Duka di Pabrik Mercon

10:31
229
DUKA KORBAN PABRIK MERCON -- Kita semua berduka yang mendalam untuk korban dan keluarga korban dalam petaka pabrik mercon di Kosambi, Tangerang.

MANAKALA datang bencana alam, banjir, gampa bumi, tanah longsor, atau lainnya, seberapa pun korban jiwa , masyarakat memakluminya. Meski tetap dengan rasa duka. Bencana alam sebagian besar merupakan rahasia Tuhan. Musibahbyang datang tak terduga, kapan dan di mana. Tapi kalau kecelakaan di sebuah pabrik seperti di pabrik atau tempat industri seorang pun korbannya, akan dipertanyakan orang. Karena kecelakaan kerja selalu disebabkan oleh faktor manusia, human eror.

Seperti yang terjadi di sebuah pabrik Mercon di Kosambi, Tangerang, dua hari yang lalu. Jumlah korban sampai 47 jiwa manusia itu sungguh mengiris nurani di samping mengundang tudingan kuat adanya keteledoran yang sangat. Mesti ada yang bertanggung jawab, pemilik pabrik dan pemberi izin beroperasinya industri yang sesungguhnya tidak dibutuhkan masyarakat itu.

Mencermati kondisi pabrik dari berita yang beredar memang sangat tidak layak. Pekerja nyaris tak bisa beranjak daru tempat kerja. Ruang sempit tak memungkinkan pekerja beraktivitas nyaman. Lebih-lebih di saat gawat terjadi kebakaran, pekerja sulit dan bahkan tak dapat menyelamatkan diri. Hal ini yang tampaknya tidak diperhitungkan oleh pemilik pabrik dan pemberi izin yang kompeten. Sungguh hal ini merupakan kecerobohan yang luar biasa. Konsekuensinya pemilik pabrik dan pemberi izin beroperasinya mesti mendapat sanksi yang proporsional. Mereka harus bertanggung jawab secara hukum.

Ketika semua pabrik-pabrik atau bentuk aktivitas kerja diwajibkan mewujudkan zero accident ternyata ada pabrik yang teledor seperti itu. Pekerja hanya diperlakukan sebagai alat industri, bukan sebagai subyek yang harus dijamin keselamatannya sebagai faktor terpenting dalam proses produksi.

Ini pelajaran yang sangat berharga bagi pemerintah dan kita semua. Memberi izin sebuah pabrik harus benar-benar harus cermat dan melalui kajian yang mendalam. Apalagi yang diproduksi termasuk barang yang mudah terbakar dan membahayakan pekerja maupun masyarakat di sekitarnya. Juga perlu dipikirkan apakah mercon atau petasan masih layak diproduksi mengingat jenis barang ini lebih banyak mudharatnya dibandinglan manfaatnya.

Apalagi setelah melihat korban-korbannya adalah kaum papa, sebagian anak-anak di bawah umur dan orang tua yang tidak diikat dengan jaminan asuransi seperti BPJS dan jenis jaminan lainnya.

Comments

comments