Opini

Gagal Paham Laporan Bank Dunia

Saya kemarin seharian membaca laporan Bank Dunia yang katanya mengkritik kebijakan infrastruktur Indonesia.

Lucunya, saya sama sekali tidak menemukan kritik-kritik pedas seperti berita yang ditulis CNNIndonesia. Saya jadi confused. Saya sungguh ingin menemukan poin-poin itu tapi kok tidak ada. Kesan saya ada pihak-pihak yang menulis menurut versinya sendiri. Atau ada masalah dalam memahami bahasa Inggris dari pihak-pihak yang mengomentari dan nemanfaatkan lemahnya kognisi publik untuk membaca detail dan memahami complex financing problems, malas membaca detail, terlalu cepat menyimpulkan menurut kehendak emosinya atau mungkin ada hal-hal lain. Ada baiknya yang mau berkomentar untuk mencerdaskan publik membaca dokumen lengkap setebal sekitar 300 halaman itu agar tidak menyesatkan.

Ya, ada baiknya kita baca bersama lagi sehingga bisa melihat perbedaan antara laporan WB dengan apa yang ditulis media tertentu yang bias.

Intinya WB menyebutkan bahwa sudah lama infrastructure Indonesia (sd 2015) underinvestment, kalah dengan Vietnam yang melakukan investasi di atas 10% untuk infrastruktur sementara Indonesia hanya 2,8% (padahal rata-rata growth di masa lalu sekitar 5,8%) dan lain-lain sehingga logistic cost Indonesia menjadi tinggi dan kalah bersaing.

Lalu saat ini Indonesia mengebut. Lalu disebutkan, atas permintaan pemerintah Indonesia, mereka lakukan InfraSAP (infrastructure Self assessment Program) dan sudah dipresentasikan.

Jadi ini bukan inisiatif WB, juga bukan paper kritik, tetapi menurut saya ini consulting paper biasa untuk melakukan perbaikan proses kementrian yang kali ini dipilih program yang dikaji, yaitu infrastructure.

Rekomendasi World Bank sendiri antara lain:

(1) Agar perencanaan bisa dibuat lebih matang, kalau tidak matang maka qualitas pembiayaan rendah;

(2) Pelibatan Swasta. Partisipasi swasta untuk membangun infrastuktur dibutuhkan karena besarnya pembiayaan yang dibutuhkan (37% dibutuhkan dari swasta, dan 22% BUMN);

(3) Tarif (listrik, tol dll) terlalu rendah dan sebaiknya dinaikkan. Argumentasinya: supaya swasta tertarik; (4) Perbaiki kualitas pengadaan agar lebih terencana; dll.

So, entah mengapa ada media “abal-abal” menulis yang berbeda seakan-akan kritik masa lalu terjadi hari ini?

Menarik utk ditindaklanjuti…

Penulis Prof. Rhenald Kasali

KOMENTAR
Tags
Show More
Close