Catatan dari Senayan

Dusta di Tengah Bencana Merontokkan Elektabilitas

HARI-HARI belakangan ini perhatian bangsa kita tengah tertuju ke dua bencana besar, Lombok dan Sulawesi Tengah. Pemerintah berjuang keras mengerahkan segala daya untuk menolong para korban bencana. Kita semua menundukkan kepala dan ikut membantu apa yang bisa kita lakukan. Bangsa dan negara lain pun berempati mengulurkan tangan, memberikan perhatian dan bantuan. Tiba-tiba ada yang mencuri perhatian, seorang ibu menunjukkan kepedihannya mengaku dianiaya tiga lelaki. Mukanya lebam dan kisah penganiayaannya yang dituturkannya dramatis dan sangat keji menjadi viral di media sosial. Heboh.

Meski sebenarnya kondisi itu tak seberapa dibandingkan dengan derita ratusan ribuan korban bencana yang diduga masih terimpit tanah dan bangunan di Palu, Donggala, Sigi, dan sekitarnya, toh pengakuan Ratna Sarumpaet, ibu berusia 70 tahun itu mengusik nurani kita. Apalagi foto yang dipertontonkan ─║ewat media sosial dan media massa menyiratkan tindakan tidak manusiawi para penganiaya. Sebagian perhatian dan energi kita tersedot oleh pengakuan Ratna. Ditambah dengan nama tenar Ratna yang seniman yang lama malang melintang di jagat seni peran.

Karena posisinya sebagai anggota tim kampanye calon Presiden dan momentumnya di masa kampanye, kasus Ratna Sarumpaet pun di-blow up sedemikian rupa untuk kepentingan politik, menuding dan menghantam lawan politik. Sejumlah petinggi koalisi parpol pendukung Prabowo-Sandi dengan penuh semangat terkesan menyudutkan kubu Jokowi-Ma’ruf. Sebagian publik terpengaruh dan sempat percaya. Tetapi sebagian lainnya mencurigai kasus Sarumpaet itu tak wajar.

Adalah sesama seniman, penyanyi Tompi yang juga dokter ahli estetika berteriak, ada yang tidak benar dengan pengakuan Sarumpaet. Polisi yang merasa tersudut pun mengusut. Tak ditemukan secuil pun bukti penganiayaan. Yang terbukti malah sebaliknya, Sarumpaet memanipulasi diri. Dia berbohong besar. Wajah lebam yang diakuinya sebagai akibat penganiayaan ternyata merupakan buah dari proses operasi plastik alias olah kecantikan. Hasil investigasi dan bukti-bukti yang terhimpun menunjukkan kebohongan Sarumpaet. Gantian dia yang tersudut. Dia mengakui dusta besar atas ulahnya. Publik pun terhenyak. Dalam istilah Jawa, “becik ketitik ala ketara“. Yang baik akhirnya ketahuan, yang buruk pun tampak jelas.

Para petinggi koalisi pendukung Prabowo ikut belepotan dosa. Empati dan dukungan mereka terhadap Sarumpaet berubah sontak menjadi, cercaan, makian, dan kemarahan besar. Mereka merasa terlibat dusta. Termasuk di dalamnya Prabowo, Amien Rais, Rizal Ramli, Fadli Zon, Fahri Hamzah, dan nama-nama pesohor lainnya. Dari mulut mereka sudah telanjur keluar kata-kata membela dan menuding. Jari yang lurus menunjuk pihak lain lunglai balik menunjuk diri sendiri.

Dusta.di antara bencana. Lalu kita bisa menyimpulkan dan menyanyangkan. Serendah itu cara kelompok itu memanfaatkan momentum. Tanpa tabayyun langsung menghantam lawan politik. Inginnya.menaikkan elektabikitas menghadapi Pilpres, alih-alih yang diperoleh adalah jatuhnya kepercayaan publik. Itikad kampanye yang bersih damai dan bermartabat sama sekali tak nampak. Sarumpaet yang ingin mempercantik wajah malah berwajah buruk di mata masyarakat. Dia telah menjadi “emak-emak” pendusta yang menjatuhkan kredibilitas diri dan bisa jadi merontokkan elektabilitas junjungannya.

Rasanya, sekali lancung di ujian, susah kembali meraih kepercayaan. Kepercayaan dan juga elektabiltas Prabowo-Sandi yang telanjur ambruk, lebih porak poranda ketimbang kondisi Lombok dan Sulawesi Tengah yang diterjang gempa dan tsunami.

Salam.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close