Opini

Firasat Gus Dur tentang Jatuhnya BJ Habibie

KETIKA BJ Habibie mendirikan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Abdurrahman Wahid (Gus Dur) salah satu dari sedikit cendekiawan yang tidak setuju.

“Buat apa bikin ICMI, itu kan maunya Pak Harto saja, agar ada tambahan penopang kekuasaannya di samping yang sudah ada, tentara. Jadi Habibie iti cuma suruhan Pak Harto,” kata Gus Dur kepada saya di ruang kerjanya PBNU pada tahun 1990an. Sebagai jurnalis tentu saja di masa itu saya tak berani menuliskannya dalam berita.

Meskipun secara pribadi hubungan Gus Dur dengan BJ Habibie sangat baik, tetapi saya sering mendengar guyonan, unek-unek, dan kritikan tentang Habibie yang pada akhirnya menjadi Presiden katiga RI pasca lengsernya Presiden Soeharto.

Misalnya ketika banyak orang yang membanggakan Habibie sebagai ahli perancang pesawat terbang, Gus Dur mengomentari dengan guyonan. “Wong Habibie itu bisanya hanya bisa membuat ekor pesawat kok mas,” katanya kepada saya.

“Masa sih Gus hanya bisa merancang ekor pesawat. Enggaklah,” sergah saya.

“Coba dieja Ha-bi-bi-e, Hanya Bisa Bikin Ekor….haha…” ujarnya sambil tertawa.

Pada suatu hari dalam keadaan sakit dan terbaring di kamarnya, di kediaman Ciganjur, Jakarta Selatan, Gus Dur saya temani mendengarkan siaran langsung pemberian penghargaan gelar Bintang Mahaputra dari Presiden kepada Ibu Ainun Habibie, Gus Dur pun nyeletuk,

“Dengar itu mas, masa isterinya sendiri disemati bintang penghargaan di istana. Mbok ya kasih di rumah saja.”
Tetap dengan nada gurauan.

Ada yang disampaikan dengan agak serius kepada saya pada sebuah peristiwa penting saat Gus Dur mendampingi putri sulungnya Allysa Qatrunnada Munawaroh Rahmanbalias Allysa Wahid dalam resepsi pernikahan di Balai Sudirman Jakarta pada tahun 1999. Ketika bersama istri saya dapat giliran menyalami Gus Dur, Bu Sinta Nuriah dan kedua mempelai, Gus Dur sempat menahan saya dan membisikkan sesuatu.

“Tahu kan mas tadi kran bunga ada yang jatuh waktu Pak Habibie lwat mau ke sini?”

“Tahu Gus. Saya lihat hanya beberapa meter di depan saya.”

“Itu artinya sebentar lagi Habibie mau jatuh,” kata Gus Dur.

“Masa sih Gus. Kayaknya kebetulan bunganya kesandung kaki Pak Habibie aja,” kata saya.

“Wah sampeyan selalu nggak percaya sama saya,” lanjut Gus Dur dengan nada serius

“Sudah ya Gus saya pamit. Masih panjang antreannya yang mau salaman.”

Saya gamit tangan isteri bersama anak sulung saya untuk berbaur dengan para tamu undangan menikmati berbagai hidangan.

Saya memang melihat langsung peristiwa itu. Saya anggap robohnya bunga papan itu biasa saja, karena tersenggol entah oleh kaki atau tangan Pak Habibie.

Mundur ke belakang. Kisah naiknya Habibie menggantikan Presiden Soeharto setelah kerusuhan Mei 1998. Untuk menghindari kekosongan dan sesuai bunyi konstitusi dilantiklah BJ Habibie. Pada 22 Mei 1988 Presiden Habibie mengumumkan Kabinet Reformasi. Namun sebagian rakyat tidak dapat menerima hal ini sepenuhnya, karena Habibie tetap dianggap sebagai tangan kanan dari Soeharto dan merupakan raja KKN sebagaimana pendahulunya.

Habibie naik menjadi Presiden bukan dari hasil pemilihan, melainkan hanya dibawa Soeharto dalam satu paket Capres dan Cawapres melalui Sidang MPR yang anggotanya kala itu didominasi oleh Fraksi Golkar, Fraksi ABRI dan Fraksi Utusan Daerah/Golongan. Karena itu sejumlah komponen mahasiswa dan pegiat demokrasi berunjuk rasa dengan tuntutan menurunkan Presiden Habibie.

Demonstrasi ini dilakukan juga sebagai tindak lanjut dari penolakan mereka terhadap proses Pemilu 1977 yang di dalamnya dinilai penuh dengan rekayasan dan intervensi

Puncak ketegangan terjadi pada saat diadakannya Rapat MPR untuk membahas Pemilu dimana para mahasiswa dan pegiat pro demokrasi menghendaki perwakilan yang benar. Rapat MPR pun berjalan tanpa mengindahkan keinginan.mahasiswa. Pada saat sidang berlangsung, mahasiswa dilarang untuk mendelati Gedung MPR/DPR. Aparat menembak dengan peluru karet, peluru kosong, bahkan peluru tajam pada para pengunjuk rasa. Banyak korban berjatuhan di kalangan mahasiswa.

Sejarah bergulir Pada tanggal 1 sampai 21 Oktober 1999, MPR mengadakan Sidang Umum MPR yang digelar di bawah pimpinan Ketua MPR Amien Rais. Tanggal 14 Oktober Presiden Habibie sampaikan pidato pertanggungjawaban Presiden sebagai Mandataris MPR. Empat fraksi di MPR, yakni Fraksi PDI Perjuangan, Fraksi Kebangkitan Bangsa, Fraksi Kesatuan Kebangsaan, dan Fraksi Demokrasi Kasih Bangsa menolak pertanggungjawaban Presiden Habibie. Pada umumnya masalah yang dipersoalkan adalah lepasnya Timor Timur dari Republik Indonesia, KKN, termasuk pengusutan atas kekayaan Soeharto, dan pelanggaran HAM.

Sementara di luar Gedug DPR/MPR, mahasiswa dan rakyat yang anti Habibie bentrok dengan aparat keamanan. Mereka juga menolak pertanggungjawaban Habibie karena Habibie dianggap sebagai bagian yang tak terpisahkan dari rezim Orba dj bawah Soeharto

Pada tanggal 20 Oktober 1999, Ketua MPR Amien Rais menutup Rapat Paripurna MPR sambil menyatakan, “Dengan demikian Pertanggungjawaban Presiden BJ Habibie ditolak.”

Pada hari yang sama Presiden Habibie menyatakan bahwa dirinya mengundurkan diri dari pencalonan Presiden. Habibie juga dengan ihlas menerima penolakan MPR atas pertanggungjawabannya.

Saya jadi ingat dan percaya kata-kata Gus Dur kepada saya di panggung pelaminan putri sulungnya, “Habibie sebentar lagi mau jatuh mas.” Gus Dur ternyata sudah punya firasat tajam. Kata-kata yang semula saya anggap hanya guyonan menjadi kenyataan.

Subhanallah.

(Dikutip dengan revisi dari Buku “Mata Batin Gus Dur”, karya Imam Anshori Saleh, diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2016).

KOMENTAR
Tags
Show More
Close