Dua Kandidat Terkuat Pengganti Risma Sebagai Wali Kota Surabaya

Dua Kandidat Terkuat Pengganti Risma Sebagai Wali Kota Surabaya

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Pilwakot Surabaya 2020 menjadi salah satu kontestasi yang menarik perhatian, tak hanya warga Jatim. Banyak yang bertanya-tanya, siapa pengganti Tri Rismaharini alias Risma yang sudah dua periode memimpin Surabaya.

Melihat kontestasi yang terjadi di Surabaya saat ini, Peneliti Senior Surabaya Survey Center (SSC), Sukorim Abdussalam, mengatakan kemungkinan terdapat dua kandidat calon wali kota pengganti Risma. Pertama, Machfud Arifin dan kedua, calon yang akan diusung PDIP.

Machfud Arifin bisa dibilang didukung oleh koalisi raksasa. Hingga saat ini, mantan Kapolda Jatim tersebut telah mengantongi dukungan dari 8 partai untuk maju Pilwalkot Surabaya yakni PKB, PPP, Nasdem, Golkar, Demokrat, PAN, PKS, dan Gerindra.

Sukorim mengatakan, kehadiran Machfud yang didukung koalisi besar merupakan fenomena tak biasa di Pilwalkot Surabaya.

“Pak Arifin ini calon yang tidak biasa karena beliau ini jenderal bintang dua, sangat jarang jenderal bintang dua turun mencalonkan diri di level kota dan kabupaten. Biasanya kan jenderal bintang dua di level gubernur,” ujar Sukorim kepada kumparan, Jumat (7/8).

Menurut dia, siapa pun yang nanti melawan Machfud Arifin di Pilkada 2020 tidaklah mudah. Ada banyak faktor yang membuatnya tak bisa dipandang sebelah mata.

“Tidak mudah melawan calon tak biasa seperti ini. Apalagi kita melihat tanda-tanda koalisi sangat gemuk, artinya komunikasi ke parpol-parpol relatif efektif ke Pak Arifin,” ujar dia.

Machfud Arifin sendiri sudah tiga kali menjabat sebagai Kapolda. Pada 2013, ia pernah menjadi Kapolda Maluku Utara. Kemudian pada 2013-2015, ia menjadi Kapolda Kalsel. Kemudian pada 2016-2018, Machfud menjadi Kapolda Jatim.

Calon dari PDIP

Sementara itu, PDIP yang memiliki 15 kursi di DPRD Surabaya belum menentukan sikap apakah bergabung dengan koalisi raksasa yang mengusung Machfud Arifin atau mengusung calon sendiri. Sejauh ini, PDIP santer disebut akan mengusung calon sendiri.

“Kalau PDIP mengusung calon sendiri karena dia juga punya kursi lebih bisa calonkan sendiri, akan head to head antara Pak Machfud bersama calon PDIP. Kalau kemudian lihat peta seperti itu, menurut saya akan sangat kompetitif kenapa? Karena PDIP punya tradisi sejarah yang panjang di Pilwali Surabaya, sejak Pilwali langsung PDIP selalu menang,” kata Surokim.

Meski belum memutuskan sikap di Pilwalkot Surabaya, Sukorim mengatakan sebenarnya Wakil Wali Kota Surabaya Wisnu Sakti Buana merupakan kader PDIP yang menjadi calon kuat cawalkot Surabaya. Wisnu dinilai memiliki struktur yang mengakar di Surabaya serta elekabilitas tinggi. Memang selama ini nama Wisnu santer disebut bakal diusung di Pilwalkot Surabaya.

Namun, meski mengakar di PDIP Surabaya, belum tentu sosok Wishnu memiliki akses yang kuat meyakinkan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri untuk maju. Sehingga, tak menutup kemungkinan PDIP akan memperhitungkan kader tingkat pusat diturunkan maju Pilwalkot Surabaya.

“Apakah Mas Wisnu sekuat itu juga akses ke DPP untuk menyakinkan Bu Mega, itu yang selama ini menjadi zona gelap, black zone yang kita tidak ketahui,” tutur dia.

Monumen buaya dan hiu yang ikonik di Surabaya. Foto: Shutter Stock© Disediakan oleh Kumparan Monumen buaya dan hiu yang ikonik di Surabaya. Foto: Shutter Stock
“Tapi sejauh ini memang elektabilitas Mas Wishnu di antara kader-kader PDIP stok yang lain di Surabaya, memang masih unggul dibandingkan dengan yang lainnya,” lanjut Surokim.

Dia pun menilai pemilihan kandidat yang akan diusung PDIP dalam Pilwalkot Surabaya akan sulit diputuskan. Belum lagi adanya kubu dari internal partai yang dinilai memiliki kepentingan tersendiri di Surabaya seperti kubu Risma, kubu Wishnu, atau pun kubu mantan Wali Kota Bambang Dwi Hartono.

“Jadi ya sekali lagi ini membuat kenapa saya bisa memahami kalau DPP PDIP juga agak gamang bisa menentukan jagonya. Belum lagi juga kita semua tahu faksi-faksi di internal PDIP di Kota Surabaya kan juga cukup kelihatan, faksi-faksinya yang dari Bu Risma yang kebetulan sekarang DPP,” kata dia.

“Faksi Mas Wisnu sendiri di sana ada Mbak Puti (Puti Guntur Soekarno) atau faksinya Pak Bambang DH. Tiga faksi itu juga nanti akan menentukan dinamika kader lokal yang kemudian bisa disandingkan,” pungkas Sukorim.