FPI: Ormas, Teroris atau Antek Asing?

FPI: Ormas, Teroris atau Antek Asing?
Istimewa

Oleh: Tontowy

APAKAH FPI ormas biasa? Menurut Irjen Pol Purn Benny Mamoto, ada sekitar 37 sosok yang pernah terkait FPI ternyata pelaku teror.

FPI juga punya milisi yang disebut Laskar. Dilengkapi senjata tajam, seperti terlihat di berbagai foto yang beredar di media sosial.

Selain punya laskar dan wilayah kekuasaan, FPI juga punya struktur yang jelas. Maka, FPI bukan ormas biasa, tapi non state armed group.

Maka, antisipasi dan penyikapan yang dilakukan oleh aparat tidak bisa disamakan dengan ormas biasa.

Ketika aparat melakukan physical surveillance, pihak FPI menafsirkannya berbeda. Karena mereka memang tidak paham.

Physical surveillance (pengawasan fisik) merupakan cara yang lazim dalam upaya penegakkan hukum. 

Metode physical surveillance diterapkan kepada Rizieq, memang sudah sepatutnya, karena terbukti dia pernah buron, selama tiga tahun lebih.

Karena tidak paham, FPI memaknai physical surveillance sebagai rencana penangkapan. 

Akibatnya, aparat yang sedang bertugas melakukan physical surveillance, disikapi seperti musuh dalam peperangan.

Maka, yang berlaku adalah hukum perang: to kill or be killed. Membunuh atau mati terbunuh.

Dari peristiwa tak terduga itu, diperoleh bukti bahwa laskar FPI tidak hanya dipersenjatai senjata tajam, tapi juga senjata api ilegal. 

Artinya, FPI melanggar UU Darurat 12/1951.

Menjelang pelaksanaan aksi 18 Desember 2020, Kanselir Jerman bernama Angela Merkel terlihat menyambangi markas FPI.

Usai dikunjungi Angela Merkel, FPI pun menyampaikan pernyataan pers. Mengesankan adanya dukungan Jerman terhadap kematian enam anggota FPI. 

Pejabat dari Kedutaan Jerman menjelaskan, “She wanted to know if there are any demonstrations of the FPI planed around the 18.12.20...”

Angela cuma ingin tahu, apakah FPI mengelar aksi pada tanggal 18 Desember 2020 di bundaran HI.

Kalau sekedar ingin tahu, bisa kirim lokal staff, sehingga tidak menarik perhatian dan menimbulkan spekulasi.

Spekulasi yang timbul, FPI antek asing, Jerman ikut camput urusan domestik RI karena punya kepentingan.

Sejak awal 2020 pemerintah melarang ekspor bijih nikel (ore) ke negara manapun. Berdasarkan UU Minerba, hanya bijih nikel yang telah diolah yang bisa diekspor.

Kebijakan itu jelas merugikan Jerman dan Uni Eropa. Dari sini timbul spekulasi, Jerman (dan Uni Eropa) berkepentingan terhadap aksi 181220 lalu. 

Siapa tahu melalui aksi itu bisa mendongkel pemerintahan yang sedang berlangsung.

Kesimpulannya, FPI selain berwatak teroris juga melayani kepentingan asing. Sama sekali tidak membela rakyat Indonesia atau umat Islam.