Sebuah Novel tentang Sebuah Keluarga Yahudi di Mesir 

Dua 'Dunia' Lucianne

Dua 'Dunia' Lucianne

Penerjemah: Ahmad Rofi’ Usmani

Bandung, 2021

SINOPSIS

“KE MANAKAH aku harus melangkah? Tetap menetap di Mesir atau pindah ke Israel?”

Betapa kerap pertanyaan yang demikian itu “membara” dalam benak Zaenab. Mungkin, pertanyaan itu tidak akan menghantui benaknya, andai ia sebagai seorang Muslimah Mesir. Namun, takdir perjalanan hidupnya menentukan lain. Ia lahir sebagai seorang perempuan berdarah Yahudi, dengan nama kecil Lucianne Hannedy, yang menetap di lingkungan keluarga Yahudi di Kairo, Mesir. Malah, ia kemudian juga tumbuh dewasa tetap sebagai seorang perempuan Yahudi Mesir. Tak aneh jika ia kemudian juga menikah dengan seorang anak muda berdarah Yahudi Mesir, Zaki Raul, dan dikaruniai dua anak: Yitzhak dan Yasmine.

Namun, perkawinan Lucianne Hannedy, atau Lucy, dengan Zaki Raul tidak berlangsung mulus. Akhirnya, mereka bercerai. Lewat profesinya sebagai seorang manikuris papan atas, akhirnya Lucy bertemu dengan dua lelaki Muslim: Abdurrahman Bey dan Shawkat Bey. Pertama-tama, ia menikmati hidup dengan Abdurrahman Bey. Namun, akhirnya, hatinya bertambat pada seorang bangsawan kaya dan tampan: Shawkat Bey. Lewat pernikahan Lucy dengan bangsawan Muslim tersebut, mereka dikaruniai seorang anak perempuan cantik: Hagar. Dan, sejak menikah dengan Shawkat Bey, Lucy kemudian memeluk Islam dan memilih sebuah nama baru: Zaenab. 

Semula, hubungan antara Zaenab dengan mantan suaminya dan dua anaknya yang berdarah Yahudi tersebut berjalan lancar. Namun, kemudian, dengan berdirinya Negara Israel dan terjadinya konflik Mesir-Israel, membuat Zaenab terjerembab dalam “pusaran” persoalan berat. Apalagi, selepas mantan suaminya dan kedua anaknya migrasi ke Paris dan kemudian pindah ke Israel. Dengan kejadian tersebut, kini, kedua kaki Zaenab seakan berada di dua negara: Mesir dan Israel. Dan, dua anaknya, dari perkawinan  dengan Zaki Raul, menjadi lawan Hagar, anaknya dari perkawinannya dengan Shawkat Bey. Ke manakah ia harus memilih dan memihak?

Novel menawan yang kemudian dituangkan menjadi film ini, dengan judul asli Lâ Tatrukûnî Hunâ Wah(Jangan Kalian Tinggalkan Aku Sendiri Di sini),  merupakan karya seorang penulis, jurnalis, novelis, dan editor kondang Mesir, Ihsan Abdel Quddous (1919-1990), yang mendalami kelompok Yahudi di Mesir. Lewat novel yang sarat kejutan ini, kita akan “mengenal” kehidupan sebuah keluarga Yahudi di Mesir. Sebelum dan selepas berdirinya Negara Israel pada 1948 hingga meletusnya Perang 6 Oktober 1973. 

Selamat menikmati.

35.

AKHIRNYA, suami Zaenab, Letkol Fahmi Garallah, terpaksa ikut campur. Ibrahim Salama pun lari. Ketika anak muda itu berhasil ditemukan, ia berbohong kepada perwira militer itu bahwa ia tidak ingin menceraikan Hagar. Ia sebenarnya ingin mendapatkan ganti rugi sebagai suami. Seperti halnya ganti rugi yang didapatkan Zaki Raul, suami pertama Zaenab, dari suami keduanya, Shawkat Bey Zulfikar, ayah Hagar.

Namun, Letkol Fahmi Garallah menolak mentah-mentah keinginan Ibrahim Salama. Sepeser pun tidak akan diberikan kepada anak muda itu. Sebagai perwira militer, suami Zaenab memiliki kekuasaan. Juga, ia memiliki teman-teman dari  kalangan reserse dan polisi militer. Maka, tak lama kemudian, Ibrahim Salama ditangkap dan dijebloskan ke dalam bui militer. 

