Forum Anak Nasional Menyoal Pernikahan Usia Anak dan Bullying

Forum Anak Nasional Menyoal Pernikahan Usia Anak dan Bullying

SURABAYA, SENAYANPOST.com – Pertemuan Forum Anak Nasional (FAN) 2018 yang digelar di Hotel Singgasana Surabaya berhasil dan sukses mempertemukan ratusan anak dari berbagai wilayah di Indonesia, Minggu (22/7/2018).

Dalam pertemuan itu, mereka mendiskusikan sejumlah topik aktual terkait isu-isu pemenuhan hak dan perlindungan anak, seperti pernikahan usia anak, bullying, radikalisme, terorisme, dan anti toleransi.

Rahmalia Puteri salah satu peserta dari perwakilan dari Kota Kediri mengungkapkan bahwa dirinya bersama teman-temannya mengambil isu tentang pernikahan usia anak.

“Menurut kami, di Provinsi Jawa Timur masih terjadi pernikahan usia anak. Dalam pertemuan FAN 2018, kami mencoba menemukan solusi atas permasalahan tersebut. Kami berharap melalui forum ini, kami dapat menyusun Suara Anak Indonesia agar nantinya dapat direalisasikan oleh pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya,” ujar Rahmalia, Minggu (22/7).

Rahmalia menilai berbagai permasalahan yang dialami anak-anak membutuhkan komitmen bersama dari seluruh pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan di negeri ini.

Dia berharap, nantinya Joko Widodo Presiden RI dapat menghadiri Puncak Acara Hari Anak Nasional (HAN) 2018 di Kabupaten Pasuruan pada 23 Juli 2018 mendatang.

Ia ingin, Presiden bisa secara langsung mendengarkan hasil diskusi mereka yang terkristal dalam sebuah Suara Anak Indonesia 2018.

Christin Chatrin Nebore perwakilan dari Sorong, Papua Barat, mengatakan dia bersama teman-temannya membahas isu tentang radikalisme, terorisme, dan anti toleransi. Dia merasa prihatin dengan anak-anak yang sering dilibatkan dalam aksi terorisme.

“Menurut kami, anak-anak pun bisa mengambil peran aktif dalam memerangi aksi-aksi radikalisme, terorisme, dan anti tolerasi. Pertama, lakukan pendekatan dari diri sendiri. Tanamkan rasa nasionalisme, toleransi, dan solidaritas dalam diri. Anak-anak harus bisa menyaring informasi dan jangan terpengaruh provokasi yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya,” papar Christin.

Christin menambahkan setelah dimulai dari diri sendiri, lanjutkan, dengan lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Di sekolah, anak-anak bisa bekerjasama dengan organisasi yang ada di sekolah, seperti dewan guru, komite sekolah, guru Bimbingan dan Konseling (BK). Sementara di lingkungan masyarakat, anak-anak bisa bekerjasama dengan lembaga organisasi masyarakat yang berkaitan dengan lembaga pendidikan. Tentunya hal ini harus mendapat dukungan dari orang tua. (MU)