Tak Berkategori

Diduga Bela Mahasiswa Papua, KontraS Digeruduk Ormas Surabaya

SURABAYA, SENAYANPOST.com – Sejumlah massa melakukan aksi unjuk rasa di Gedung Negara Grahadi untuk menolak keberadaan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) di Surabaya, Kamis (6/12/2018), mendatangi kantor Federasi KontraS di Jalan Lesti, Surabaya.

Sesuai surat pemberitahuan aksi unjuk rasa, ormas yang melakukan aksi itu terdiri dari Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan TNI-Polri (FKPPI) dan Himpunan Putra Putri Keluarga Angkatan Darat (HIPAKAD).

Tidak hanya itu, di antara massa juga terdapat perwakilan dari ormas seperti Front Pembela Islam (FPI), Pemuda Pancasila (PP), Patriot Garuda, Laskar Garuda Nusantara (LGN), Kobra, Solid NKRI, dan Bela Negara.

Di kantor KontraS itu,massa tidak melakukan orasi. Sebagian perwakilan dari mereka masuk untuk berdialog dengan perwakilan KontraS Surabaya, sedangkan lainnya bergerombol menunggu dialog di luar.

Perwakilan dari Front Nasional Anti Separatid dan Laskar Merah Putih Surabaya Bahrudin Muhdar mengatakan, tujuan kedatangan mereka untuk mengklarifikasi advokasi yang dilakukan KontraS terhadap Aliansi Mahasiswa Papua (AMP).

Aksi gabungan ormas ini merupakan buntut dari aksi peringatan Hari Kemerdekaan Papua Barat atas Belanda yang dilakukan ratusan mahasiswa AMP se-Jawa Bali di Surabaya, Sabtu (1/12/2018) lalu.

KontraS melakukan advokasi terhadap AMP (sejumlah besar mahasiswa dipulangkan ke domisili masing-masing oleh Polisi pada Minggu 2 Desember) menggelar konferensi pers pada Senin (3/12/2018) lalu.

KontraS, pada konferensi pers itu menyampaikan sikapnya yang menyayangkan terjadinya dugaan persekusi oleh Ormas lain terhadap mahasiswa yang tergabung dalam AMP pada aksi unjuk rasa Sabtu (30/11/2018) lalu.

Selain itu, KontraS meminta polisi, masyarakat, dan Presiden agar melindungi hak mahasiswa Papua menyuarakan ketidakadilan di Papua sebagai bentuk kebebasan berserikat, berkumpul, dan berekspresi.

“Kami ke sini untuk mengklarifikasi pernyataan kuasa hukum AMP dalam konferensi pers KontraS kemarin yang menyatakan kami membuat kerusuhan, membawa bambu runcing, dan melukai kepala sejumlah anak AMP. Itu semua tidak benar,” ujar Bahrudin Muhdar di Kantor KontraS.

Bahrudin juga mengatakan, gabungan ormas itu mendatangi KontraS untuk mengklarifikasi sejauh mana advokasi yang dilakukan oleh organisasi nonpemerintah itu terhadap AMP.

“Kami juga ingin tahu, langkah-langkah hukum apa yang sudah mereka (KontraS) lakukan, dan batasan-batasan pendampingan hukum seperti apa yang mereka lakukan terhadap AMP ini?” Kata Bahrudin.

Dia mempertanyakan apakah KontraS sebatas mendampingi AMP untuk alasan hak asasi manusia atau juga turut mendukung tindakan AMP yang mereka anggap makar dengan menuntut kemerdekaan Papua.

Sementara, Andi Irfan Sekjen Federasi KontraS menyatakan, KontraS hanya memberikan perlindungan terhadap mereka yang mendapat ancaman, kekerasan, dan diskriminasi.

“Kami mencegah itu terjadi. Tadi kami sudah berdiskusi dan sudah saling terjawab dalam dialog yang kami lakukan. Mereka memang mengklarifikasi sikap KontraS terhadap pernyataan Veronika, dan sikap KontraS berbeda,” ujarnya.

Andi menjelaskan, KontraS mengambil sikap yang lebih luas dari peristiwa yang terjadi. Sebagaimana yang dinyatakan dalam konferensi pers pada Senin lalu, salah satu pernyataan sikap KontraS agar polisi membebaskan 233 mahasiswa AMP yang dibawa ke kantor polisi.

Selain itu, KontraS menyoroti potensi pelanggaran HAM dan kebebasan berserikat, berkumpul, dan berekspresi yang terjadi pada aksi unjuk rasa Sabtu dan pengepungan oleh ormas itu di Asrama Mahasiswa Papua.

“KontraS sudah ada di Papua sejak 2003. Kami sudah melakukan pendampingan terhadap masyarakat Papua sejak Munir masih hidup, dan kami tahu betul kondisi masyarakat di sana. Kami hanya melakukan tugas untuk melakukan pendampingan hukum bagi siapapun yang mengalami diskriminasi, kekerasan, apapun pandangan politiknya, apapun suku dan agamanya,” ujarnya. (JS)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close