Getar, Gentar, Gemetar

Getar, Gentar, Gemetar
Ahmad Erani Yustika

Oleh: Ahmad Erani Yustika

KEAJAIBAN apa yang membuat orang sanggup mengucap komitmen genting, misalnya akad pernikahan, dalam hidupnya? Banyak orang yang menjawab: cinta. Namun, bagaimana membuktikannya? Joyce Brothers menukas: "The best proof of love is trust.” Celakanya, Shakespeare mengingatkan sejak dini agar manusia mencintai semuanya, namun cukup percaya kepada sedikit orang saja: love all, trust a few, do wrong to none. Jadi, betapa rumitnya ikrar pernikahan: keputusan memilih atas sedikit orang yang layak dipercaya. Modalnya adalah getar.

Untungnya manusia tak cuma dipinjami akal, tapi juga diberi hati sebagai bekal. Ilmu ekonomi membangun model sebagai alas keputusan. Jika seseorang dalam rentang waktu tertentu selalu terlambat hadir rapat, maka jangan pernah melakukan transaksi dengannya. Basisnya adalah data dan pola. Sepenuhnya ketetapan disandarkan kepada akal. Bagaimana bila keputusan harus dibikin gegas dengan orang yang baru dikenal? Sumbernya ialah keyakinan: derajat ekspektasi untuk sedikit mengabaikan risiko. Di sini hati menjalankan aksi dengan keluar dari laci. 

Begitulah barangkali deskripsi mula dari perjalanan panjang perkawinan: dekrit yang hampir selalu dibuat dengan gentar. Jika ada 10 juta pernikahan, maka juga tersembul 10 juta pola keputusan yang tidak pernah sama. Tetapi, ritual itu seluruhnya punya basis yang mirip: keyakinan yang ditegakkan dari ekspektasi. Kisah tak berhenti di situ, sebab yang paling membuat gemetar adalah saat menjalani. Pada babakan ini pertempuran antara kebenaran dan kepalsuan hilir mudik nyaris tiada henti. Jadi, inilah episodenya: getar, gentar, gemetar.

Santosh Kalwar memberi tips ringkas merawat kepercayaan: trust starts with truth and ends with truth. Resep ini sederhana diucapkan, tapi pelik diamalkan. Riwayat manusia adalah tumpukan kealpaan ketimbang ingatan, ujar Milan Kundera. Paling mungkin adalah menunaikan titah Rumi: "Yesterday is gone and its tale told. Today new seeds are growing." Sesap masa lalu, tanam benih baru. Pupuk dan siram dengan hasrat dan harapan tiap pagi. Itulah yang kami lakukan selama 20 tahun. Kemarin dimaafkan, hari ini dirayakan, esok diperjuangkan.

* Prof. Ahmad Erani Yustika, Guru Besar FEB Universitas Brawijaya, Malang.