Ekonomi

Garuda Indonesia Bakal Akuisisi Sriwijaya Air

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Maskapai pelat merah, PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) (GIAA) dipastikan akan mengakuisisi Sriwijaya Air Group.

Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata Kementerian BUMN, Edwin Hidayat Abdullah mengatakan, Sriwijaya Air Group sudah memberikan respons positif terkait rencana akuisisi tersebut. Saat ini, Garuda Indonesia tengah menghitung valuasi saham Sriwijaya Air Group untuk proses akusisi.

“Iya kami tawarkan soal akuisisi, dan mereka (Sriwijaya Air) setuju. Sekarang lagi proses perhitungan valuasi,” katanya dikutip dari kumparan, NTT, Selasa (8/10/2019).

Lanjut Edwin, proses akuisisi ini sebagai salah satu cara untuk menyelesaikan utang-utang Sriwijaya Air Group kepada Garuda Indonesia dan beberapa BUMN. Karenanya, pihaknya juga sedang melakukan proses verifikasi utang Sriwijaya Air.

Sebab nantinya, nilai utang akan dikonversikan ke saham yang akan diakuisisi. Hanya saja, Edwin menambahkan, pihaknya masih belum tahu berapa persen saham yang bisa dipegang setelah utang Sriwijaya dikonversikan.

“Kita lihat ada tunggakan-tunggakan kemarin bisa dikonversikan jadi kepemilikan saham Sriwijaya. Makanya kita harus verifikasi utang mereka dulu dan lakukan valuasi,” tambahnya.

Dia juga mengungkap bahwa Sriwijaya Air sudah menyetujui terkait rencana tersebut. Tak hanya itu, Kementerian BUMN nantinya juga disebut akan mengatur terkait manajemen Sriwijaya Air.

“Mereka (Sriwijaya Air) terima, enggak ada masalah sih. Yang penting valuasinya itu fair sesuai pasar dan tagihan yang dikonversi itu benar-benar tagihan terverifikasi,” tambahnya.

Edwin mengaku akan menunjuk konsultan independen yang akan melakukan proses valuasi saham. Sementara untuk verifikasi utang ke BUMN, Kementerian BUMN akan menggandeng Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

“Kita akan tunjuk konsultan yang bagus lah untuk valuasi, kalau verifikasi utang nanti kita tunjuk BPKP,” tutupnya.

Maskapai Sriwijaya Air memiliki utang triliunan rupiah ke beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dari dokumen yang diterima kumparan, Selasa (10/9), total utang Sriwijaya Air Group mencapai Rp 2,46 triliun pada posisi akhir Oktober 2018.

Rincian Utang Sriwijaya Air ke BUMN:
1. Pertamina Rp 942 miliar
2. GMF (Anak Usaha Garuda Indonesia) Rp 810 miliar
3. BNI Rp 585 miliar (Pokok)
4. Angkasa Pura I Rp 50 miliar
5. Angkasa Pura II Rp 80 miliar

Karena tunggakan utang belum dibayar dan Kerja Sama Manajemen (KSM) sempat bubar dengan Garuda Indonesia, GMF AeroAsia kemudian membatasi proses perawatan pesawat milik Sriwijaya Air Group.

Pertamina juga kemudian menyusul menagih tunggakan avtur Rp 840,6 miliar, dengan rincian tagihan berbentuk rupiah senilai Rp 791,44 miliar dan berbentuk dolar AS sebesar USD 3,53 juta.

Setelah rujuk kembali pada 1 Oktober 2019, GMF AeroAsia tak lagi membatasi layanan ke armada Sriwijaya Air dan Nam Air. Direktur Utama GMF AeroAsia Tazar Marta Kurniawan menegaskan, hingga kini pihaknya akan terus mendukung operasional pesawat-pesawat Sriwijaya Air untuk bisa kembali meningkatkan keamanan dan keselamatan.

“Ya pokoknya memberikan layanan di line maintenance untuk operasional penerbangan mereka,” ujarnya saat ditemui awak media di Kantor Pusat GIAA, Tangerang, Selasa (1/10).

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close