Saham

Gara-gara Demo Massal, Lelang SUN Terancam Sepi Peminat

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Harga obligasi rupiah pemerintah dibuka terkoreksi di awal perdagangan hari ini, Selasa (24/9/2019) seiring dengan tekanan sosial dan politik akibat demonstrasi penolakan terhadap RUU KUHP dan RUU KPK yang menekan pasar keuangan domestik terutama pasar saham dan rupiah.

Pelemahan pasar juga diprediksi dapat mempengaruhi minat peserta lelang rutin Surat Utang Negara (SUN) yang akan digelar pemerintah siang ini. Turunnya harga SUN itu seiring dengan koreksi yang terjadi di pasar surat utang pemerintah negara lain.

Data Refinitiv menunjukkan terkoreksinya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menaikkan tingkat imbal hasilnya (yield).

Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder, sehingga ketika harga naik maka akan menekan yield turun, begitupun sebaliknya.

Yield yang menjadi acuan hasil investasi yang didapat investor juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.

SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum.

Keempat seri yang menjadi acuan pasar adalah FR0077 bertenor 5 tahun, FR0078 bertenor 10 tahun, FR0068 bertenor 15 tahun, dan FR0079 bertenor 20 tahun.

Seri acuan yang paling melemah adalah FR0078 yang bertenor 10 tahun dengan kenaikan yield 3,1 basis poin (bps) menjadi 7,27%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.

Hari ini, pemerintah berniat melelang tujuh seri SUN dengan target indikatif Rp 15 triliun-Rp 30 triliun yang terbagi menjadi dua seri surat perbendaharaan negara (SPN) dan lima seri kupon tetap (fixed rate/FR). SPN adalah SUN jangka pendek dengan tenor di bawah 1 tahun.

Koreksi di pasar surat utang hari ini juga terjadi di pasar ekuitas dan rupiah di pasar valas, yang masing-masingnya turun 1,21% menjadi 6.133 untuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan 0,07% menjadi Rp 14.090/dolar AS untuk rupiah.

Dari pasar surat utang negara berkembang dan maju, koreksi harga terjadi sehingga yield mayoritas obligasi negara naik. Hal tersebut mencerminkan investor global masih harap-harap cemas dan cenderung menunggu momentum untuk kembali ke pasar begitu ancaman resesi dunia mereda. (AR)

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close