NasionalParlemen

DPR Dukung Kementan ‘Blacklist’ 5 Importir Bawang Merah Imitasi

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Wakil Ketua DPR RI Taufik Kurniawan mendukung langkah Kementerian Pertanian (Kementan) yang mem-blacklist 5 importir bawang bombai yang tidak sesuai aturan. Bahkan, bawang bombai yang berukuran kecil itu rencananya dipasarkan sebagai bawang merah.

Sehingga hal itu akan menyulitkan petani lokal untuk bersaing dengan bawang merah imitasi tersebut.

“Itu tentu akan merugikan petani bawang merah lokal. Karena bawang impor imitasi itu harganya jauh lebih murah, sehingga petani kita tidak mampu bersaing. Akibatnya bawang petani tidak laku. Makanya pemerintah harus ambil langkah tegas,” demikian Taufik di Jakarta, Minggu (24/6/2018).

Kalau bisa, lanjut Waketum PAN itu, jangan hanya blacklist, tapi ambil tindakan hukum.

Menurut Taufik, tindakan blacklist dari Kementan itu sebagai bentuk perlindungan kepada petani lokal dan konsumen. Pasalnya, jika bawang bombai berukuran kecil itu berpotensi mengelabui konsumen, karena bentuknya menyerupais bawang merah lokal.

Ke depan, dia meminta Kementan RI lebih meningkatkan pengawasan kepada importir. Selain itu, Kementan agar memberikan perhatian lebih serius kepada petani lokal.

“Ke depan DPR minta Kementan meningkatkan pengawasan kepada importir. Jangan sampai ada lagi importir nakal dan melakukan kecurangan. Masyarakat kita jangan sampai dirugikan,” ujarnya.

Selain itu, Kementan juga harus memperhatikan lebih serius petani bawang kita, dan mendorong untuk meningkatkan produksi, sehingga bisa memenuhi kebutuhan bawang secara nasional.

Sebelumnya, Mentan RI Andi Amran Sulaiman mengatakan ada 5 importir bawang bombai yang akan dikenakan sanksi blacklist karena diduga memasukkan bawang bombai yang tidak sesuai ketentuan. Kelima importir itu antara lain PT TAU, PT SMA, PT KAS, PT FMP dan PT JS.

Menurut Amran, setidaknya ada total 10 importir yang melanggar ketentuan tersebut dan sedang diperiksa pihak berwajib.

Amran mengatakan, masuknya bawang merah imitasi ini bisa merusak pasaran harga bawang merah di pasar. Sehingga, para petani tidak akan mampu bersaing dengan bawang merah imitasi impor tadi.

“Kalau misalnya bawang bombai diimpor dengan harga R 2 ribu per kilogram, harusnya dijual paling di kisaran harga Rp 6 ribu per kilogram. Ini kan mereka mem-branding-nya sebagai bawang merah, pasti mereka jualnya di kisaran harga Rp 10 sampai Rp 20 ribu per kilogram,” kata Amran di Kementan, Jumat (22/6/2018). (AF)

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close