SENAYANPOST - Tidak sedikit masyarakat Indonesia yang berpandangan bahwa Pendopo Agung Trowulan yang berada di kecamatan Trowulan bagian barat kabupaten Mojokerto provinsi Jawa Timur, merupakan area bekas komplek Istana Kerajaan Majapahit.
Sejumlah aktifitas warga baik itu bertani atau menggali sumur, sering menemukan artefak hingga situs bersejarah peninggalan Majapahit. Sehingga, dapat dikatakan kawasan Trowulan dan sekitarnya tidak hanya komplek istana Kerajaan Majapahit, akan tetapi juga bekas pemukiman para bangsawan yang berdomisili di sekitar komplek istana.
Mulai dipugar pada tahun 2017, di bagian barat Pendopo Agung Trowulan terdapat tiang batu yang menancap di tanah dalam bentuk miring. Beberapa pendapat awalnya mengatakan bahwa tempat tersebut merupakan tempat Mahapatih Gajahmada mengucapkan Sumpah Palapa yang mengkonsolidasikan gugusan kepulauan Nusantara.
Prasasti peletakan batu pertama renovasi ditandatangani oleh Pangdam V Brawijaya Mayjen I Made Sukadana tertanggal 16 Maret 2017 menyebutnya sebagai Tempat Suci Puser Bumi.
Akan tetapi, pendapat lain menyebutkan bahwa tiang batu miring tersebut merupakan penyangga tali yang mengikat gajah tunggangan Maharatu Tribhuwana Tunggadewi.
Gajah bukan binatang liar dalam dinamika sejarah di Tanah Jawa. Maharatu Tribhuwana Tunggadewi juga tercatat dalam sejarah mengendarai gajah dalam memimpin langsung sejumlah pertempuran.
Gajah tersebut diketahui berwarna putih dan merupakan hadiah dari Kerajaan Campa, yang menunjukkan pengaruh Majapahit di era Maharatu Tribhuwana Tunggadewi telah menyebar di seluruh gugus kepulauan Nusantara.
Maka dari itu, batu monolithi tersebut disebut sebagai Situs Patok Gajah.