Internasional

Duterte Balas Sebut Pejabat PBB Berkepala Kosong

MANILA, SENAYANPOST.com – Komentar pedas dilontarkan Presiden Filipina Rodrigo Duterte terhadap Komisioner HAM PBB Zeid Ra’ad Al Hussein. Duterte bilang, Hussein memiliki kepala yang besar, tapi tak berisi.

“Dengar, Anda punya kepala yang besar, tapi kosong. Tidak ada jaringan korteks di antara telinga Anda. Kosong. Tak ada isinya. Kepala Anda bahkan tak memproduksi nutrisi agar rambutmu bisa tumbuh karena rambutmu tak ada,” kata Duterte.

Pernyataan itu dilontarkan Duterte setelah Hussein mengatakan bahwa Presiden Filipina itu butuh diperiksa kejiwaannya karena terus menyerang utusan PBB yang mengkritik kampanye anti-narkoba kontroversial Filipina.

“Hei, anak pelacur, komisioner, saya perlu ke psikiatri? Psikiatri itu berkata kepada saya, ‘Anda baik-baik saja. Anda hanya suka mencaci,'” ucap Duterte, sebagaimana dikutip AFP, Selasa (4/4/2018).

Zeid waktu itu kecewa karena Duterte dinilai telah melecehkan sejumlah pejabat PBB, di antaranya adalah Pelapor Khusus Agnes Callamard.

Saat itu, Duterte menggunakan kata-kata kotor, dan mengancam bakal menampar Callamard karena mengkritik kampanye anti- narkoba yang digelarnya.

“Ini membuat kami percaya kalau Presiden Filipina ini membutuhkan evaluasi kejiwaan,” kata Zeid pada 9 Maret lalu.

Selama ini, Duterte memang sangat keras membela kampanye anti-narkoba yang ia gaungkan sejak pertama kali naik takhta dua tahun lalu.

Sejak saat itu, sekitar 4.100 terduga pengedar narkoba di Filipina tewas tanpa proses peradilan yang jelas.

Tiap kali mendapat kecaman, Duterte meminta pihak tersebut untuk diam karena mereka tak tahu masalah yang sebenarnya mencengkeram Filipina sejak lama.

“Saya kasar? Saya memang kasar. Saya tak bisa mengubah itu. Saya membunuh orang? Ya, saya membunuh orang. Silakan mengedarkan narkoba, saya sudah minta Anda untuk berhenti,” kata Duterte.

Menanggapi berbagai pihak yang berupaya menyelidiki dugaan pelanggaran HAM dalam kampanye tersebut, Duterte berkata, “Kalian hanya berkhayal dapat memenjarakan saya.”

Presiden 73 tahun tersebut pernah menghina mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama, dan Pemimpin Katolik Roma Paus Fransiskus.

Sejak Juli 2016, Duterte melaksanakan kampanye untuk memerangi peredaran narkoba. Namun, sejumlah organisasi kemanusiaan menyebut dia melakukan pelanggaran HAM.

Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) pun mengeluarkan pernyataan bakal memulai penyelidikan untuk membuktikan dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan Duterte.

Sikap ICC membuat Duterte memutuskan keluar dari Statuta Roma, dasar pembentukan ICC. Sebabnya, ICC tidak mempunyai yurisdiksi di negaranya jika merujuk kepada Undang-Undang Sipil yang baru.
Berdasarkan peraturan tersebut, sebuah hukum baru bisa berlaku secara efektif jika dipublikasikan di jurnal pemerintah Official Gazette, atau media massa lain.

Selain itu, Duterte juga menjelaskan kalau hukum internasional tidak boleh mengerdilkan hukum domestik.

Mantan Wali Kota Davao itu menambahkan, pasukan yang memburu pengedar maupun pemakai narkoba tidak bermaksud untuk membunuh.

“Jika ada orang yang tewas, semata-mata karena penegak hukum kami berusaha membela diri,” papar presiden yang akrab disapa Digong tersebut. (WW)

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close