Gedung Pencakar Langit Tertinggi Asia Tenggara Milik Djoko Tjandra

Gedung Pencakar Langit Tertinggi Asia Tenggara Milik Djoko Tjandra

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Nama Djoko Tjandra akhir-akhir ini menjadi pusat perhatian.

Buronan kasus pengalihan hak tagih utang Bank Bali tersebut akhirnya tertangkap setelah melarikan diri selama 11 tahun.

Djoko adalah Direktur dari PT Era Giat Prima (EGP) yang menjalin perjanjian cessie Bank Bali ke Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI).

Dia juga identik dengan Grup Mulia yang memiliki bisnis inti properti dan diketahui melebarkan sayapnya ke Malaysia.



Menurut kuasa hukum Djoko, Anita Kolopaking seperti dikutip dari kompas.com, kliennya membangun dan memiliki Gedung The Exchange 106.

The Exchange 106 merupakan pencakar langit yang berada di area bisnis dan keuangan internasional terpadu yang dikenal dengan nama Tun Razak Exchange (TRX), Kuala Lumpur, Malaysia.

Distrik bisnis dan keuangan ini dibiayai oleh dana kontroversial 1Malaysia Development Berhad (1MDB), setelah diumumkan oleh mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak pada 2012.

Proyek ini sempat terancam dihentikan saat skandal 1MDB mulai terkuak pada tahun 2015. Tetapi konstruksi tetap dilanjutkan.

Dan pada tahun 2018, Kementerian Keuangan Malaysia mengumumkan bahwa mereka akan membantu mendanai sisa pembangunan TRX bersama pengembang properti Indonesia, Grup Mulia.

Saat ini, menurut laman New York Times, kepemilikan Grup Mulia atas menara ini sebesar 49 persen. Sedangkan sisanya yakni 51 persen dimiliki oleh Kementerian Keuangan Malaysia.

Gedung ini dirancang dengan tinggi 492 meter yang mencakup total 106 lantai. Ketinggian menara baru ini juga menyalip gedung Landmark 81 di Vietnam yang sebelumnya memegang julukan sebagai pencakar langit tertinggi di Asia Tenggara.

Dengan selesainya konstruksi fisik, The Exchange 106 menjadi bangunan tertinggi di Asia Tenggara saat ini.

Mengutip laman CNN, The Exchange 106 berdiri menjulang 40 meter lebih tinggi dibanding Petronas Tower.

Menara ini mencakup area ritel seluas 100.000 kaki persegi atau 9.290 meter persegi, 92 lantai yang diperuntukkan bagi area perkantoran, serta lobi pada lantai 57 yang menawarkan pemandangan ibu kota Malaysia.

Ruang perkantoran Exchange 106 disebut merupakan area perkantoran tanpa kolom terbesar di negeri jiran ini. Ruangan tersebut juga dirancang dengan prinsip desain berkonsep open plan.

“Exchange 106 menawarkan ruang kantor yang bebas kolom dengan bentang panjang mulai dari 22.000 kaki persegi hingga 34.000 kaki persegi, ruang tanpa kolom terbesar di Malaysia,” kata The Exchange 106 dalam sebuah pertanyaan seperti dikutip dari laman Strait Times.

Sebagai informasi, Grup Mulia didirikan oleh Tjandra Bersaudara yakni Tjandra Kusuma (Tjan Boen Hwa), Eka Tjandranegara (Tjan Kok Hui), Gunawan Tjandra (Tjan Kok Kwang), dan Djoko S Tjandra, pada 1970-an.

Menurut Harian Kompas 7 Agustus 1999, bisnis pertama yang dirintis Djoko Tjandra adalah perusahan konstruksi fondasi dan tiang pancang Jaya Sumpiles Indonesia.

Kemudian pada 1980-an, selain bermitra dengan Sudwikatmono, Tjandra Brsaudara juga menjalin kerja sama dengan Prajogo Pangestu dan Mochtar Riyadi yang sama-sama membesarkan Grup Mulia.

Kelompok usaha itu pernah berkibar ketika bisnis properti sedang booming pada tahun 1990-an.

Grup Mulia telah membangun sejumlah properti mewah yang dikenal mengubah wajah kawasan sekitarnya serta memengaruhi pasar properti Indonesia.

Sebut saja Hotel Mulia Senayan, The Mulia Bali, Atrium Mulia, serta apartemen Taman Anggrek.