Doakanlah Selalu Guru-gurumu

Doakanlah Selalu Guru-gurumu
Ahmad Rofi'Usmani

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

 

“TERIMA KASIH, Prof.”

Demikian gumam bibir saya, kemarin pagi, ketika teringat dengan salah seorang guru saya: Prof. Dr. Ahmed Shalaby. Ya, bibir saya bergumam demikian, ketika sedang membaca draft buku biografi Kang Syihabuddin Qalyubi, seorang sahabat yang kini menjadi profesor di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Judulnya Sepenggal Perjalanan Hidup 68 Tahun. Calon buku itu, rencananya, akan menjadi “hadiah indah” dari Kang Syihab pada saat berulang tahun ke-68 nanti. Tepatnya pada 21 September 2020 nanti.

Ketika menyimak draft buku tersebut, tiba-tiba benak saya “melayang-layang” ke tahun tahun 2007. Kala itu, saya sedang menyiapkan pakaian dan berbagai perlengkapan “ngluyur” selama sekitar 12 hari ke Mesir (antara 21 Maret 2007 sampai dengan 3 April2007). Bersama isteri yang baru pertama kali akan menginjakkan kakinya di Negeri Piramid itu.

Entah kenapa hati, kala itu, perasaan saya teraduk-aduk. Antara sangat gembira dan sangat sedih. Sangat gembira karena Allah SWT. masih memberikan kesempatan kepada saya untuk menapakkan kembali ke Negeri Piramid tersebut, yang terakhir kali saya kunjungi pada 1995. Negeri yang satu itu, bagi saya, sulit untuk saya lupakan. Perjalanan hidup selama enam tahun (1978-1984) “menjadi santri” di negara yang membentang antara benua Asia dan Afrika itu benar-benar merupakan “a historical moment” bagi saya.

Di sisi lain, saya juga sangat sedih. Dalam perjalanan ke Mesir kali ini saya tidak berkesempatan untuk bertemu dengan seorang guru yang benar-benar saya hormati. Guru tersebut, yang seorang pemikir Muslim terkemuka di Mesir dan juga  seorang  pakar di bidang sejarah dan peradaban  Islam, itu tidak lain adalah Prof. Dr. Ahmed Shalaby. Beliau telah berpulang ke hadirat Allah SWT. dua tahun sebelum itu. Tepatnya pada 2005.

Mengenang Prof. Dr. Ahmed Shalaby, segera saja saya terkenang pertemuan saya pertama kali pada 1978.  Pakar sejarah dan peradaban Islam ini  lahir di Desa ‘Ilim, sebuah desa kecil yang terletak di antara kota  Zagaziq dan Abu Hammad, Mesir (tanggal  kelahirannya  tidak tercatat   jelas). Kemudian, kala beliau berumur empat tahun, ayahnya  berpulang ke  hadirat Allah. Karena itu, ibunya yang lebih banyak  berperan dalam  membesarkannya. Saat itu, ilmuwan yang “konon” anak  keturunan  Abu Bakar Al-Shiddiq yang kemudian bermukim di Turki dan selanjutnya merantau  lagi ke Mesir serta mulai meniti pendidikan  dasarnya  di desa kelahirannya itu sedang menjabat Ketua Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam di Fakultas Dar Al-‘Ulum, Universitas Kairo.

Betapa gembira guru besar yang selepas  merampungkan pendidikan menengah di  Ma‘had Zagaziq, sebuah perguruan  di bawah naungan al-Azhar, sebuah perguruan tertua di dunia Islam, lantas memasuki Universitas Kairo dan pada 1365  H/1945 M, setelah meraih gelar sarjana di almamaternya, berhasil memeroleh bea siswa untuk melanjutkan pendidikannya di Universitas London dan kemudian di Universitas Cambridge itu menerima saya sebagai anak didiknya di program pascasarjana di bidang sejarah dan peradaban Islam. Saat itu, saya bersama empat teman seangkatan (Dr. Wan Ahmad (alm.), seorang warga Malaysia yang mantan pensyarah di Universiti Kebangsaan Malaysia, Dr. Zaki Ahmad Brahim, seorang warga Malaysia yang kemudian menjadi Ketua Jurusan Tamadun Islam di Universiti Malaya, Malaysia, seorang teman asal Mesir, dan seorang teman asal Irak.

