Nasional

Gagasan KSAD Jenderal Andika Perkasa (2): Penambahan Usia Pensiun TNI Sangat Menguntungkan Banyak Pihak

GAGASAN Jenderal TNI Andika Perkasa tentang penambahan usia pensiun dari 53 tahun menjadi 58 tahun bagi tamtama dan bintara TNI terus menggelinding menjadi perbincangan dan harapan di kalangan tentara. Karena jika gagasam cerdas itu terwujud, ribuam tentara dan keluarganya akan terhindar dari kesulitan ekonomi setidaknya dalam lima tahun. Juga ada efisiensi anggaran negara sangat besar.

Presiden Joko Widodo setuju dengan gagasan Jenderal Andika itu. Presiden menyampaikan dirinya telah memerintahkan kepada Menteri Hukum dan HAM, dan juga Panglima TNI untuk merevisi batas usia pensiun terutama untuk tamtama dan bintara, dari yang sekarang pensiunnya 53 tahun ke 58 tahun Tapi untuk ini, diakui Jokowi harus merevisi undang-undang. Ketua DPR RI Bambang Soesatyo sependapat. Bagaimana sikap tentara yang sesungguhnya?

Berkaitan dengan gagasan penambahan usia pensiun dari 53 tahun menjadi 58 tahun, Sersan Mayor Diah Listyarini yang kini bertugas di Sekolah Tinggi Hukum Milliter (STHM) itu mendukung sepenuhnya. Alasannya, pertama penambahan lima tahun dari usia pensiun sekarang 53 tahun akan menghemat anggaran negara jika mendidik personel baru Ba/Ta setidaknya dalam lima tahun tersebut masih dapat diberdayakan sehingga tidak mengurangi jumlah kekuatan TNI AD.

“Kedua, usia 58 tahun bagi bintara dan tamtama pada umumnya masih relatif memiliki kekuatan dan kemampuan fisik dan masih produktif untuk mengemban tugas-tugas yang membutuhkan kekuatan fisik,” tambah Serma Diah.

Menanggapi hal yang sama, Mayor Wahyudi menyampaikan pendapat sederhana. “Saya sangat setuju karena usia sampai dengan 58 tahun masih cukup produktif bagi seorang TNI dan dari segi ekonomi setidaknya para prajurit golongan bintara dan tamtama bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga lulus sebelum tentara itu memasuki masa pensiun.”

Dia menambahkan bahwa anak tentara perlu pendidikan yang baik agar memiliki masa depan yang baik pula. Karena itu, Wahyudi berpendapat, orang tuanya harus mampu mengantarkannya ke jenjang pendidikan tertinggi.

“Penambahan masa kerja lima tahun yang digagas Bapak Jenderal Andika itu sangatlah rasional. Kami semua mengapresiasi sangat tinggi,” lanjutnya penuh semangat.

Mereka Sangat Bahagia

Dari Kolonel Infantri Junaidi ada cerita menarik usai gagasan Jenderal Andika itu dilontarkan. “Begitu berita ini sampai ke telinga para anggota, mereka sangat bahagia dan mengucapkan terima kasih kepada Bapak KSAD,” ucapnya.

Menurut Kolonel Junaidi anggota dengan usia 53 tahun merupakan usia yang masih sangat produktif dan begitu matang penguasaan atau skill dalam tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Dia memberi contoh seorang bintara pelatih dalam usia 50 an tahun pada dasarnya sudah menguasai dengan sangat mahir metode kepelatihan.

“Sangat rugi satuan tersebut jika harus segera mengakhiri masa dinas anggotanya dalam usia produktif memasuki masa pensiun,” lanjutnya.

Ditinjau dari sisi lain, menurut Junaidi usia 53 tahun para anggota akan dihantui dengan kondisi kemampuan ekonomi yang secara otomatis mengalami penurunan penghasilan signifikan. Padahal anak-anak mereka masih harus bersekolah atau kuliah serta kebutuhan lainnya. Pada usia 53 tahun bagi mantan tentara pada umumnya akan kesulitan mendapatkan pekerjaan baru yang layak untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

“Jadi sudah sangat tepat Bapak KSAD memperjuangkan usia pensiun seluruh prajurit TNI pada usia 58 tahun. Para prajurit sangat berterima kasih. Jasa beliau dengan usulan yang brilian itu akan dikenang selamanya,” Junaidi menambahkan.

Pendapat Mayor Jenderal TNI Purn JB Wirawan menguatkan para yuniornya. Kebijakan menaikkan usia pensiun bintara dan tamtama dari menjadi 58 tahun menurut dia merupakan langkah yang rasional. Kondisi bintara dan tamtama pada usia pensiun selama ini dinilainya masih bugar dan masih mampu berprestasi tinggi.

Walaupun demikian JB Wiawan berharap agar kebijakan ini mesti melalui perencanaan matang agar tidak terjadi penumpukan atau penggelembungan golongan bintara dan tamtama.

“Ini dimaksudkan agar piramida personel di TNI tetap terjaga,” Mayjen Wirawan mantan Koordinator Staf Ahli di Mabes TNI dan mantan Sesmenpora itu menjelaskan alasannya. (MU)

(Bersambung)

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close