Otomotif

Duh, Industri Otomotif Indonesia Terancam Syok Suplai

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Industri otomotif nasional terancam bisa terkena syok suplai alias supply shock karena kondisi produksi manufaktur yang terhambat. Pasalnya, pemulihan pasar biasanya akan lebih cepat dibandingkan kemampuan produksi pabrik, sehingga permintaan pasar sulit terpenuhi.

Berdasarkan analisa kondisi Juni 2020, syok suplai terjadi seiring pulihnya daya beli masyarakat di tengah pandemi virus corona alias Covid-19. Sedangkan pandemi membuat industri otomotif di Indonesia terluka, terutama para perusahaan pemasok komponen lokal tier III.

Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono mengatakan, ini karena adanya potensi lonjakkan permintaan atas kendaraan bermotor baru, sementara pasokkan unit belum pulih sepenuhnya. Pasar otomotif biasanya bisa pulih dengan cepat, tapi produksi di pabrik harus bertahap.

“Berdasarkan pengalaman, ketika situasi sudah normal maka penjualan akan meningkat dua sampai tiga kali lipat dari sebelumnya. Ini jadi tantangan karena supply masih berangsur pulih,” kata Warih dalam diskusi virtual terbatas, Jumat (26/6/2020).

Sebagaimana diketahui, aktivitas industri dan bisnis baru kembali berjalan pada Juni 2020 (setelah Lebaran) usai stop sementara selama hampir satu bulan penuh di Mei 2020 guna menekan penyebaran virus corona.

Imbasnya, tak sedikit para pemasok komponen lokal yang mengalami permasalahan keuangan termasuk di antaranya biaya operasional atau yang berkaitan dengan cash flow. Jadi, tidak mudah untuk mereka kembali beroperasi dengan normal dalam waktu dekat.

“Pemerintah tentu telah mengeluarkan bantuan, tak terkecuali kita sebagai manufaktur. Tapi, yang mereka harapkan itu bantuan mengenai listrik, pinjaman (funding), dan hal-hal konkret lainnya,” kata Direktur Administrasi, Korporasi, dan Hubungan Eksternal TMMIN Bob Azam di kesempatan sama.

“Sebab, kalau volumenya (produksi) kurang dari 50 persen, fixed cost-nya tinggi sekali. Kalau dahulu, mungkin masih manageable. Ini yang kita coba bedah dan kemudian disampaikan ke pemerintah, khususnya Kementerian Perindustrian (Kemenperin),” lanjutnya.

Pasalnya, pemberian stimulus terhadap industri terkait di Indonesia tidak bisa dilakukan secara langsung ke perusahaan yang membutuhkan, seperti beberapa negara lain. Namun, di Indonesia bantuan disalurkan melalui lembaga atau bank, sehingga perlu ada transmisi atau pengiriman/penerusan.

“Kita harapkan, proses transmisi ini bisa dipercepat dan efektif karena semakin lama diberikan (bantuan terhadap industri komponen), maka mereka akan semakin menderita,” ucap Bob.

“Jika dibiarkan, kekhawatiran terjadi syok suplai (supply shock). Demand atas kendaraan baru recovery, tapi suplai terhambat karena terkendala modal kerja, cash flow, di samping impor bahan baku mengingat negara-negara lain juga belum beroperasi secara normal,” tambahnya.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close