Entah kenapa ilmuwan Muslim yang meraih  gelar Ph.D  di  bidang  sejarah dan peradaban di universitas  bergengsi di Inggris itu pada 1371 H/1951  M  dengan disertasi  berjudul  “History  of  Muslim  Education”,  di  bawah bimbingan  seorang  orientalis kondang Inggris kala  itu:  A.J. Arberry, itu  lebih banyak memberi waktu dan membimbing saya ketimbang teman-teman saya.

Beliau tak jemu-jemunya melatih saya untuk menulis dan menulis, di samping memberi tugas demi tugas untuk menerjemahkan karya-karya tulis beliau yang kemudian diterbitkan oleh sebuah penerbit di Singapura. Sehingga, kerap kali saya merasa tidak enak hati terhadap teman-teman seangkatan. Malah, ketika beliau tahu saya tidak punya duit, beliau kerap memberi saya uang. Mungkin, kerinduan beliau terhadap Indonesia yang sangat beliau cintai (seperti sering beliau ungkapkan secara lisan maupun dalam beberapa karya beliau) itulah yang membuat beliau merasa akrab dan dekat dengan saya. Beliau memang pernah tinggal di Indonesia. Mengapa demikian?

Sekembali  ke negerinya dari Inggris, beliau meniti karier ilmiahnya di almamaternya.  Namun, pada 1374 H/1954 M, kala terjadi pembersihan yang dilakukan pemerintah Mesir di bawah pimpinan Presiden Gamal Abdel Nasser terhadap Gerakan Ikhwan Al-Muslimin, meski beliau sendiri  tidak tergabung dalam gerakan tersebut, beliau  diberhentikan dari almamaternya. Setelah  sempat selama setahun hidup serabutan, termasuk menjadi seorang guru Taman Kanak-Kanak, beliau kemudian “diselamatkan” Anwar Sadat yang kala itu menjabat Sekretaris Jenderal Organisasi Kongres Islam   yang mengirim beliau ke Indonesia. Selama sekitar enam tahun berada di Indonesia, beliau ditugaskan di Yogyakarta dan Jakarta  sebagai  seorang  staf  pengajar di lingkungan Perguruan Agama Islam Negeri yang kemudian berubah menjadi Institut Agama Islam Negeri (dan kini menjadi Universitas Islam Negeri).

Sekembali ke negerinya pada 1381 H/1961 M, suami Karimah Imam ini meniti karier  di  lingkungan  Departemen  Pendidikan dan Pengajaran. Tetapi, akhirnya pada 1382 H/1962 M beliau kembali meniti karier ilmiahnya di lingkungan almamaternya. Di luar kesibukannya sebagai guru besar di berbagai perguruan tinggi di Timur Tengah, antara  lain  di Sudan dan Arab Saudi, ilmuwan  yang  memiliki sosok seperti orang Eropa dan kala muda memiliki rambut berwarna blonde dan mata berwarna kehijau-hijauan ini  terkenal  sebagai seorang  penulis  yang sangat produktif. Karya-karya tulisnya, termasuk di antaranya yang mulai disusunnya kala tinggal di Jalan Sagan 20, Yogyakarta, antara lain Mausû‘ah Al-Târîkh Al-Islâmî, sebuah ensiklopedia sejarah Islam yang  terdiri dari sepuluh jilid dan Mausû'ah Al-Hadharah Al-Islamiyyah, sebuah ensiklopedia peradaban Islam yang juga terdiri dari sepuluh jilid.

Karena itu, setiap kali teringat  Prof.Dr. Ahmed Shalaby, saya selalu mendoakan beliau, “Ya Allah! Ampunilah dosa-dosa beliau, limpahkanlah kasih dan sayang-Mu kepada beliau, maafkanlah beliau dan jadikanlah surga menjadi tempat peristirahatan abadi bagi beliau. Ya Allah! Jadikanlah ilmu yang beliau wariskan menjadi ilmu yang bermanfaat yang mampu menjadi lentera hati dan pikiran hamba-hamba-Mu. Di manapun. Amin ya Rabbal ‘Alamin.”

Tentu, tidak hanya Prof.Dr. Ahmed Shalaby saja yang saya doakan. Sederet guru-guru saya yang lain pun juga selalu saya doakan: semoga ilmu mereka bermanfaat. Di dunia dan akhirat. Semoga!