Genderuwo-Genderuwo Politik

Genderuwo-Genderuwo Politik

Penulis: Trias Kuncahyono

Salah satu rubrik dalam Majalah Penyebar Semangat yang menarik adalah rubrik “Alaming Lelembut” (Dunia Mahkluk Halus). Di dalam rubrik ini diturunkan cerita-cerita, kisah-kisah tentang dunia mahkluk halus.
Sebenarnya, sungguh aneh. Sebab, majalah ini, yang didirikan oleh dr Sutomo, tokoh pendiri Boedi Oetomo, 2 September 1933, pada mulanya adalah majalah politik; majalah yang digunakan sebagai media perjuangan. Oleh karena itu, berita politik memperoleh tempat khusus. Akan tetapi, bagaimana menyiasati agar tetap hidup. Nah, para pengelola majalah ini menemukan resep, yakni membuat rubrik “Alaming Lelembut.”

Bukan hanya Penyebar Semangat yang memiliki rubrik dunia mahkluk halus. Majalah bahasa Jawa lainnya, semisal Djaka Lodang (terbit sejak 1971 di Yogyakarta) memiliki rubrik “Jagating Lelembut” dan Jaya Baya (1945) mempunyai “Cerita Misteri.”

Dunia roh halus, memang, hidup di dalam masyarakat Jawa (juga masyarakat lain). Dahulu, di masa kecil, ketika masih tinggal di desa, sering diberi pesan atau nasihat yang bernada nakut-nakuti. “Kamu jangan dekat-dekat ke pohon yang gede dan rindang itu. Pohon itu menjadi rumahnya mahkluk halus, genderuwo.” Dan, sebagai anak, takut juga mendengar pesan itu.

Mitologi Jawa
Mahkluk halus, antara lain genderuwo, hidup dalam mitologi Jawa (barangkali juga dalam mitologi masyarakat non-Jawa juga). Mitos itu hingga kini masih hidup. Kata mitos berasal dari bahasa Yunani Mythos dan bahasa Belanda mite yang bermakna cerita atau perkataan.

Mitos merupakan cerita masa lampau atau tradisional yang berisi mengenai kehidupan dewa-dewa dan peristiwa gaib yang dianggap benar-benar terjadi oleh orang yang percaya akan mitos tersebut. Selain itu, mitos juga bisa diartikan sebagai cerita rakyat yang menceritakan kisah masa lampau, penafsiran mengenai alam semesta dan makhluk-makhluk fantastis yang ada di dalamnya.

Mitologi memainkan peranan integral dalam setiap peradaban di seluruh dunia.Lukisan-lukisan pra-sejarah di gua-gua, goresan-goresan di batu, makam, dan monumen-monumen semua itu menjelaskan bahwa jauh sebelum manusia menuliskan mitos dalam kata-kata, mereka telah mengembangkan struktur kepercayaan berkaitan dengan definisi tentang mitos yang diberikan oleh para ahli, misalnya oleh Sir Edmund Ronald Leach (1910-1989) seorang ahli antropologi sosial dari Inggris.

Menurut psikiatris Carl Gustav Jung (1875-1965) dari Swiss, mitos adalah suatu aspek penting dari psyche manusia yang perlu menemukan makna dan keteraturan dalam dunia yang sering menampilkan dirinya kacau dan tidak berarti.

Seorang peneliti mitologi dari Perancis, Roland Barthes (1972), dalam bukunya yang berjudul Mithologies, mendefinisikan mitos sebagai “myth is associated with classical fables about spirits, gods, and heroes” yang kurang lebih berarti, mitos merupakan cerita klasik yang berisi tentang roh, Tuhan/Dewa, dan pahlawan.

Javanolog H.A. Van Hien dalam penelitiannya, De Javaansche geestenwereld… (1896), menyebut 95 jenis makhluk halus di Jawa. Sementara itu, dari hasil penelitiannya di Mojokuto, Jawa Timur pada 1950-an, antropolog Clifford Geertz dalam Abangan, Santri,

Priayi dalam Masyarakat Jawa (1983), membagi makhluk halus di Jawa menjadi lima golongan besar: memedi, lelembut, tuyul, demit, dan danyang.

Dalam mitologi Jawa terdapat beberapa nama makhluk mitos yang hingga saat ini keberadaanya masih diyakini, seperti genderuwo, tuyul, dan banaspasti. Genderuwo adalah mahkluk mitos yang ada dalam kepercayaan masyarakat Jawa. Makhluk ini sejenis bangsa jin yang berwujud manusia mirip kera yang bertubuh besar dan kekar dengan warna kulit hitam kemerahan, tubuhnya ditutupi rambut lebat yang tumbuh di sekujur tubuh; seperti yang diarakan sepanjang jalan dalam acara tradisi Saparan di Gamping, Yogyakarta.

