Oleh: Syaefudin Simon, Kolumnis
SENAYANPOST - Nonton film Oppenheimer di Paragon Solo, Selasa malam tak puas. Aku datang terlambat, 20 menit setelah film mulai.
Ini karena semula aku mau nonton di Solo Square, ternyata film Oppenheimer sudah gak diputar lagi di sana.
Aku tanya ke bagian tiket XXI, di mana yg masih mutar film Oppenheimer? Ternyata di Paragon Solo. Aku kejar ke Paragon. Masih bisa beli tiket nonton film, meski terlambat.
Terlambat 20 menit dari film panjang 3 jam sebetulnya masih bisa ditolerir. Tapi aku gak puas. Karena film ini sangat bagus. Makanya setiba di Bekasi aku mo nonton lagi. Ingin lihat dari awal. Mudah2an masih diputar di XX1 Sumarecon.
Baca Juga: Akhirnya AHM Meluncurkan Motor Listrik Bernama Honda EM1 e, Ini Spesifikasi dan Keunggulannya
Film Oppie ini luar biasa. Kisahnya mengaduk-aduk rasa, rasio, dan etika. Dialognya bermutu, dari masalah sains, filsafat, kemanusiaan, kematian, dan kiamat. Detil dan detik-detik ledakan bom atom pun tersaji dengan runtut.
Bom atom, kata Oppie, bukan bom biasa. Ia bom yang memanipulasi kekuatan alam untuk menghancurkan semesta, mengerikan. Semacam suicide bomb yang diledakkan alam untuk membunuh dirinya sendiri.
Kita berharap, jangan sampai ada lagi bom atom meledak seperti di Hiroshima dan Nagasaki.
Adegan bagaimana pencipta bom atom Oppenheimer yang dipuja kemudian dilecehkan Presiden Truman sangat menyedihkan. Oppie tak setuju pembuatan bom hidrogen yg lebih dahsyat demi "keamanan Amerika."
Baca Juga: Syahnaz Sadiqah Sebut Hubungan dengan Jeje Govinda Baik, Makin Akur
"Singkirkan anak cengeng itu," kata Truman kepada stafnya. Ya. Oppie dianggap cengeng karena tidak mau membuat bom hidrogen. Alasan Oppie, jika Amerika membuat bom hidrogen, Uni Soviet pun akan membuat bom yang sama. Uni Soviet juga punya banyak fisikawan yang hebat," ujar Oppie.
Tapi Truman yakin, Uni Soviet tak akan bisa membuat bom atom. Kini terbukti, kekuatan bom atom Uni Soviet (Rusia) menakutkan Paman Sam.
Di situ terlihat, betapa nafsu Frankenstein pada homo sapiens lebih dominan dari kelembutan Bunda Theresa.