Wawancara Khusus

Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat: Jokowi Itu ‘Nyeleneh’

MEMBICARAKAN masalah bisnis dengan Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul, Irwan Hidayat, mungkin sudah menjadi hal yang biasa. Makanya, Irwan Hidayat terkadang lebih suka diajak ngobrol masalah politik dan bernegara.

Seperti saat usai buka bersama dengan wartawan beberapa waktu lalu, Irwan Hidayat mengungkapkan kepada wartawan Senayanpost.com, Joko Sriyono, bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu orangnya nyeleneh (beda dengan yang lainnya) dan suka melakukan tindakan yang ngoyo woro (melakukan sesuatu yang tidak mungkin).

Apa sebenarnya ke-nyeleneh-an dan ke-ngoyo woro-an Jokowi di mata Irwan Hidayat, berikut ini hasil obrolan lengkapnya:

Bagaimana Anda bisa menilai kalau Jokowi itu nyeleneh?

Lha iyo nyeleneh to. Sekarang kita ambil contoh pembangunan di Papua saja. Program transmigrasi ke Papua tiba-tiba dihentikan. Tahu nggak, penghentian transmigrasi ke Papua itu dilakukan Jokowi di tahun pertama pemerintahannya pada periode pertama. Tahun 2015. Opo ora hebat ngene iki? (apa tidak hebat ini?).

Transmigrasi itu dicanangkan Pak Harto, katanya untuk pemerataan penduduk. Ada menterinya, ada kantor pusat dan kantor di daerahnya. Kok tiba-tiba dihentikan. Banyak yang nganggur to?

Ada yang lain?

Ada. Semua orang tahu, Papua itu daerahnya sebagian besar hutan, jurang dan gunung. Transportasi yang cocok ya pesawat kecil. Tapi apa, Jokowi justru membangun jalan raya. Ini bukan hanya nyeleneh, tapi juga ngoyo woro.

Jokowi memerintahkan membangun jalan yang melingkari gunung, menembus hutan gung liwang-liwung (belantara) dan menyeberangi sungai. Ya kalau sungainya kecil ya gak papa, tapi di sana kan sungainya lebar-lebar, beda sama sungai di Jawa.

Makanya Jokowi banyak dikecam elit politik dan lawang politiknya. Itulah Jokowi. Karena nyeleneh-nya pola pikir Jokowi itu tadi, maka tidak semua orang bisa memahami alur dan arah pemikirannya. Dampaknya apa? Jokowi di-bully, Jokowi dijelek-jelekkan dan Jokowi dianggap tidak bisa apa-apa.

Bagaimana penerjemahan Anda soal langkah Jokowi di Papua?

Begini. Transmigrasi itu betul pemerataan penduduk. Tapi ingat, itu ada dampak negatifnya. Masyarakat Papua yang dengan kearifan lokalnya menjaga hutan dan hidup bersahabat dengan alam, tiba-tiba lha kok hutannya dibabat habis untuk penyiapan lahan pertanian dan perumahan bagi transmigran.

Setelah itu, datang ratusan orang berambut lurus dengan bahasa yang mereka tidak fahami dan menanami tanah leluhur mereka dengan tanaman padi yang juga tidak pernah mereka kenal sebelumnya.

Belum lagi soal perbedaan agama. Di Papua yang mayoritas penduduknya beragama non muslim, tiba-tiba didatangkan ratusan orang beragama Islam dan langsung ada masjid besar. Ini bisa jadi sumber permasalahan baru.

Juga pola hidup yang sangat berbeda. Awalnya, masyarakat setempat menjadikan para transmigran sebagai tontotan. Karena aneh. Namun setelah transmigran berhasil memanen padi dan bisa hidup, mereka berbalik arah, menjadikan orang Papua sebagai tontonan. Ini berbahaya.

Apakah Jokowi tahu soal itu?

Itulah yang sangat diketahui dan difahami Jokowi, tetapi tidak dimengerti elit politik lain. Makanya Jokowi nekat mengambil langkah nyeleneh dan ngoyo woro tadi. Ia pun tahu resikonya kalau ia akan di-bully habis-habisan.

Lantas buat apa Jokowi membangun jalan raya di Papua itu?

Disinilah benang merahnya. Jokowi sebenarnya tetap ingin ada pemerataan penduduk di seluruh Indonesia, termasuk di Papua. Tetapi Jokowi tidak mau ada pemaksaan.

Kalau transmigrasi, ini menurut aku ya, koyone, kayaknya seperti pemaksaan, pemerintah pusat memaksakan Papua harus menerima ratusan orang Jawa. Mau atau tidak mau, harus tetap mau menerima transmigran.

Nah, ini yang dirubah Jokowi. Transmigrasi tetap berjalan, tapi pelaku transmigrasi dan biaya ditanggung masing-masing.

Kok aneh, apa bisa?

Bisa. Ini yang dijalankan Jokowi. Dengan dibangunnya jalan raya yang halus dan mulus, penduduk lokal yang awalnya tinggal di pedalaman, mulai membangun rumah di pinggir-pinggir jalan. Awalnya memang satu dua rumah, lama-lama jadi desa.

Kalau sudah ada pemukiman, pasti orang Makassar, China dan India datang juga. Mereka buka kios, toko kelontong, toko kain, dan toko-toko lain.

Kalau ini sudah ada, pasti pedagang bakso dan mie ayam dari Wonogiri juga datang. Bukan itu saja, juga berdatangan penjual sate dari Madura dan penjual soto, ayam goreng dan pecel lele dari Lamongan.

Tapi ini kan tidak bisa dikatakan seperti transmigrasi

Betul, karena ini memang bukan transmigrasi. Ini langkah mengajak perpindahan penduduk secara sukarela. Langkah ini lebih aman dan lebih memanusiakan masyarakat Papua.

Warga setempat butuh toko yang dimiliki orang Makassar, India dan China untuk memenuhi kebutuhan mereka. Warga setempat bisa menikmati bakso, mie ayam dan soto yang disiapkan pendatang dari Jawa. Pendatang pun membutuhkan pembeli dari masyarakat setempat.

Lama-kelamaan, akan terjadi proses pembauran yang alami. Saling membutuhkan dan bukan paksaan. Kalau sudah begini, siapa yang untung. Pemerintah to? Pemerintah gak perlu mengeluarkan uang untuk program transmigrasi, tapi tujuan perpindahan penduduknya tetap berjalan.

Tapi kan itu belum terbukti benar dan efektif

Kalau mau ngeliat hasilnya, ya jangan sekarang, nanti. Semua kan perlu proses. (*)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close