Hukum

Dua Jaksa Kejari Sleman Dilaporkan ke Kejagung

YOGYAKARTA, SENAYANPOST.com – Disebut membuat tiga surat dakwaan dan tiga surat tuntutan untuk satu perkara pidana, dua jaksa Kejaksaan Negeri Sleman, Hafidi SH., MH., yang juga Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) dan Hanifa, SH., Jaksa pasa Kejari Sleman dilaporkan ke Kejaksaan Agung.

Seorang pengacara senior asal Yogyakarta Kamal Firdaus SH, Kamis (2/8/2018) mengatakan surat dakwaan dan surat tuntutan yang lebih dari satu itu diterima terdakwa Roden Henmgkeng Tonggembio.

“Sebenarnya ada tiga Jaksa yang menangani kasus ini, tapi kami melihat yang satu itu tidak punya peran apa-apa,” ucap Kamal Firdaus di Yogyakarta.

Selain ke Kejagung, keduanya juga dilaporkan ke Ketua Komisi III DPR RI, Menpan RB, Komnas HAM, Komisi Kejaksaan RI, Ombudsman RI, Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan (Jamwas), Kajati DIY, Jaksa Pengawas pada Kejati DIY, serta Kajari Sleman.

Sebagaimana kronologi kasus yang diterima Kabarmerahputi.net, perkara pidana dengan nomor 369/Pid.B/2017/PN.Smn di mana Roden Henagkeng menjadi terdakwa dilimpahkan oleh para terlapor ke PN Sleman pada 20 Juli 2017. Saat pelimpahan, para terlapor melampirkan surat dakwaan dengan nomor register perkara PDM:51/SLMN/Euh.2/07/2017.

Dalam surat dakwaan tanggal 20 Juli 2017 itu, terdapat dua orang terdakwa yakni Roden Hengkeng dan Mark Christopher Robba. Pada 31 Juli 2017 perkara mulai disidangkan namun pelapor sebagai terdakwa tidak pernah diberi tahu, sehingga sidang ditunda pada 7 Agustus 2017 dan ditunda lagi pada 14 Agustus 2017.

Pada 14 Agustus 2017, sebelum para terlapor – dua jaksa tersebut — sebelum membacakan surat dakwaan PDM:51/SLMN/Euh.2/07/2017 tertanggal 20 Juli 2017, menyerahkan surat dakwaan kepada pelapor – terdakwa Roden — kemudian membacakan surat dakwaan dalam pesidangan yang terbuka untuk umum.

Pelapor sendiri baru menunjuk penasehat hukum pada 24 Agustus 2017. Dalam persidangan pad tanggal yang sama, penasehat hukum pelapor mengklarifikasi surat dakwaan yang dibacakan pada 14 Agustus 2017 dan dibenarkan oleh para terlapor.

Setelah penasehat hukum pelapor mengajukan eksepsi dakwaan pada 30 Agustus 2017, para terlapor menyampaikan repliek pada 6 September 2017. Kemudian pada sidang tanggal 13 September 2017, saat majelis hakim akan membacakan putusan sela para terlapor mengganti surat dakwaan yang baru denga nisi surat dakwaan, tanggal dan bulan yang berbeda-beda.

Surat dakwaan yang diberikan untuk pelapor dan majelis hakim berbeda dengan surat dakwaan yang dipegang para terlapor. Dalam surat dakwaan baru, terdakwa diubah dari semula dua orang menjadi hanya satu orang yaitu Roden Hengkeng. Terdakwa lain Mark Christopher Robba dijadikan saksi.

Kesalahan ini diulangi para terlapor dalam membuat tuntutan. Di mana surat tuntutan yang dipegang pelapor, berbeda dengan surat tuntutan yang dipegang majelis hakim dan terlapor sendiri. “Ini ajaib, baru pertama kali terjadi, satu orang terdakwa ada tiga dakwaan dan tuntutan berbeda dalams atu perkara. Ini terjadi di Sleman,” ungkap Kamal.

Karenanya, ia meminta agar para terlapor diperiksa dan dijatuhi sanksi agar bekerja secara profesional dan tidak merekayasa perkara pidana terhadap diri pelapor. Roden Hengkeng merupakan terdakwa dalam kasus laporan palsu. Roden dijerat dengan pasal 220 KUHP dan dituntut hukuman 10 bulan kurungan. (MU)

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close