Disalahtafsirkan, Mahathir Bantah Serukan Pembantaian Warga Prancis

Disalahtafsirkan, Mahathir Bantah Serukan Pembantaian Warga Prancis
Mahathir Mohamad

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengatakan pandangannya tentang peristiwa di Prancis yang ditulis dalam blog-nya disalahtafsirkan. Pandangan itu, kata Mahathir, keluar dari konteks yang sebenarnya.

"Saya benar-benar muak dengan upaya yang salah dalam menggambarkan dan mengambil keluar dari konteks apa yang saya tulis di blog saya kemarin," kata Mahathir melalui blog-nya di Kuala Lumpur, Jumat.

Dia mengatakan, mereka yang salah tafsir hanya menyoroti satu bagian dari paragraf 12 berbunyi, "Muslim berhak untuk marah dan membunuh jutaan orang Prancis untuk pembantaian di masa lalu."

"Mereka berhenti di sana dan menyiratkan bahwa saya sedang mempromosikan pembantaian Prancis." katanya.

Jika mereka, kata Mahathir, membaca unggahan tersebut secara keseluruhan dan terutama kalimat berikutnya yang berbunyi, "Tetapi pada umumnya kaum Muslimin belum menerapkan hukum mata ganti mata. Muslim tidak. Orang Prancis tidak boleh."

Sebaliknya, ujar Mahatir, orang Prancis harus mengajari rakyatnya untuk menghargai perasaan orang lain. "Karena perputaran dan keluar dari konteks oleh orang-orang yang mengambil postingan saya, laporan dibuat terhadap saya dan saya dituduh mempromosikan kekerasan dan lain-lain di Facebook dan Twitter," katanya.

Facebook dan Twitter kemudian meminta kepada administrator akun mereka untuk menghapus unggahan tersebut meskipun Mahathirberupaya menjelaskan konteks tulisannya.

"Tidak ada yang dapat saya lakukan dengan keputusan FB dan Twitter untuk menghapus posting saya. Menurut saya, karena mereka adalah penyedia kebebasan berbicara, setidaknya mereka harus mengizinkan saya untuk menjelaskan dan mempertahankan posisi saya," katanya.

Namun, ujarnya, itulah kebebasan berbicara bagi mereka. Di satu sisi, mereka membela orang-orang yang memilih untuk menampilkan karikatur Nabi Muhammad SAW dan berharap semua Muslim menelannya atas nama kebebasan berbicara dan berekspresi.

"Di sisi lain, mereka dengan sengaja menghapus (bagian pernyataan, red) bahwa Muslim tidak pernah membalas dendam atas ketidakadilan terhadap mereka di masa lalu," kata Mahathir.

"Bahkan seruan saya bahwa orang Prancis harus menjelaskan perlunya menasehati rakyatnya agar peka dan menghormati kepercayaan orang lain pun diabaikan," katanya lagi.

Apa yang dipromosikan oleh reaksi terhadap artikel dirinya, ujar Mahathir, adalah untuk membangkitkan kebencian Prancis terhadap Muslim.