Ekonomi

Geger Rekaman, Ini Penjelasan Dirut PLN soal Ari Soemarno

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Direktur Utama PLN Sofyan Basir akhirnya memberikan penjelasan soal peran Ari Soemarno yang dibahas dalam perbincangan antara dirinya dengan Menteri BUMN Rini Soemarno.

Rekaman percakapan itu menjadi polemik, sebab terindikasi sedang membicarakan pembagian fee. Terlebih, dalam percakapan itu juga menyinggung saudara kandung Rini, Ari Soemarno.

Menanggapi hal itu, Sofyan menyatakan jika dalam pembicaraanya dengan Rini sama sekali tidak membahas ‘bagi-bagi fee’.

Dirinya dan Rini berdiskusi soal porsi saham PT PLN (Persero) dalam proyek Land Based LNG Receiving and Regasification Terminal yang berkapasitas 500 MMscfd (kurang lebih 4 juta ton) di Bojonegara, Banten.

Ari Soemarno memiliki saham dalam proyek yang digagas oleh Kalla Group tersebut. Dalam percakapan tersebut, PLN tak mau hanya jadi pembeli gas saja, tapi juga ikut memiliki saham sebesar 15%. Saham tersebut diusulkan diambil dari milik Ari Soemarno.

“Waktu itu, saya minta sahamnya Pak Ari. Kata Bu Menteri boleh,” jelas Sofyan dalam keterangannya, Minggu (29/4) malam.

Sofyan menegaskan, tak ada nepotisme dalam proyek ini. Rini justru mendorong agar saham milik kakak kandungnya dialihkan ke PLN dan PT Pertamina (Persero) demi kepentingan negara.

“Terbalik (soal dugaan adanya nepotisme). Justru Bu Menteri berpesan agar kepentingan BUMN, kepentingan negara harus nomor satu,” kata Sofyan.

PLN ingin memiliki saham 15% agar dapat mengontrol biaya penyimpanan dan regasifikasi LNG. Dengan begitu, harga gas untuk pembangkit listrik bisa lebih efisien.

“Harus ada saham biar bisa ikut mengontrol supaya biaya enggak berlebihan, ini demi tarif listrik yang terjangkau untuk masyarakat. Jangan sampai PLN dikelabui,” bebernya.

Sofyan mengatakan pihaknya mempertimbangkan untuk menyeret pelaku penyadapan telepon ini ke pengadilan.

“Telepon saya atau Bu Rini disadap kayaknya, itu ilegal, menyalahi hukum. Lagi kita pikirkan untuk ke ranah hukum,” ujarnya.

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close