Ekonomi RI Diprediksi Minus Sampai Akhir Tahun

Ekonomi RI Diprediksi Minus Sampai Akhir Tahun

JAKARTA, SENAYANPOST.com –  Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sudah terkontraksi 5,32 persen pada kuartal II 2020 diperkirakan akan berlanjut sampai akhir tahun ini. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memprediksi Indonesia terjebak resesi pada kuartal III 2020.

Berdasarkan proyeksi yang dipaparkannya saat memberi sambutan di acara peluncuran CAC Indonesia, ia memperkirakan ekonomi Tanah Air akan negatif 1 persen pada kuartal III 2020. Lalu, kembali negatif sekitar 1,38 persen pada kuartal IV 2020.

Dengan begitu, ia memperkirakan ekonomi nasional akan tumbuh 0,49 persen untuk keseluruhan tahun ini. “Diharapkan di kuartal III ini bisa membaik dengan prediksi minus 2 persen sampai minus 1 persen atau bahkan kita berharap bisa masuk ke positif,” ungkap Airlangga, Selasa (11/8/2020).

Proyeksi ini sejatinya lebih buruk dari estimasi yang pernah dipaparkannya sebelum Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk kuartal II 2020. Sebelum kantor statistik menyampaikan ekonomi minus 5,32 persen pada kuartal II 2020, Airlangga memperkirakan laju perekonomian minus 1 persen pada kuartal III 2020.

Proyeksinya masih sama sampai hari ini, namun perekonomian diramal membaik pada kuartal IV 2020, di mana proyeksi awal positif 1,4 persen. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bisa positif nol persen pada 2020.

Atas proyeksi yang lebih buruk ini, Airlangga menyatakan pemerintah terus berusaha mempercepat penyaluran anggaran penanganan dampak pandemi virus corona atau covid-19 dan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Pemerintah menganggarkan dana mencapai Rp695,2 triliun untuk kedua program.

Anggaran itu terbagi untuk kesehatan Rp87,55 triliun, perlindungan sosial Rp203,9 triliun, stimulus UMKM Rp123,46 triliun, sektoral kementerian/lembaga dan pemda Rp106,11 triliun, pembiayaan korporasi Rp53,57 triliun, dan insentif usaha Rp120,61 triliun.

Per 6 Agustus 2020, realisasi penggunaan anggaran baru mencapai Rp151,25 triliun atau 21,75 persen dari total pagu. Ia menargetkan pemerintah bisa membelanjakan anggaran tersebut lebih jor-joran pada kuartal III 2020.

“Oleh karena itu kami harus mendorong belanja pemerintah ataupun spending daripada masyarakat, diberi rasa nyaman dan aman agar ekonomi bisa berjalan,” katanya.

Untuk tahun depan, Airlangga memperkirakan ekonomi nasional bisa tumbuh 3,2 persen pada kuartal I 2021, 6,75 persen pada kuartal II, 5,03 persen pada kuartal III, dan 5,1 persen pada kuartal IV 2021. Secara total ekonomi tahun depan berada di kisaran 5,02 persen, level yang biasa dirasakan Indonesia sebelum munculnya pandemi virus corona.

Kendati proyeksi ekonomi Indonesia memburuk pada kuartal III dan IV 2020, namun Airlangga mengklaim kondisi yang akan dialami Indonesia sejatinya lebih baik ketimbang negara lain. Sebab, banyak negara di dunia yang jatuh lebih dalam dan sudah masuk ke jurang resesi sejak kuartal II 2020.

Negara-negara yang perekonomiannya jatuh pada kuartal II 2020, yaitu Korea Selatan minus 2,9 persen, Jepang minus 8,8 persen, Hong Kong minus 9 persen, Amerika Serikat minus 9,5 persen, Jerman minus 11,7 persen, Uni Eropa minus 15 persen, Prancis minus 19 persen, dan Inggris minus 19,9 persen.

Begitu pula dengan Malaysia minus 8,4 persen, Thailand minus 11,05 persen, Brasil minus 12,3 persen, Singapura minus 12,6 persen, Filipina minus 16,5 persen, dan Argentina minus 16,7 persen.

“Beberapa negara lain termasuk Brasil, Argentina, dan India pun jatuh lebih dalam minus 18,92 persen,” tuturnya.