Nasional

Diprotes, Rencana Prabowo Beli 15 Typhoon Austria

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Menhan Prabowo Subianto disebut-sebut tertarik membeli jet tempur Eurofighter Typhoon milik Austria. Namun, alutsista itu dinilai hanya bekas pakai yang berpotensi memicu insiden kecelakaan pesawat.

Kabar ketertarikan Prabowo ini menyebar setelah surat yang ditanda-tangani olehnya dan ditujukan kepada Menteri Pertahanan Austria Klaudia Tanner muncul di beberapa platform media.

Surat itu bercap Kemenhan dan dibubuhi tanda tangan Prabowo. Selain itu, surat bernomor 60/M/VII/2020 dan tertanggal 10 Juli 2020 tersebut diberi subjek ‘Proposal About Eurofughter Typhoon Aircraft’.

Dilansir CNN Indonesia, tak lupa Prabowo juga mencantumkan perihal informasi yang dia dapat soal pembelian pesawat ini berasal dari Tuan WD Grosse.

Dalam salinan surat yang diterima wartawan, Prabowo menyatakan keinginannya untuk membeli 15 unit pesawat Typhoon.

“Dalam rangka memodernisasi Angkatan Udara Indonesia (TNI AU), saya ingin mengadakan perundingan resmi dengan Anda untuk membeli 15 Eurofighter untuk Republik Indonesia,” kata Prabowo seperti yang tercantum dalam surat berbahasa Inggris itu dikutip Rabu (22/7/2020).

CNNIndonesia.com kemudian mencoba mengkonfirmasi surat yang dilayangkan Prabowo kepada Austria ini langsung kepada pihak Kementerian Pertahanan. Namun, Kepala Biro Humas Kemenhan Djoko Purwanto tak menanggapi permohonan konfirmasi tersebut.

Senada, Dahnil Anzar Simanjuntak, selaku Juru Bicara Menteri Pertahanan, menolak memberikan pernyataan.

Dikutip dari defensenews.com, pihak Kementerian Pertahanan Austria justru telah mengakui soal keberadaan surat yang dikirim oleh Prabowo mengenai jet tempur tersebut.

Kleine Zeitung dan beberapa media di Austria juga telah menyampaikan informasi soal minat Prabowo terhadap jet tempur canggih itu. Namun mereka juga menyoroti soal status hukum dalam hal pembelian pesawat tersebut.

Penjualan Eurofighter Typhoon sendiri tak bisa dilakukan secara langsung oleh Austria karena semuanya bergantung pada perjanjian antara Republik Austria dan produsen Eurofighter dari Jerman, yaitu EADS.

Terpisah, lembaga pemantau HAM Imparsial meminta Prabowo mengurungkan niat untuk membeli Typhoon karena itu adalah jet tempur bekas Austria.

“Pesawat yang akan dibeli bukanlah armada baru, melainkan bekas pakai Angkatan Bersenjata Austria,” kata Direktur Imparsial Al Araf melalui keterangan tertulis, Rabu (22/7).

“Menteri Pertahanan Prabowo Subianto membatalkan rencana pembelian pesawat tempur Eurofighter Typhoon bekas dari Austria,” lanjutnya.

Menurut dia, pengadaan alutsista bekas menimbulkan masalah akuntabilitas anggaran pertahanan. Selain itu, pesawat bekas juga akan membahayakan prajurit TNI dalam menghadapi risiko kecelakaan.

“Pemerintah hendaknya belajar dari pengalaman saat melakukan pembelian alutsista bekas di masa lalu, baik itu pesawat, kapal, tank dan lainnya yang memiliki sejumlah problem teknis dan mengalami beberapa kali kecelakaan,” tuturnya.

Selain itu, Imparsial memandang rencana pembelian pesawat tempur bekas Eurofighter Typhoon berpotensi terjadi penyimpangan akibat tidak adanya standar harga yang pasti.

Transparency International dalam survei ‘Government Defence Anti-Corruption Index 2015’ menunjukkan risiko korupsi di sektor militer/pertahanan di Indonesia masih tinggi, yakni bernilai D, setara dengan negara-negara seperti Namibia, Kenya, dan Bangladesh.

Di Austria pun, pembelian Typhoon itu diwarnai dengan kasus suap dan korupsi. (Jo)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close