Opini

Gondes Forever: Misscomm

MENURUT kamus gondes, “komunikasi” berasal dari kata dasar “muni”, yang artinya “berbunyi”. Pre-word “ko” bermakna “bersama”, dan after-word “kasi” berarti “memberi”. Jadi arti keseluruhannya, “bersama memberi bunyi.” Bahasa gawulnya, “saling mengunek-unekkan“. Bahasa Jawanya cekak aos, “padu!” Wis, ngono wae..

Tak heran, di daerah yang well-communicated, suasananya pasti berisik maksimal. Lha wong akeh wong padu je… Sumber perkaranya kadang tidak pakra: rebutan kursi, sega, gedhang, gendhakan, kucing, receh, sampai rebutan bener. Hla ya itu, pengin dianggep bener saja berebut sampai jotosan. Trus benere nggon ndi yen ngono kuwi, ndes?

Tapi jangan dikira, keriuhan itu hanya terjadi di kota. Di desa pun, jika malam hari penuh dengan muni-munian. Ada suara kodhok, bangkong, jangkrik, gangsir, orong-orong, belalang, dan koleganya. Semua saling berbalas. Berisiknya dapat, tapi ya cuma dapat riuhnya doang. Maknanya lusut, he he he..

Namanya juga ndesit, wajar jika desaku nyaris merdeka dari media komunikasi. Radio, TV, koran, gak ada yang berani menjajah. Maksudnya, menjajah desa milang kori. Maka satu-satunya (eh, dua ding) saluran komunikasi yang paling efektif hanyalah kentongan dan kacang. Kacang-kem sampean… Hua ha ha!

Saat itu, selain bathol-kopoh (perangkat pemadam kebakaran tradisional), semua warga wajib punya kentongan lengkap sak thuthuknya. Boleh model b (dari bambu) atau c (dari cayu). Yang penting, pemiliknya harus hafal luar kepala ringtone beserta artinya!

Tutorial nuthuk kenthongan memang sudah tersebar di seluruh gardu, rumah perangkat desa, bahkan masuk kurikulum sekolah. Tapi tetap saja ada yang lupa bahwa ringtone kentongan berdasarkan kadar kegawatannya adalah:

Satu-satu, pembunuhan.
Dua-dua, pencurian.
Tiga-tiga, kebakaran.
Empat-empat, bencana alam.
Lima-lima, hewan hilang.
Titir panjang, aman kembali.

“Kalau saat banjir, ndelalahnya rumahnya kebakaran, lantas ada orang jahat mencuri wedhusnya, karena konangan maka tuan rumah dibunuh, gimana tuh mukul kentongannya?” tanya Mingan serius.

“Ndeeehh… Ya gak usah mukul kenthongan, Ngan,” jawabku.

“Looh, kok gitu?”

“Kan tuan rumahnya dah almarhum.”

“Iya ding. Tapi mosok saudaranya gak ada yang tahu?” kejar Mingan.

“Ya kamu sebagai saudaranya, terserah mau mukul kentongannya gimana?”

“Kok saya?”

“Iya. Kalau bukan saudaramu, mana mungkin apesnya tumpuk-undhung begitu. Kena musibah kok rapelan!” sungutku.

Mingan nyengir.

“Lah, kalau kehilangan rasa yang pernah ada, gimana tuh mukul kentongannya?” tanya Lehun.

“Gak usah dipukul. Didheplok saja kenthongannya, dikasih cabai, lalu dibrakoti sambil nangis,” sambar Mingan.

Bwa ha ha ha.. koplak!

Selain kentongan, kacang.. eh, cangkem, adalah alat komunikasi paling diandalkan orang desa. Saking pentingnya esensi pabrik kalimat ini, sampai-sampai ada perangkat desa yang tugasnya khusus ngurusi percangkeman.

“Nama jabatannya Bayan. Itu bahasa Arab, yang artinya menjelaskan atau membuat orang lain mengerti. Maka tugas Pak Bayan adalah melakukan penerangan,” jelas Carik Sinuk.

“Oowwh… jadi kayak ting atau teplok itu ya?” tanya Jembluk polos.

“Ho oh. Benar sekali. Nanti teplok sama tingnya sekalian untuk nylomot bathukmu!” bentak Carik sewot.

Jembluk garuk-garuk kepala, “Lho.. salahku apa?” ujarnya tak mengerti.

Kami hanya terkekeh-kekeh mentertawakan kepekokan Jembluk. Sambil mikir juga, kalau ada tugas penerangan berarti ada tugas penggelapan dong? He he he.. kok aku dadi melu pekok, piyitikih?

Sayangnya, komunikasi getok tular dari mulut ke mulut banyak noise-nya. Seperti info yang menimpa Kotot. Berita aslinya, “Kotot mau ngasih minum kuda. Saat nimba embere kejegur sumur. Kudanya kaget, lari masuk dapur.”

