Bisnis

Dolar AS Malah Loyo Saat AS-China Akan Teken Kesepakatan Dagang

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Kurs dolar Amerika Serikat (AS) loyo terhadap euro pada perdagangan Rabu (15/1/2020). Pelaku pasar kini menanti kesepakatan dagang fase I AS dengan China diteken.

Dilansir Refinitiv, pada pukul 20:42 WIB, euro diperdagangkan di level US$ 1,1144, menguat 0,16% di pasar spot,

AS dan China hari ini akan menandatangani kesepakatan dagang fase I pada Rabu waktu Washington. Dalam kesepakatan dagang fase I, Presiden Trump mengatakan bahwa bea masuk sebesar 15% terhadap produk impor asal China senilai US$ 120 miliar nantinya akan dipangkas menjadi 7,5% saja sebagai bagian dari kesepakatan dagang tahap satu.

Sementara dari pihak China, Trump menyebut bahwa China akan segera memulai pembelian produk agrikultur asal AS yang jika ditotal akan mencapai US$ 50 miliar.

Sebelum kesepakatan tersebut diteken, beberapa kabar terkait mulai beredar di pasar yang mempengaruhi sentimen pelaku pasar. Bloomberg melaporkan jika AS baru akan meninjau kembali dan menghilangkan bea importasi paling tidak 10 bulan ke depan.

Departemen Keuangan AS juga menegaskan hal tersebut, memang benar. “Tidak ada kesepakatan untuk pengurangan tarif di masa depan. Setiap rumor yang bertentangan adalah palsu,” kata Departemen Keuangan dan kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) dalam sebuah pernyataan bersama, Selasa (14/1/2020), sebagaimana dilaporkan AFP.

Sementara itu Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, mengatakan ke depannya kesepakatan dagang fase II juga akan menurunkan bea importasi barang dari China, meski perundingan akan dilakukan dalam beberapa tahap.

“Seperti kesepakatan ini ada penurunan bea masuk, di fase II akan ada penurunan lagi. Ini hanya pertanyaan, dan seperti yang kami katakan sebelumnya, fase II kemungkinan akan 2A, 2B, 2C, kita lihat saja nanti” kata Mnuchin sebagaimana dilansir CNBC International.

Kesepakatan dagang kedua sudah ditunggu oleh dunia. Perang dagang kedua negara yang berlangsung sejak pertengahan 2018 telah membuat perekonomian global melambat. Ketika perang dagang berakhir atau setidaknya tidak tereskalasi lagi, pertumbuhan ekonomi global diharapkan akan kembali bangkit.

Yang menarik, ketika pertumbuhan ekonomi global bangkit, mata uang utama lainnya serta mata uang emerging market diprediksi menguat terhadap dolar AS. Ini artinya, kesepakatan dagang AS-China justru berpotensi menekan greenback.

Hal tersebut diungkapkan oleh analis Goldman Sachs, Mikhail Sprogis, yang memprediksi harga emas akan ke US$ 1.600/troy ons di tahun depan, menjadikan penguatan mata uang utama dan negara emerging market melawan dolar AS sebagai dasar prediksi tersebut.

Sprogis mengatakan ketika pertumbuhan ekonomi global membaik maka mata uang utama dan emerging market akan menguat melawan dolar AS. (WS)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close