BUMNHukum

Digugat Penumpang Rp 11 M, Garuda Ingin Berdamai

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Perusahaan maskapai penerbangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk berharap bisa berdamai dengan penumpang bernama B.R.A. Koosmariam Djatikusumo, yang menuntut ganti rugi Rp 11 miliar.

Tuntutan itu dilayangkan akibat peristiwa tersiram air panas yang menimpa Koosmariam di atas pesawat maskapai pelat merah itu pada 29 Desember 2017.

BACA JUGA: Tersiram Air Panas, Penumpang Gugat Garuda Indonesia Rp11,25 Miliar

“Kami mengupayakan mediasi di luar pengadilan,” ujar Corporate Secretary Garuda Indonesia Hengki Heriandono, Sabtu (14/4/2018).

Sementara itu, Koosmariam, melalui kuasa hukumnya, David Tobing, telah mendaftarkan gugatan atas kasus tersebut pada Rabu lalu dengan register perkara 215/PDT.G/2018/PN.JKT.PST. Dalam gugatannya, David menuntut Garuda membayar ganti rugi atas kerugian yang diderita kliennya berupa ganti rugi materiil Rp 1,250 miliar dan ganti rugi imateriil Rp 10 miliar atas cacat tetap yang diakibatkan peristiwa tersebut.

David mengaku tidak akan mencabut gugatan sekalipun pihak Garuda menemui kliennya untuk berdamai.

“Kami sudah mendaftarkan gugatan untuk selanjutnya mengikuti prosedur hukum. Kalau nanti selesai di tingkat mediasi oleh hakim, semua bisa saja,” ujar David  di Jakarta.

Menurut David, gugatan yang dilayangkan selang empat bulan setelah kejadian itu dilakukan karena pihak Garuda Indonesia tidak serius memperhatikan kliennya, terutama dalam 1,5 bulan terakhir atau pada Februari 2018, saat terakhir kali kliennya meminta petugas Garuda mendampingi dirinya berobat.

“Baru Kamis kemarin pihak Garuda menghubungi klien saya lagi. Setelah peristiwa ini diberitakan media, baru mereka tanya kabar,” ujarnya.

Hengki Heriandono membantah telah mengabaikan proses pengobatan penumpangnya yang terkena air panas, B.R.A. Koosmariam.

“Kami berkomitmen untuk memfasilitasi pengobatan beliau sampai sembuh. Itu mungkin masalah miscommunication saja,” kata Hengki, Sabtu (14/4/2018).

Pernyataan Hengki itu menjawab tudingan pengacara Koosmariam, David Tobing, yang menuding Garuda Indonesia tidak serius memperhatikan kliennya. Maskapai penerbangan pelat merah itu dinilai abai, terutama dalam 1,5 bulan terakhir. Garuda baru menghubungi kembali Koosmariam setelah muncul pemberitaan di media.

Hengki berujar, komitmen pengobatan telah disampaikan kepada Koosmariam sejak awal insiden. Menurut dia, Garuda Indonesia tidak pernah berniat menghentikan pengobatan hanya sampai Februari 2018.

“Di satu sisi, kami menunggu konfirmasi Ibu, kapan mau berobat. Pasti akan kami jadwalkan. Pasti akan kami biayai,” ucapnya.

Adapun komunikasi terakhir Garuda Indonesia dengan Koosmariam terjadi akhir Februari 2018.

Koosmariam, 69 tahun, menggugat Garuda karena tersiram air panas di atas pesawat maskapai pelat merah itu pada 29 Desember 2017. Melalui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Koosmariam meminta ganti rugi Rp 11 miliar kepada Garuda.

Atas gugatan itu, Hengki berharap masalah ini bisa diselesaikan secara damai. Terlebih, menurut dia, jika Koosmariam ingin meminta pengobatan saat ini, Garuda Indonesia siap membiayai. “Kami sudah hubungi juga lawyer-nya. Kami upayakan mediasi di luar pengadilan,” ujar Hengki.

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close