Gak tahunya info itu bikin geger wong sak desa. Semua berlarian ke sumur Mbah Manten. Karena saat digetok-tularkan, infonya berubah menjadi, “Kotot kejegur sumur, dipancal kuda. Timbanya mencelat sampai ke dapur, menimpa air minum!”

Bwa ha ha ha.. Sapa sing salah yen ngene iki, ndes? Mosok jarane?

Kentongan juga bisa selegenje. Saat kandang sapinya terbakar, Kang Tarsono langsung menyambar kentongan dan memukul tanda bahaya. Tetangga alih-alih membawa bathol, kopoh dan ember, mereka malah berdatangan membawa senjata lengkap.

“Malingnya mana, Tar?!” tanya Kang Sopari dan Kang Darsi gedandapan.

“Bukan maling, kobongan!” jawab Kang Tarsono sambil menunjuk kandang yang sedang membara, dilalap api beserta sapi di dalamnya.

“Woooh, lha kok ngentongmu dua-dua!”

“Lupa je..,” jawab Kang Tarsono ndhredheg dengan muka sedih campur njuwowos.

Telaaat. Sapi sudah telanjur jadi sapi guling. Duuhh.. barbekyu bumbu air mata yen iki, ndesss…

Itu belum termasuk kesalahan verbal kecil-kecilan tapi fatal. Seperti Pak Bayan salah info hari slametan merti desa, yang membuat bapak menjadi satu-satunya orang yang tidak membawa tumpeng! Salah sebut nama pengantin laki-laki yang ternyata nama mantan pengantin perempuan. Orang masih segar-bugar diumumkan meninggal. Wis, uakeh kasuse pokoke!

Maka bapak ngacungi jempol sambil manggut-manggut ketika Lik Osin usul agar tiap rumah kadus dihubungkan dengan interkom. “Untuk koordinasi biar tidak misscom!” ujar Lik Osin.

Gak pake lama, kawat bendrat sebagai jalurnya segera dipasang. Yang terjauh adalah kadus Limbangan dan Karangjambe, harus ngolor bendrat sejauh empat kilometer melalui sawah, ladang dan sungai. Wedyan tenan, ndes! Tapi namanya orang lagi pengin, ya dijabani. Gak sampai dua hari, instalasi jalur pun kelar.

Sejak itu, sapaan ala breaker seperti: brik, rojer, korek, dikopi, alfa, bravo, charlie... pun memenuhi rumahku. Bahkan laiknya breaker sejati, bapak punya callsign (CS) Eyang CB, kependekan dari central berita. Carik CS-nya Charlie. Saya pun tak ketinggalan, punya CS Golf, dan dik Yuli CS-nya Juliet. Jiaan.. nggaya tenan!

Gak siang, gak malam, pesawat interkom bertenaga aki itu pun nglenggeng tiada henti. Tapi yang berceloteh kebanyakan malah anak-anak dan saudaranya perangkat. Sementara para perangkatnya sendiri pada gaptek. Kalau disuruh bicara di interkom malah blangkemen, gak keluar suaranya!

Pernah bapak mengadakan rapat melalui interkom. Maunya sih mendapatkan masukan tentang kondisi terkini di setiap dusun. Tapi para kadus hanya bisa ngomong “nggih” dan “mboten”. Akhirnya ya rapat berteknologi tinggi itu bubar jalan tanpa hasil. Ahi hi hi…

Sore itu the mendhung is ngrembuyut. The lesus is midhit. The grimis is tlethik. And the gludhug is jlegar-jlegur. Jelas bukan waktu ideal untuk main interkom. Baru saja mau mencabut koneksi ke bendrat, bapak mencegah.

“Sik.. aku tak ngomong sebentar sama Bau (Kadus) Limbangan. Penting!”

“Wah, ngati-ati lho, pak. Lagi banyak petir!” ujarku mengingatkan.

“Dhiluk wae kok!” kata bapak sambil mengambil-alih interkom yang kupegang.

“Brik, brik. Lima Bravo (Limbangan) monitor?” tanya bapak.

“Korek, dikopi!” jawab pak Lima Bravo.

Weeeh kemajuaaan. Wis isa ngomong korek dikopi!

“Sip. Bisa diinfo kondisi Lima Bravo saat ini?” sambung bapak.

Sebelum ada jawaban, tiba-tiba secercah sinar berkedip terang di kejauhan. Bapak tersentak kaget. Interkom yang ia pegang dilempakannya ke lantai.

“Waduuh.. samber bledhek!” kata bapak sambil memegang rambutnya yang ujug-ujug njegrag.

Saya hanya bisa tertawa, sambil membantu merapikan rambut bapak yang berbunyi prekitik-prekitik saat kupegang.

Untunge bledheke mung thithik. Hanya pesawat intercomnya yang jebol. Orangnya utuh..

He he he.. ya gini ini kalau misscomm.. grimis-grimis main intercom…😃

(To be GoFinued)

Oleh Nursodik Gunarjo

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close