Kesehatan

Dokter Terawan Tegaskan Terapi ‘Cuci Otak’ Sudah Teruji Ilmiah

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Mayjen dr Terawan Agus Putranto akhirnya angkat suara memberikan penjelasan terkait terapi ‘cuci otak’ yang digunakannya untuk mengobati pasien stroke.

Di depan anggota Komisi I DPR, dr Terawan menegaskan jika metode ‘cuci otak’ sudah terbukti secara ilmiah.

Ia mengaku, pada 2013 Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI menyarankan agar metode ‘cuci otak’ dibuktikan secara ilmiah. Karena itulah, dr Terawan akhirnya mendaftar S3 di Universitas Hasanudin Makassar.

“Pada 2013, MKEK menyarankan (metode ‘cuci otak’) diselesaikan dengan riset. Saya (lalu) mendaftar ke Universitas Hasanudin,” katanya di Jakarta, Rabu (4/4/2018).

Sebelum menjalani pendidikan di Universitas Hasanudin, dr Terawan sempat mencoba mendaftar S3 di Universitas Gajah Mada (UGM) yang memiliki program kerja sama dengan RSPAD Gatot Subroto.

Hanya saja, ia tidak jadi melanjutkan S3-nya di UGM karena proposalnya mengenai metode ‘cuci otak’ tidak sesuai dengan topik pembahasan yang ada.

“Karena tidak cocok, saya enggak lanjutkan. (Kemudian) saya majukan sebagai disertasi di Unhas. Saya selesaikan (selama) 3 tahun, mendapat gelar doktor,” katanya.

dr Terawan akhirnya mendapatkan gelar doktor pada 4 Agustus 2016. Judul disertasi Kepala RSPAD Gatot Subroto itu adalah ‘Efek Intra Arterial Heparin Flushing Terhadap Regional Cerebral Blood Flow, Motor Evoked Potentials, dan Fungsi Motorik pada Pasien dengan Stroke Iskemik Kronis’. Penelitian itu ia lakukan bersama 5 orang lainnya.

“(5 orang itu) saya (selaku) dokter neurologi, 4 ahli laboratorium ikut riset membahas pengaruh stemselnya, diuji secara kaidah dan akademis akhirnya kami berenam selesai doktor di bidang Intra Arterial,” jelasnya.

Hasil disertasinya itu, kata dr Terawan, bahkan sudah dipublikasikan di jurnal internasional.

“Syarat harus terpublikasi di jurnal, kita malah (dipublikasikan) di jurnal internasional. Dari total 6 orang yang ambil, ada 12 jurnal internasional. Impact factor-nya diadopsi oleh orang lain, negara lain, atau peneliti lain,” katanya.

Diketahui, IDI memecat dr Terawan karena ada pelanggaran kode etik yang diduga dilakukan olehnya. dr Terawan dinilai mengiklankan dirinya serta menjanjikan kesembuhan kepada pasiennya.

IDI juga berpendapat metode ‘cuci otak’ dr Terawan belum teruji secara ilmiah dan belum disosialisasikan ke dokter lain, termasuk ke pengurus IDI.

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close