Nasional

Genosida dan Modernitas dalam Bayang-Bayang Auschwitz

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Dalam hal hilangnya nyawa manusia dan harta benda, apa yang terjadi pada Perang Dunia Kedua (1939-1945) sangatlah mengerikan.

Nyawa manusia yang jutaan jumlahnya lenyap begitu saja, harta benda yang tak ternilai harganya hancur luluh-lantak tiada tara. Duka-derita yang tak tertanggungkan melanda hampir seantero Benua Eropa, sebagian Benua Afika, berikut Benua Asia.

Di Eropa sendiri, selain besarnya jumlah orang yang tewas sebagai akibat langsung dari konflik perang, besar pula jumlah orang yang menjadi korban pembunuhan massal yang dilakukan terhadap orang-orang sipil, yang dasarnya adalah identitas etnis dan ras mereka.

Demikian diungkapkan Dr. Antarini Arna, penulis buku Genosida dan Modernitas dalam Bayang-Bayang Auschwitz dalam diskusi yang digelar di Jakarta beberapa waktu lalu.

Mereka dihabisi secara massal hanya karena latar belakang kebangsaan yang mereka miliki. Mereka itu antara lain adalah orang-orang Polandia, kaum Gypsies, dan tentu saja orang-orang Yahudi.

Dalam kasus orang-orang Yahudi ini jumlah yang tewas dibunuh mencapai sekitar 6 juta dan pembantaian massal atas mereka disebut “Holocaust”.

Dalam Holocaust itu orang-orang dari ras Yahudi ditahan dan dikumpulkan secara paksa, untuk selanjutnya dibunuh secara massal tanpa sedikitpun disertai prinsip perikemanusiaan.

Peristiwa Holocaust sendiri tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia merupakan ujung dari sebuah proses panjang. Jauh sebelum peristiwa biadab itu terjadi, sudah berlangsung berbagai sikap dan tindakan dalam masyarakat serta kebijakan publik yang bersifat me-liyan-kan orang-orang Yahudi.

Secara bertahap pe-liyan-an itu berlangsung dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, khususnya di Jerman.

Akibatnya, secara pelan tapi pasti orang-orang Yahudi itu menjadi semakin mudah untuk diberi julukan yang bersifat merendahkan, untuk kemudian dijadikan sasaran kekerasan dan pembunuhan massal.

Pada satu sisi Holocaust merupakan hasil kebijakan resmi pemerintah—dalam hal ini pemerintah NAZI Jerman di bawah Adolf Hitler.

Pada sisi lain Holocaust juga menjadi mungkin karena adanya “dukungan” masyarakat. Dukungan itu bisa berwujud keterlibatan langsung dalam tindak kekerasan, namun bisa juga dalam bentuk sikap enggan bertindak mencegah terjadinya kekerasan tersebut.

Dan ternyata keduanya berakibat fatal. Sangat fatal. Jutaan nyawa manusia melayang begitu saja. Sampai di sini, jika hal ini kita letakkan dalam konteks lebih luas, akan segera tampak bahwa kekerasan dan pengambilan sikap seperti itu tidak hanya terjadi dalam peristiwa Holcaust saja. Pun tidak terjadi hanya pada saat berkuasanya pemerintah NAZI saja.

Sikap dan peristiwa serupa juga terjadi dalam banyak kasus kekerasan massal lain di dunia ini. Sebagaimana dalam peristiwa Holocaust, kekerasan massal dalam peristiwa-peristiwa lain juga terjadi karena adanya rejim penguasa yang tak berperikemanusiaan, tetapi yang juga terjadi karena adanya anggota masyarakat yang terlibat dalam kekerasan maupun yang bersikap enggan mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya kekerasan tersebut.

Hal yang demikian itu bisa kita lihat dalam apa yang terjadi di Kamboja, di Argentina, di Chili, di El Salvador, di Rwanda, di Maroko, di Sierra Leon, serta di tempat-tempat lain.

Untuk mengulas topik ini, akan digelar diskusi buku Genosida dan Modernitas: Dalam Bayang-Bayang Auschwitz pada Sabtu,6 Oktober 2018 di Ruang Kadarman, Lt 4 Gedung Administrasi Pusat (GedungBAA), Kampus 2 (Realino) Universitas SanataDharma, Jl. Affandi, Gejayan, Yogyakarta

Diskusi akan menghadirkan narasumber Antarini Arna, penulis buku, Prof. Dr. A. Sudiarja, pengajar di STF Dyarkara, Jakarta, dan Dr. Yoseph Yapi Taum, pengajar di Universitas Sanata Dharma. (MU)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close