Wawancara Khusus

Dr.dr. Waldensius Girsang, SpM(K): Operasi Mata yang Cepat, Murah, Aman dan Lebih Baik

Dr. dr. Waldensius Girsang, SpM(K), adalah dokter di JEC (Jakarta Eye Center) Jakarta. Pada Selasa (4/2/2020) lalu, berhasil meraih gelar doktor dengan predikat cum laude di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada.

Di depan tim penguji, Waldensius Girsang, mengungkap keberhasilannya mengembangkan metode operasi untuk menangani ablasio Retina dengan Vitreoretinopati Proliferatif Tingkat Lanjut.

Metode yang dikembangkannya ini, cukup mencengangkan kalangan dokter mata di berbagai belahan dunia.

Waldensius Girsang, terus mendapat undangan dari berbagai negara untuk menuturkan metode operasi yang dikembangkan ini.

Dokter, sebenarnya apa yang telah anda kembangkan selama ini?

Di Indonesia, seperti juga di negara-negara lain baik Eropa maupun asing, banyak ditemukan gangguan pengelihatan yang disebut ablasio retina. Salah satunya, ablasio retina yang diawali dengan diskontinuitas dari retina dan disebut sebagai rhegmatogen. Ini yang paling sering ditemukan dalam ablasio retina. Keadaan ini sering diikuti komplikasi terbentuknya vitreoretinopati proliferatif atau PVR.

Untuk mengatasinya biasanya diperlukan operasi pengangkatan membran yang terbentuk dan dilanjutkan dengan operasi pemotongan retina atau retinektomi relaksasi untuk menghilangkan gaya tangensial.

Hampir semua penelitian mengenai metode retinektomi dilaporkan menggunakan irisan melingkar atau sirkumferensial, namun sedikit yang menggunakan retinektomi radial. Saya sendiri mengembangkan retinektomi relaksasi radial ini.

Mengapa dengan irisan radial?

Sampai saat ini memang belum ada metode retinektomi yang dilakukan berdasarkan kajian ilmiah geometris dan fisika yang mendasari tentang bagaimana batasan pemotogan retina agar ablasio retina yang disertai PVR dapat melekat kembali ke pigmen epitelium retina.
Dalam penelitian ini, saya melakukan dengan pendekatan geometris dan fisika untuk mengembangkan metode retinektomi radial yang efektif dan mudah dilakukan (reproducible) untuk penanganan ablasio retina dengan PVR derajat berat.

Penelitian yang dilakukan adalah penelitian retinektomi relaksasi radial pada ablasio retina dengan PVR kelas C1, C2, C3 dan D1 dengan syarat batas tertentu disertai tamponade intraocular gas C3F8 14 persen sebagai tata laksana awal. Metode retinektomi relaksasi ini merupakan suatu keterbaruan dalam penelitian yang nantinya dapat dijadikan pedoman terstandar dalam melakukan retinektomi pada ablasio retina dengan PVR.

Memang ada kebaruan yang signifikan berupa penerapan analisis gaya-gaya fisika yang meskipun masih kualitatif tetapi memberikan kedalaman nilai ilmiah serta kemungkinan dipahami secara ilmiah lebih luas oleh berbagai kalangan.

Keterbaruan lainnya adalah penyertaan formulasi geometri lintasan pemotongan retina dalam sistem koordinat 3D serta proyeksinya dalam sistem koordinat 2D. Formulasi ini dimaksudkan agar secara kualitatif tindakan retinektomi beserta syarat batasnya dalam ruang bola mata dipahami secara ilmiah dan menjadi prosedur tindakan pemotongan yang reproducible.

Apakah sudah banyak dilakukan?

Metode baru operasi mata dengan cara memotong retina secara radial ini merupakan sesuatu yang baru yang belum pernah dilakukan selama ini. Metode ini menjadi berbeda karena cara sebelumnya adalah memotong secara melintang.
Pemotongan ini harus dilakukan dengan cermat sesuai ukuran tertentu untuk keamanan pupil.

Hasilnya ?

Metode retinektomi relaksasi radial de nga tampnade gas C3F8 14 persen ini, mendapatkan angka keberhasilan anatomis dan fungsional yang baik serta rendahnya efek samping yang berarti lebih baik dibandingkan dengan metode tatalaksana ablasio retina dengan PVR yang sebelumnya, dan efisien waktu karena tidak perlu operasi kedua. Artinya, better, faster and cheaper.

Bisa menjadi prosedur baku?

Dari penelitian ini masih terdapat beberapa hal yang masih dapat dikembangkan, yaitu mengembangkan metode ini menjadi prosedur baku. Ini diperlukan randomized clinical trial dengan jumlah sampel yang lebih besar.

Disarankan membagi pasien berdasar onsel ablasio retina ataupun derajat PVR sehingga karakteristik pasien menjadi lebih homogen, sehingga akan diketahui aplikasi metode ini pada setiap derajat PVR dan mengurangi faktor perancu. (WS)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close