Drama tak Berujung Setnov

04:47
329
SETYA NOVANTO -- Wallahu a'lam

ADA seorang kawan menelpon saya. Dia bercerita mengucapkan banyak terima kasih kepada Setya Novanto, Ketua DPR yang kini menjadi tersangka kasus E-KTP.

“Lo memangnya sampeyan kenal Setnov,” tanya saya.
“Nggak juga.”
“Sampeyan dikasih hadiah apa kok berterima kasih kepada Setnov?”

“Sudah hampir setengah tahun saya, setiap malam nonton lawak, stand up comedy, berbagai komedi di televisi, nggak pernah bisa ketawa lepas, tapi mendengar cerita Novanto kecelakaan, mobilnya nabrak tiang listrik saya tertawa terpingkal-pingkal,” lanjutnya. Tawanya terdengar di mobile phone saya.

Saya berpikir sejenak. Benar juga sang kawan. Saya pribadi kenal Setnov sejak tahun 2004, ketika sama-sama sebagai anggota Komisi III DPR-RI. Dia tergolong pendiam. Di ruang sidang lebih banyak sebagai pendengar, baik dalam sidang di komisi, pleno, maupun paripurna. Tetapi sangat fasih ketika bicara tentang anggaran. Dari angka-angka besar, persentase, sampai detil rincian anggaran, sangat dia kuasai.

Beberapa waktu lalu ketika sebagai tersangka jilid I KPK dia tergeletak di ruang perawatan sebuah rumah sakit swasta. Sejumlah kabel dan selang menempel di tubuhnya. Banyak nitizen bertanya, “Emangnya sakit apa Setnov, kok tiba-tiba seperti itu.”

Saya sendiri bertanya, kok dirawat di rumah sakit yang sangat sederhana, bukan rumah sakit langganan orang-orang berduit sekelas Setnov. Dokter pun tak pernah mengumumkan penyakit yang sebenarnya diderita pasien istimewa itu. Lebih mengherankan lagi begitu Hakim Praperadilan PN Jakarta Selatan mengabulkan pembatalan penersangkaannya, Setnov begitu cepat bugar kembali dan langsung aktif memimpin DPR, melakukam berbagai aktivitas. Kondisi kesehatannyq pun tak nampak lelah laiknya orang yang habis sakit parah.

Tak bermaksud suuzon, dalam hati saya menilai Setnov sedang bermain drama, entah untuk babak ke berapa. Di sekitar penetapannya sebagai tersangka itu pun DPR ngotot membentuk Pansus Angket KPK yang tak jelas juntrungannya selain untuk menghambat laju KPK mengusut megakorupsi E-KTP yang melibatkan sejumlah anggota DPR.

Menurut pengamatan saya, saat terbelit kasus “papa minta saham”, sesungguhnya Setnov sudah piawai bermain drama politik. Dia mundur sebagai Ketua DPR, mempersilakan Ade Kamarudin menggantikannya, lalu ada SIdang Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) dengan sanksi yang tidak jelas.

Comments

comments