FeaturesInternasional

Gulen Biang Kemarahan Turki Ke AS

ANKARA (SenayanPost.com) – Sejak tindakan kudeta gagal yang dilakukan sekelompok militer Turki pada (15/7/2016) lalu, pemerintah Turki di bawah kepemimpinan Recep Tayyeb Erdogan melancarkan pembersihan besar-besaran dalam tubuh militer, lembaga negara, universitas, sekolah, serta media.
Erdogan menuding Fethullah Gulen sebagai dalang dari kudeta militer itu. Dikutip dari reuters, Menteri Kehakiman Turki Bekir Bozdag menyatakan rasa benci kepada Amerika Serikat hanya bisa reda jika Washington memulangkan Fethullah Gulen, ulama Turki yang menetap di Pennsylvania, AS.
“Ada rasa tak suka AS yang besar di Turki bisa berubah menjadi kebencian. Semuanya di tangan AS untuk menghentikan hal ini,” kata Bozdag kepada stasiun televisi Anadolu.
“Keputusan ekstradisi Gulen adalah hal politis. Jika tidak, maka Turki akan dijadikan korban untuk seorang teroris,” kata dia kepada Reuters.
Dalam menanggapi permintaan ekstradisi itu, Washington menegaskan bahwa Ankara harus memberikan bukti kuat keterlibatan Gulen dalam percobaan kudeta tersebut.
Hubungan Amerika Serikat dengan Turki yang memburuk juga menular ke Uni Eropa. Beberapa negara anggota kelompok itu bereaksi keras atas pembersihan oleh Ankara terhadap para terduga pelaku upaya kudeta.
Denmark menyebut tindakan Erdogan tidak demokratis. Austria mengancam akan menghalangi masuknya Turki ke Uni Eropa jika negara tersebut kembali memberlakukan hukuman mati.
Dalam menanggapi hal tersebut, Menteri Urusan UE, Omar Celik mengatakan, pihaknya akan berhenti menerapkan kesepakatan tentang pendatang dengan UE jika kelompok tersebut tidak memberi kejelasan kapan warga Turki dapat mengunjungi Eropa tanpa visa.
Dalam wawancara dengan televisi Haberturk, Celik menyatakan bahwa permintaan UE agar Turki mengubah undang-undang terorisme – yang menjadi kunci masuknya Ankara ke dalam blok UE – justru akan membahayakan keamanan benua tersebut.
Kesepakatan migran UE dengan Turki telah berhasil mengurangi jumlah pengungsi dan pendatang ke benua biru yang pada tahun lalu mencapai 1,3 juta orang.
Di tengah buruknya hubungan dengan UE dan AS, Turki berhasil mendapatkan sekutu baru di Rusia. Pejabat tinggi Ankara menyebut pertemuan Erdogan dengan Putin pada Selasa (9/8/2016) berlangsung dengan “sangat positif.”
Putin berharap hubungan kedua negara kembali normal setelah sempat tegang akibat penembakan jet tempur Rusia di perbatasan Suriah oleh Turki, November 2015. (ZSR)

KOMENTAR
Tags
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close