Memang, Ibrahim Salama tidak disiksa. Namun, ia dijebloskan ke dalam penjara supaya tahu bahwa ia akan tetap menjadi tahanan selama ia tidak menceraikan Hagar, istrinya. Kepala penjara, dalam pengarahannya kepada anak muda itu, berkata, “Revolusi bertanggungjawab atas moral bangsa ini. Termasuk moral anak-anak muda seperti kau ini. Bukan rahasia lagi, kau seorang anak muda yang tidak bermoral. Laporan lama tentang dirimu cukup membuat kau dijatuhi hukuman mati. Sehingga, dengan demikian, negara ini bersih dari dirimu. Kami pun akan membersihkan “Klub Gezira”. Namun, kini, kami merasa cukup dengan meminta kau supaya melepaskan anak perempuan yang terjaring dalam jejaringmu!”

Beberapa hari kemudian, Letkol Fahmi Garallah datang ke penjara. Ia datang bersama petugas kantor urusan pernikahan. Tanpa banyak cingcong, Ibrahim Salama pun menandatangani surat cerai yang dibawa petugas itu. Selepas itu, Fahmi Garallah membawa anak muda itu ke flat yang disewa atas nama Zaenab. Selepas Ibrahim Salama mengemasi seluruh barang miliknya, anak muda itu ia biarkan bebas.

Tugas revolusi bebas!

Zaenab merasa bahagia atas tindakan suami tersebut. Bahagia karena berhasil melindungi dirinya sendiri dan anak perempuannya dari bahaya dan ancaman Ibrahim Salama. Ia juga bahagia karena di sampingnya ada seorang pria yang mampu memberikan perlindungan.

Sementara Hagar, selepas bercerai, menjadi lebih menarik diri dan menjauh dari ibunya. Malah, juga menjauh dari sahabat-sahabatnya. Ia tidak lagi pergi ke “Klub Gezira”. Demikian halnya, ia tidak lagi bergabung dengan gengnya dulu. Perasaan gagal kini sedang menghajar dirinya. Kadang, ia memandang ibunya sebagai orang yang bertanggungjawab atas kegagalannya itu.

Siapa tahu, barangkali Hagar membiarkan dirinya jatuh dalam pelukan Ibrahim Salama hanya untuk membebaskan dirinya dari ibunya. Ibunya yang seorang perempuan Yahudi. Perasaan semua orang tahu bahwa ibunya seorang perempuan Yahudi mendorong Hagar melarikan diri dari sang ibu. Malah, kadang ia melakukan balas dendam terhadap ibunya. Hatinya baru merasa tenang dan damai  ketika berada di rumah saudara laki-lakinya, Sharif. Kini, ia lebih kerap berada di sana. Seakan, ia melarikan diri kepada ayahnya, jauh dari ibunya. Melarikan diri ke sisi yang bersih dari kehidupannya.

Perasaan sunyi dan sepi pun kian menyergap Zaenab. Yasmine berada di Paris, Perancis. Hagar melarikan diri darinya. Suaminya hanya bertemu dengannya seminggu dua kali, Ahad dan Rabu. Sedangkan pada hari-hari lain, suaminya bersama istri pertamanya dan anak-anaknya. Sedangkan Sami dan Farid membuat Zaenab kian teringat Yasmine. Akibatnya, perasaan sepi dan takut kian menyergap dirinya.

Kapan Yasmine kembali?

Ketika anak perempuan Zaenab itu berpamitan, katanya ia hanya pergi selama sekitar sebulan. Kini, sebulan telah berlalu. Perasaan takit yang menimpanya pun kian menyiksa dirinya. Takut kalau anak perempuannya itu tidak kembali. Namun, akhirnya, Yasmine kembali bersama Khadija. Kembali dengan membawa sederet hadiah yang mahal harganya. Juga, barang-barang yang mahal lainnya. Untuk dijual di butik miliknya.

Yasmine kembali dengan tampilan lain. Kini, ia seakan memiliki kepribadian baru dan menjadi lebih tegar. Setiap kali memandangi anak perempuannya tersebut, Zaenab seakan melihat ada rahasia yang disembunyikan anaknya itu. Namun, sepatah kata pun Yasmine tidak mau mengemukakannya. Seluruh ceritanya hanya berkisar di seputar Paris, busana-busana Paris, dan sederet tempat wisata di Kota Cahaya itu.

