Didikan dan Bisikan untuk Jokowi

Didikan dan Bisikan untuk Jokowi

WAKTU ibadah menjadi prioritas Ibu Hajah Sudjiatmi. Tidak hanya tahun-rahun terlahir setelah putranya menjadi Presiden RI. Mulai masih kecil pun sudah terbiasa. “Wis shalat durung le?” Sudah shalat belum nak? Itulah kalimat pertama yang selalu diucapkan Ibu Sudjiatmi manakala bertemu Jokowi.

Juga tidak hanya saat Jokowi masih kecil atau remaja. Sampai Jokowi menjadi Presiden pun ujaran yang sama selalu disampaikan kepada Jokowi dan ketiga putrinya. Tentu ibu Sidjiatmi tidak hanya main perintah. Ibu yang tak pernah melepas kerudungnya iti memberi contoh langsung religiusitas dirinya. Apalagi dalam waktu 10 tahun terakhir, menemuinya dari pagi sampai waktu dhuhur tidaklah mudah. Bu Djatmi –sapaan para tetangga–selalu sibuk dengan kegiatan keagamaan. Ada majelis pengajian yang diikutinya dan aktivitas keagamaan lainnya.

Di usia sepuhnya Bu Djatmi pada waktu antara Duha dan Dhuhur selalu berada di masjid atau majelis pengajian. Ia curahkan tenaga dan waktunya untuk memadah, memuji Sang Maha Pemilik hidupnya dan hidup putra dan putrinya. Sholat, berdoa, dan mengaji.

Selain rajin mengaji ke masjid Bu Djatmi juga istiqamah berpuasa Senin-Kamis dan shalat tahajud di tengah malam. Memuji dan berdoa untuk keselamatan seluruh keluarganya, selamat dunia dan akhirat.

Dengan terus berdoa Bu Djatmi merasakan mengalirnya energi kejujuran kepada diri dan anak cucunya. “Sejak kecil anak-anak saya selalu saya ajari tentang pentingnya hidup jujur,” ujarnya.

Bekerja keras, bekerja ihlas, dan bekerja jujur ini tiga hal yang einslinaua saling terkait. Tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Itu disebutnya sebagai kunci sukses. Alhamdulillah tiga hal itu dilaksanakan putra putrinya yang kesemuanya berawal dari bekerja berdagang. Bu Djatmi selalu mengajak putra putrinya untuk meneladani Nabi Muhammad SAW yang dalam berdagang selalu bekerja keras, jujur, dan ihlas.

Kerja Keras, Jujur dan Ihlas

Presiden Jokowi bersama Ibunda Sujiatmi Notomihardjo

Bu Djatmi juga sangat percaya jika bekerja keras, sungguh-sungguh jujur dan ikhlas akan datang rejeki yang tidak disangka-sangka, min ghoiru laa yahtasib, dalam bahasa agamanya. “Manusia mesti berikhtiar, Allah yang akan mengatur rejeki itu,” itu yang dipahami wanita lugu itu.

Lalu apa peran lain Bu Djatmi pada Jokowi? Diakuinya sendiri Jokowi sangat mendengar apa yang dia bisikkan menghadapi fitnah, hujatan, dan celaan. Sabar dan jangan mendendam selalu dibisikkan ke telinga Jokowi manakala sang putra menghadapi berbagai cobaan berat. Sabar kata Bu Djatmi adalah “mantra sakti” yang dapat mengalahlan semuanya.

Jadi kalau aditanya siapa penasihat spiritual Pak Jokowi, Bu Djatmi dengan senyum menjawab tangkas, “Dukune yo ibune dewe iki. Tak sebul bun-bunane,” ujarnya dengan tertawa. (Dukunnya ya ibunya sendiri ini..Saya tiup ubun-ubunnya).

Satu hal lagi yang dicatat dari Ibunda orang nomor satu di Indonesia ini adalah kesederhanaannya. Lihatlah, rasanya belum pernah kita melihat Bu Djatmi memakai perhiasan saat tampil di acara apa pun. Busana yang dikenakan pun biasa-biasa saja seperti pakaian yang dipakai wanita kebanyakan.

Ketika Ibu Sudjiatmi sakit menjelang wafatnya, tak banyak bahkan tak pernah dikabarkan. Ini sangat beda kalau ibu seorang kepala negara yang lain. Baru masuk rumah sakit saja sudah menjadi berita menghebohkan.

Tempo hari Bu Djatmi didawat di RSPAD Gatot Subroto Jakarta, tidak banyak orang yang tahu..Bahkan saat mengembuskan napas terakhirnya Bu Djatmi dirawat dj sebuah rumah sakit tentara, RST Slamet Riyadi yang sangat sederhana. Ini menunjukkan bahwa ibu yang satu ini hidupnya sangat bersahaja. Padahal kalau ia mau bisa saja dirawat di rumah sakit yang lebih baik, misalnya di Semarang, di Jakarta, bahkan di Singapura, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh keluarga pejabat tinggi kita.

Itulah Ibu Sudjiatmi, seperti halnya putra sulungnya Jokowi, hidupnya sederhana, tak banyak tuntutan, jujur, dan penuh keihlasan.

Terima kasih Ibu telah berjasa melahirkan dan mengantar putra terbaik bangsa. Semoga Ibu mendapat tempat di jannatun naim.