SENAYANPOST - Suasana liburan Idul Fitri semakin meredup dengan beraktifitasnya kembali sejumlah perkantoran dan masuknya anak-anak sekolah. Beberapa destinasi wisata juga mulai tidak ramai dikunjungi, tetapi tidak berarti sepi sama sekali.
Saat kami berkunjung ke Museum Trowulan pada Minggu 13 April 2025 setelah agenda Halal Bi Halal Alumni Universitas Al Azhar Mesir di Pendopo Graha Maja Tama Kantor Bupati Mojokerto, saat akan kembali bertolak pulang, puluhan pengunjung dengan bus asal Yogyakarta memasuki area Museum Trowulan.
Museum Trowulan merupakan Pusat Informasi Majapahit adalah pusat arkeologi yang menampung benda-benda bersejarah dari era Kahuripan,Kediri, Singhasari dan Majapahit.
Museum Trowulan semula bernama Oudheidkumdige Vereeneging Majapahit (OVM) yang berarti tempat perkumpulan benda-benda purbakala Majapahit. Didirikan pada tahun 1924 oleh Bupati Mojokerto RAA Kromojoyo Adinegoro dan seorang pakar arkeologi asal Belanda yang bernama Henry Maclaine Pont yang aktif melakukan penelitian arkologi peninggalan Imperium Majapahit sejak tahun 1921.
Tujuan pembentukan OVM tidak lain untuk meneliti dan melestarikan benda-benda peninggalan Imperium Majapahit dan kerajaan-kerajaan sebelumnya yang ditemukan oleh masyarakat di kawasan timur Pulau Jawa. Selain itu, pendirian OVM juga bertujuan untuk mencegah pencurian dan penjarahan.
Aktivitas OVM berhenti pada tahun 1942 karena Henry Maclaine Pont ditangkap oleh Pasukan Pendudukan Jepang. Henry Maclaine Pont dimasukkan ke kamp interniran di Cimahi Bandung kemudian dikirim ke Australia. Setelah Perang Dunia II berkahir, Henry Maclaine Pont kembali ke Belanda.
Setelah Indonesia merdeka, aktivitas OVM di bawah naungan Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (SPSP) yang berlangsung tertutup. Hingga pada tahun 1987, OVM kembali dibuka untuk umum dengan nama Pusat Informasi Majapahit (PIM) di bawah naungan Kantor Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI.
Museum Trowulan memiliki sejumlah koleksi situs arkeologi berupa arca, komoditas perdagangan hingga nisan. Beberapa arca yang menjadi koleksi Museum Trowulan adalah Dewi Tara, Harihara, Sapta Rsi, Jaladwara (atau akses aliran air mancur) Samuderamanthana dan sejumlah arca perwujudan yang menggambarkan sejumlah tokoh-tokoh penting era Majapahit dalam wujud dewa atau tokoh pewayangan.
Salah satu arca penting adalah arca Dewa Wisnu menaiki Garuda yang menggambarkan kebesaran Raja Airlangga dari kerajaan Kahuripan. Arca ini ditemukan di Candi Belahan atau Candi Sumbertetek di kawasan Gempol kabupaten Pasuruan Jawa Timur.
Adapun komoditas perdagangan adalah sejumlah porselen, uang gepeng dan prasasti dari China. Sedangkan nisan di antaranya adalah nisan Fatimah Binti Maimun bertuliskan Aksara Arab. Hal ini menunjukkan bahwa Imperium Majapahit merupakan pasar strategis dalam perdagangan internasional di zamannya.
Pada bagian utara dan selatan kawasan Museum Trowulan terdapat situs pemukiman penduduk di kawasan kotaraja Majapahit.
Para pengunjung setelah lelah berkeliling kawasan Museum Trowulan, dapat menikmati suguhan khas ikan wader yang ke arah selatan Museum Trowulan dan di sebelah barat Kolam Segaran, salah satu situs peninggalan Imperium Majapahit yang diperkirakan digunakan untuk latihan renang para prajurit armada laut. (Muqoddas