Yang menarik, masyarakat meyakini bahwa genderuwo ini memiliki sifat cabul, senang menggoda wanita terlebih lagi kepada istri–istri yang kesepian atau janda. Genderuwo juga memiliki kemampuan untuk mengubah diri menyamar menjadi manusia dan sifatnya yang iseng serta cabul.

Maka, di desa sering ada orang mengatakan, “Dia itu anak genderuwo.” Dalam wujud apa pun, Genderuwo sangat senang menggoda kaum perempuan mulai dari menepuk, mencolek, mengelus bahkan sampai berhubungan badan berkat kemampuannya menggendam (hipnotis), biasanya menjadi pasangan si wanita yang diincar.

Ada keyakinan dalam kepercayaan Jawa, apabila Genderuwo akan menampakkan diri atau mengisaratkan bahwa dia ada di dekat kita maka mulai tercium bau aneh, seperti singkong bakar atau kentang rebus. Tetapi, ada juga yang mengatakan akan tercium bau kambing.

Oleh karena mitos tentang genderuwo ini hidup di tengah masyarakat, maka tidak aneh kalau cerita tentang genderuwo ini pernah diangkat ke layar lebar. Film Genderuwo (2007) menceritakan legenda hantu yang menurut cerita adalah hantu terseram, paling ganas, dan terbesar di dunia. Film yang digarap oleh KK Dheeraj dan dibintangi oleh Davina Veronica, Robby Shine, dan Indah Kirana.

Mahkluk Politik
Manusia, menurut Aristoteles (384-332 SM), adalah Zoon Politicon, untuk menyebut mahkluk sosial. Kata Zoon berarti “hewan” dan kata Politicon yang berarti “bermasyarakat”. Secara harfiah Zoon Politicon berarti hewan yang bermasyarakat.

Dengan memberikan sebutan seperti itu, Aristoteles ingin mengatakan bahwa manusia dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain, sebuah hal yang membedakan manusia dengan hewan.

Sementara filosof, pendidik, ekonom, dan juga wartawan Adam Smith (1723-1790) lebih memilih menggunakan istilah Homo Homini socius, yang berarti manusia sahabat bagi manusia lainnya. Friedrich Nietzsche (1844-1900) menyebut manusia itu sebagai mahkluk komunitas.

Ahli ekonomi politik dan sosiolog Jerman yakni Max Weber (1864-1920) dan ahli politik internasional Hans Joachim Morgenthau (1904-1980), lebih memilih istilah manusia itu adalah mahkluk yang mencari kekuasaan.

Dengan kata lain kekuasaan (politik) dalam arti luas, sebenarnya adalah sebagai ungkapan sifat dasar manusia. Harus diakui, manusia sejati adalah makhluk yang kompleks dan ambivalen, berada di tengah-tengah antara jalan akal budi dan tak berakal budi, antara baik dan jahat, campuran antara egoisme dan kebaikan.

Dengan ambivalensi itu manusia dapat mempergunakan kekuasaan dengan baik atau buruk, baik dalam hal-hal kecil maupun dalam hal-hal besar, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kancah politik (Hans Kung: 2002)

Oleh karena itu, kekuasaan di sini pun kadang bermakna ganda. Di satu sisi kekuasaan manusia dapat digunakan untuk tujuan kebaikan, dengan cara yang betul-betul yang manusiawi, baik untuk kemakmuran mereka yang berkepentingan, untuk mereka yang berada di sekitar kekuasaan tersebut dan lingkungannya. Dengan kata lain, kekuasaan itu adalah untuk melayani.

Di sisi lain kekuasaan manusia bisa juga digunakan untuk kejahatan, melalui cara yang tidak manusiawi dan tidak mengenal perikemanusiaan, baik dengan sengaja untuk merugikan mereka yang berkepentingan maupun untuk mereka yang ada di sekitarnya dan lingkungannya. Kekuasaan yang tak berperikemanusiaan ini lebih sering muncul malah menjadi yang biasa.

Di sinilah dibutuhkan etika; etika politik, etika kekuasaan. Mengapa? Oleh karena, kehidupan manusia senantiasa terus diwarnai oleh pertarungan, oleh konflik, yakni pertarungan antara kekuatan baik dan kekuatan jahat; antara anak-anak terang dan anak-anak kegelapan. Pertarungan itu seperti tidak ada masa akhirnya; terus terjadi dengan alasan apa pun, dan atas nama apa pun.

