NasionalTNI

Gagasan KSAD Jenderal Andika Perkasa (1): Dari Serma Sampai Mayjen Sambut Baik Pemberdayaan 400 Perwira Nonjob

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Begitu Jenderal TNI Andika Perkasa menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) segera berembus angin segar di kalangan tentara karena dua hal, akan diberdayakannya kembali para perwira tinggi TNI yang selama ini berada dalam status nonjob, dan dinaikkannya usia pensiun tamtama dan bintara dari 53 tahun menjadi 58 tahun.

Presiden Joko Widodo merespon positif, menyepakati dua gagasan penting ini dan berjanji untuk segera mewujudkannya. Sejumlah anggota DPR juga setuju. Tentu saja kalangan tentara lebih lagi, gegap gempita menyambut gembira rencana kebijakan baru itu. Seperti tercermin dalam wawancara Senayanpost.com dengan sejumlah anggota dan purnawirawan TNI-AD, dari yang berpangkat sersan sampai Mayor Jenderal berikut ini.

“Saya sangat setuju dengan gagasan bapak Kasad memberdayakan 400 perwira non job. Harus diberdayakan untuk berkarir guna memberikan kontribusi melalui kemampuannya sebagai perwira yang telah dididik dengan biaya negara yang sangat besar dan telah berkarier memiliki pengalaman lapangan yg tentu sulit didapatkan baik pengalaman profesionalitas maupun pengalaman kepemimpinan yang sangat dibutuhkan bg negara dan khususnya TNI/ TNI AD,” kata Sersan Mayor Diah Listiarini.

Dia mengusulkan, jika ruang jabatan pada pangkat tertentu memang terbatas, perlu dipikirkan untuk mengembangkan organisasi secara proporsional.

Pendapat senada datang dari Mayor Wahyudi. “Saya sangat mendukung gagasan Jenderal Andika, KSAD kita. Gagasan yang sangat cerdas dan positif. Saya yakin jika dilaksanakan akan meningkatkan kinerja TNI AD, karena tenaga-tenaga potensial itu pasti akan mengembangkan ilmu dan pengalamannya secara maksimal,” kata Mayor Wahyudi yang kini bertugas di sebuah institusi negara yang sangat strategis.

Dari bumi Papua Kolonel Inf Junaidi menilai gagasan Jenderal Andika ini merupakan terobosan yang sangat hebat dan bijaksana. “Karena selama ini kami sangat dibayangi ketakutan sebagai penghuni Lantai 8 Mabes AD. (tempat menunggu jabatan). Bukan Kami tidak punya kemampuan tetapi karena pembinaan karier yang terhenti disebabkan ruang jabatan yang sangat terbatas,” ungkap Kolonel Junaidi.

Padahal, lanjut Junaidi, Pamen dengan pangkat Kolonel memiliki kecakapan yang mumpuni karena sudah melewati berbagai pendidikan dan pengalaman berbagai penugasan yang strategis.

“Dengan kebijakan ini ditinjau dari organisasi TNI AD akan memperkuat soliditas TNI AD. Karena semua kembali mendapat kesempatan yang sama dalam mengembangkan karier dan menyumbangkan pikiran terbaik untuk kemajuan organisasi TNI AD,” lanjut Kolonel Junaidi.

Rasa gembira tidak hanya datang dari tentara yang masih aktif, Mayor Jenderal TNI Purn JB Wirawan pun angkat topi terhadap gagasan KSAD Jenderal Andika Perkasa.

“Gagasan KSAD melaksanakan restrukturisasi TNI AD merupakan suatu langkah yg strategis. Langkah ini merupakan keniscayaan dalam menghadapi perkembangan lingkungan strategis dan prediksi ancaman yang sedang kita hadapi. Sekaligus juga terobosan dalam menghadapi masalah personil di internal TNI AD,” Jenderal bintang dua itu menjelaskan.

Menurut JB Wirawan, saat ini ada sekitar 400 perwira TNI AD yang tidak mendapatkan jabatan sesuai kecakapan yang mereka miliki. Mereka memiliki kualifikasi lulusan Seskoad, Sesko TNI dan bahkan Lemhannas. Dengan program Restrukturisasi ini, akan terbuka ruang bagi para perwira yang berkemampuan untuk memperoleh jabatan sesuai kemampuannya. Dalam restrukturisasi ini, tentu juga memerlukan keseimbangan pangkat, jabatan dan bobot serta keluasan tanggung jawabnya. Langkah ini juga sekaligus mempertajam Tupoksi dan kinerja TNI AD.

Dia Juga mendengar kabar bahwa KSAD akan membentuk Seskoad Ireguler guna memberi kesempatan kepada para perwira berprestasi, tetapi gagal masuk Seskoad akibat birokrasi seleksi. Langkah ini memang dapat menimbulkan pro dan kontra. Dasar pemikirannya kelihatannya sederhana tetapi masuk akal.

Dia juga mendengar kabar bahwa KSAD akan membentuk Seskoad Ireguler guna memberi kesempatan kepada para perwira berprestasi, tetapi gagal masuk Seskoad akibat birokrasi seleksi. Langkah ini tentu dapat menimbulkan pro dan kontra. Dasar pemikirannya kelihatannya sederhana tetapi masuk akal. Perwira yang berprestasi harus juga pandai dengan mendapatkan kesempatan belajar, menimba ilmu.

“Langkah ini tentu memerlukan proses dan kriteria yang tepat bagi perwira yang dianggap berprestasi dan layak mengikuti Seskoad Ireguler,” tambah Mayjen Purn JB Wirawan. (Bersambung). (WW)

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close