Catatan dari Senayan

Gol Bunuh Diri TGB

KETIKA Pak Zainul Majdi, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) aktif menyokong dan hadir dalam benerapa kali aktivitas demonstrasi, termasuk Aksi 212 di Monas Jakarta, Nama Pak Gubernur NTB yang akrab disapa Tuan Guru Bajang alias TGB dielu-elukan oleh komunitas 212. Bahkan TGB dijadikan salah satu kandidat Presiden atau Wakil Presiden.

TGB yang muda, cerdas, dan alim itu menjadi idola dan panutan ratusan ribu bahkan jutaan muslim Indonesia. Keberhasilannya memimpin NTB hampir satu dekade tak diragukan lagi. Keulamaannya pun tak perlu dipertanyakan. Dia adalah hafiz, alias penghafal seluruh 30 juz Alquran. Tidak banyak jumlah hafiz di Indonesia. Apalagi dia adalah “darah biru”, ayahnya ulama berpengaruh dan pemimpin Nahdlatul Wathan, organisasi Islam terbesar di NTB.

Pendek kata, TGB adalah ikon besar perpaduan antara umara dan ulama yang arif dan ternama. Keberadaannya sebagai ulama sungguhan di tengah banyak ulama 212 sangat menonjol dan menjadi kebanggaan komunitas 212 yang identik dengan kelompok “oposisi”. TGB juga unik sebagai gubernur, pembantu Presiden yang berada di barisan yang selalu kritis terhadap pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Walaupun secara pribadi sebenarnya TGB tidak pernah secara terang-terangan menyatakan berseberangan degan Presiden Jokowi, toh karena posisinya itu cap sebagai oposan sulit dielakkan. Wajar kemudian komunitas 212 menjadikannya sebagai calon Presiden atau wakil Presiden yang akan berhadapan dengan Jokowi dalam pemilihan Presiden pada 2019 mendatang.

Maka ketika pada pekan lalu TGB menyatakan bahwa dirinya mendukung Jokowi sebagai Presiden RI untuk dua periode, maka jagad 212 dan masyarakat pada umumnya “geger kepati”. Banyak yang menyambut pernyataan itu dengan suka cita, terutama bagi para pendukung Jokowi. Bagi komunitas 212 itu bak petir menyambar di siang bolong. Walaupun banyak di antara mereka yang pura-pura tak terkejut. Misalnya Bachtiar Nasir, salah satu tokoh dari komunitas 212 menyebut pernyataan TGB itu adalah “hasil ijtihad TGB”.

Prabowo Subianto rival Jokowi dalam Pilpres 2014 dan kemungkinan kembali menjadi rival Jokowi dalam Pilpres 2019 mencoba merespon dengan tenang pernyataan TGB itu. Dia menyebut pernyataan itu hak TGB dan TGB hanyalah satu dari masyarakat Indonesia yang jumlahnya dua ratus juta lebih. Jadi Prabowo menganggap pernyataan TGB biasa-biasa saja.

Secara keseluruhan, sesungguhnya komunitas 212 merasa kecolongan apa yang dilakukan TGB itu. Mereka sangat terpukul dengan pernyataan TGB itu. Saya bahkan menggambarkan kekecewaan mereka bagai pemain sepak bola yang memasukkan bola ke gawang kesebelasannya sendiri, alias gol bunuh diri. Dan “gol bunuh diri” itu dilakukan TGB dengan tenang tanpa kepanikan. Kenyataan itu yang semakin meruntuhkan moral mereka untuk melanjutkan pertandingan. Apalagi pernyataan TGB keluar pada momentum yang tepat bagi lawan dan tidak tepat bagi komunitas 212.

Wajar kalau kemudian muncul berbagai hujatan, cemooh, dan beraneka tudingan yang dialamatkan kepada TGB. “Plin plan lah, kecewa terhadap Partai Demokrat pengusung TGB sebagai Gubernur, cari selamat,” dan sebagainya. Semuanya terasa menyakitkan. Tapi TGB tetap bersikukuh dengan pendiriannya.

“Tidak mungkin menyenangkan semua orang,” kata TGB menanggapi pernyataan komunitas 212.

Sebagian lagi masyarakat Indonesia, termasuk penulis, menilai sikap TGB yang mendukung Jokowi menjadi presiden dua periode adalah hal yang realistis. Bukankah TGB juga sudah menyatakan hal semacam itu. Biar saja banyak yang menganggap TGB memasukkan gol bunuh diri, tapi banyak juga yang menganggap TGB membuat gol yang sangat indah. Bagaikan gol-gol yang dicetak Ronaldo, Messi, Neymar, Mbappe, dan lainnya dalam Piala Dunia yang tengah berlangsung.

Salam.

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close