Etika memberikan dasar moral kepada politik. Tentu saja, politik bukan seperti yang dipahami para politikus, tetapi yang dimengerti oleh orang yang mencari makna dan nilai di dalam politik (Haryatmoko, 2014). Sebab, meskipun kehidupan politik sebagai salah satu ekspresi dari kehidupan sosial manusia, keterkaitannya dengan yang transenden tidak akan terlepas.

Bukankah, politik adalah pengabdian kepada kepentingan masyarakat, bangsa. Tujuan berpolitik adalah terciptanya bonnun commune (kebaikan/kesejahteraan bersama) dan summum commune ( kebaikan umum). Dengan kata lain, politik merupakan tanda dan sarana untuk membebaskan rakyat dari kemelaratan hidup
Dengan demikian, politik adalah sebuah perayaan kemanusiaan.

Praktik politik selama ini, lebih cenderung tidak untuk merayakan kemanusiaan, melainkan untuk memenuhi nafsu, memuaskan nafsu kekuasaan. Maka, menurut Morgenthau, terjadilah perebutan kekuasaan. Untuk memperebutkan kekuasaan itu, dibutuhkan energi.

Politik dapat memperoleh energinya dari usaha manusia yang paling bervariasi, dari agama, ekonomi, moral hingga antithesis lainnya.

Oleh karena itu, menghilangkan etika dari kehidupan politik berimplikasi pada praktik politik yang bersifat Machiavellistis, yaitu politik sebagai alat untuk melakukan segala sesuatu, finis iustificat medium, baik atau buruk tanpa mengindahkan kesusilaan, norma daan berlaku seakan bernuansa positivistik (bebas nilai).

Bahkan, tidak jarang politik terperosok ke lembah omong kosong, memutar-balikkan fakta dan kata, kebohongan, janji palsu, pendangkalan masalah, ujaran kebencian, intimidasi, selalu memberikan pandangan pesimistis, dan konsensus asal-asalan.

Padahal, sebenarnya dasar politik menghendaki kejujuran, ketulusan, kebenaran, pendalaman masalah, persaudaraan, dan pencapaian konsensus lewat pengambilan keputusan bermartabat.

Inilah kiranya yang dimaksudkan dengan “Politik Genderuwo” dan pelakunya adalah “Genderuwo Politik.” Keduanya, sifatnya adalah menggelisahkan, menakut-nakuti, dan meneror, serta lebih memilih finis iustificat medium, padahal semestinya tujuan yang baik tidak boleh dicapai dengan cara-cara yang tidak baik (finis non iustificat medium).

“Politik Genderuwo” atau “Genderuwo Politik” tidak menghadirkan ketenangan, ketenteraman, kerukunan, dan kedamaian masyarakat melainkan sebaliknya, mendatangkan ketakutan, perasaan tertekan, stress yang mendalam.

Karena masih hidupnya mitos tentang genderuwo, maka mitos itu dihadirkan serta diupayakan untuk menguasai hati dan pikiran masyarakat. Para genderuwo politik dengan politics of fear-nya, menghadirkan rasa takut.

Akibatnya, ketakutan mendominasi setiap gerakan masyarakat banyak; meliputi kehidupan dan setiap aspek dari keberadaannya. Bila rasa ketakutan dimanipulasi dan terus diintensifkan oleh oleh para politisi lewat retorika media, maka akan menghancurkan kemampuan orang untuk berkomunikasi secara efisien dengan orang lain atau dengan diri kita sendiri.

Ketakutan adalah musuh akal yang paling kuat. Akal terkadang bisa menghilangkan rasa takut, tetapi rasa takut sering kali menutup akal budi. Seperti yang ditulis Edmund Burke di Inggris dua puluh tahun sebelum Revolusi Amerika (1776), “Tidak ada nafsu yang secara efektif merampas pikiran dari semua kekuatan bertindak dan bernalar selain rasa takut” (Al Gore, 2007).

Memang, ketakutan dan kecemasan selalu menjadi bagian dari kehidupan dan akan selalu ada. Rasa takut ada di mana-mana dan universal di setiap masyarakat manusia. Itu adalah bagian normal dari kondisi manusia. Dan itu selalu menjadi musuh akal.

Filosof Romawi dan guru retorika Lactantius (240 – 320) menulis, Ubi timor adest, sapientia adesse nequit, di mana rasa takut hadir, kebijaksanaan tidak bisa hadir. Padahal, unum bonum verbum tres hiemale menses calefacere potest, sepatah kata yang manis dapat membuat hangat tiga bulan musim dingin. Sayang di negeri ini tidak ada musim dingin, sehingga yang muncul adalah politik genderuwo dan genderuwo-genderuwo politik.

*Tulisan ini dikutip utuh dari https://triaskun.id