Opini

Gol-gol Jokowi ke Gawang Prabowo

MELIHAT debat malam ini antara Prabowo versus Jokowi, saya seperti melihat pertandingan sepakbola antara Liverpool versus kelas tarkam.

Gol-gol yang diciptakan Jokowi ke gawang lawan sampai sulit dihitung saking banyaknya. Prabowo terlihat sangat kerepotan sehingga seperti berencana menyerah di tengah pertandingan.

Awal permainan kedua kandidat terlihat grogi. Jokowi tampak tidak menguasai presentasi, karena memang dia bukan ahli retorika. Dia terpaku pada data. Sedangkan Prabowo mencoba memainkan retorika dengan miskin data. Tapi juga tidak berhasil karena malah omongannya mutar-mutar membingungkan.

Jokowi baru berhasil menguasai lapangan, ketika dia menjawab pertanyaan Prabowo dan ia melakukannya dengan elegan. Jokowi malah menjadi seperti dosen yang sedang menguliahi mahasiwa tingkat pertama.

Apalagi ketika topik debat masuk ke ranah pertanian dengan teknologi ke depan. Jokowi malah mengajarkan dasar-dasar teknologi internet seperti marketplace, fintech dan peer to peer lending. Sedangkan Prabowo malah seperti pengen balik ke acara Kelompencapir.

Jujur, melihat Jokowi saya seperti melihat Presiden di era Youtube, sedangkan Prabowo seperti pembaca berita TVRI.

Dan ketika Jokowi bertanya tentang “Unicorn”, Prabowo langsung gagap karena sejatinya dia gaptek berat. Dia malah balik bertanya dengan berbisik pelan, “Unicorn itu yang kuda bertanduk satu itu ya ?” Belum selesai dia balik lagi bertanya, “Unicorn itu yang online2 itu ya ?”.

Jokowi jelas tersenyum, karena dia paham betul bagaimana teknologi itu sebab dia sedang menyelesaikan project besar Palapa Ring infrastruktur internet yang akan merubah wajah Indonesia ke depan.

Gol paling telak Jokowi adalah ketika ia menelanjangi Prabowo terhadap kepemilikan tanahnya yang seluas 340 ribu hektar. Dahsyat memang. Jakarta saja hanya seluas 66 ribu hektar.

Prabowo langsung diam, tidak mampu menjawab. Seperti kiper yang mati langkah saat tendangan pisang Moh Salah menipu pandangan dan menjebol keras gawang.

Mati kutu. Bengong. Pucat. Dan bibirnya gemetar menahan marah.

Debat kali ini Jokowi sangat lepas, seperti menari tanpa batas. Dia paham semua materi, karena setiap hari dia mengawasi detail by detail tanpa ada yang terlepas. Dan Prabowo seperti anak mahasiswa yang baru masuk sekolah, berusaha melahap semua masalah, tapi yang terjadi banyak salah langkah.

Bahwa dia akhirnya gak joged-joged untuk melepaskan gelisah, itu sudah okelah. Itu juga mungkin karena tukang pijitnya tidak ada..

Dari debat itu keputusan saya semakin kuat. Jika ingin negeri ini maju dalam persaingan global ke depan, pilihlah Jokowi.

Tapi jika negeri ini ingin kembali ke era 80an, dengan acara TVRI seperti “dari desa ke desa” dan “manasuka siaran niaga” ya silahkan pilih Prabowo, sebagai bagian dari nostalgia.

Seruput kopinya..

KOMENTAR
Tags
Show More
Close