Zaenab pun tertantang untuk menyingkap yang disembunyikan Yasmine. Ia merasa yakin, rahasia itu berkaitan dengan asal-usul diri sang anak. Karena itu, suatu saat itu bertanya kepada Yasmine, “Yasmine! Apakah kau, ketika di Paris, bertemu dengan Rachele, istri Fred Cohen? Mama mendengar, ia menetap di Paris.”

“Tidak, Ma,” jawab Yasmine. Acuh.

“Apakah kau tidak berusaha bertanya tentang Clayman Nachum, tetangga kita di Blok Zaher? Menurut kabar, ia kini memiliki sebuah toko besar di Paris,” tanya sang ibu. Lebih jauh.

“Ma! Sepanjang hari, Yasmine dan Khadija hanya menyusuri jalan-jalan di Paris. Sedangkan pada malam hari, kami bersama teman-teman kami dari negara-negara Arab. Kami  tidak peduli dengan orang-orang lain dan tidak mencari mereka!” jawab sang anak. Agak sengit.

Zaenab pun gagal memancang anak perempuannya itu supaya mau berbicara tentang orang-orang Yahudi Mesir di Paris. Seakan, di Paris tidak ada sama sekali orang Yahudi. Namun, ia yakin, Yasmine sedang menyembunyikan suatu rahasia.

Hari demi hari pun bergulir. Kejutan lain kemudian terjadi. Hagar telah mengambil keputusan akan menikah lagi. Calon suaminya adalah seorang pria pilihan saudara laki-lakinya, Sharif. Anak suami pertamanya itu memilihkan calon suami Hagar tanpa meminta pendapat Zaenab. Malah, Hagar juga tidak meminta pendapatnya.

Dengan kata lain, seakan Zaenab tidak ada. Juga, seakan ia bukan ibunya Hagar. Semua itu tidak penting. Yang penting, calon suami Hagar seorang anak muda yang bertanggungjawab. Ia seorang karyawan di Kementerian Luar Negeri. Kini, anak muda itu ditempatkan di Kedutaan Besar Mesir di Bamako, ibukota Mali. Ayahnya adalah sahabat Sharif. 

Anak muda itu sedang berlibur di Kairo, ketika ia bertemu dengan Hagar. Tidak terjadi kisah cinta di antara mereka berdua. Yang terjadi hanyalah kekaguman. Mungkin, kekaguman anak muda itu terhadap Hagar lebih membubung tinggi ketimbang kekaguman Hagar terhadap anak muda itu. Namun, Hagar mau menikah dengan anak muda itu supaya lupa. Lupa segala sesuatu. Termasuk dirinya. Dan, ia membayangkan, kepergian mereka berdua ke hutan Afrika dapat membuat ia melupakan semua itu. 

Zaenab, akhirnya, menyetujui perkawinan itu. Menurut ia, bukan haknya untuk menolak perkawinan itu. Toh, andaikan hal itu merupakan haknya, ia tidak akan kuasa menolaknya. Hal satu-satunya yang ia inginkan adalah perkawinan itu dilangsungkan dengan disertai pesta perkawinan secara mewah. Di Hotel Hilton. Ia mampu membiayai pesta itu, andai keluarga calon pengantin menghendakinya. 

Orang-orang pun berusaha memberikan kabar kepada Zaenab bahwa calon pengantin pria terburu-buru. Ini karena sang calon pengantin pria harus segera berangkat ke tempat tugasnya.  Ia tidak memiliki waktu banyak.  Juga, mereka berusaha meyakinkan Zaenab bahwa perkawinan itu merupakan perkawinan kedua bagi Hagar. Biasanya, menurut mereka, pesta perkawinan kedua tidak diselenggarakan besar-besaran.

Namun, Zaenab tetap bersikeras dengan keinginannya. Ia memaksa Hagar untuk mengikuti kehendaknya. Menurut pikirannya, dengan pesta perkawinan yang demikian, kompleks psikis yang menghantui anak perempuannya itu akan sirna. Dengan kata lain, pesta tersebut akan dapat melepaskan Hagar dari perasaan rendah diri yang ia rasakan. Ia ingin membuat anak perempuannya itu merasa bahwa seluruh masyarakat merasa gembira dengannya dan menghormatinya, meski ibunya seorang perempuan Yahudi. Dan, meski perkawinan pertamanya mengalami kegagalan. 

(Bersambung)

Diterjemahkan  dari karya Ihsan Abdel Quddous, Lâ Tatrukûnî Hunâ Wah
Kairo: Maktabah Mishr, 1986.