyatnya.

Dalam kolom yang berjudul “Arti Sebuah Kunjungan”, yang berisi kesan dan pesan Gus Dur saat di Jalur Gaza, beliau memberi kritik terhadap para elit Palestina yang sering bertengkar dan memilih strategi perjuangan yang berbeda dan tidak seiya sekata, sekaligus memberi contoh kenegarawanan Bung Hatta saat berdiplomasi dengan Belanda di Konferensi Meja Bundar.

Meski mengkritik elit Palestina (dan Israel), Gus Dur menggarisbawahi perjuangan dan kegigihan rakyat Gaza melawan senjata modern Israel, “Bagi penulis, Gaza adalah sumber perlawanan terhadap penjajahan, dan alangkah indahnya jika perlawanan itu tidak hanya mengambil bentuk fisik saja, melainkan juga perlawanan kultural terhadap keadaan.” tulis Gus Dur dalam kolomnya tersebut.

Lantas bagaimana memulai inisiatif mempertemukan kubu Palestina dan Israel? Ahmad Suaedy, pimpinan Wahid Institute, menyatakan bahwa dirinya pernah mendampingi seorang pejabat senior Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (AS) bidang advokasi Anti-Semitisme untuk kawasan Timur Tengah, yang juga seorang Yahudi, untuk bertemu Gus Dur di kantor PBNU. Diplomat itu lalu bertanya: “Apa sebaiknya yang harus dilakukan untuk mencapai perdamaian Israel – Palestina saat ini?”

“Tegakkan keadilan dan berikan hak-hak Palestina kepada mereka, baru bicarakan perdamaian!!.” jawab Gus Dur tegas.

Lahul Fatihah