Dicari Imam Shalat Istisqa’

Dicari Imam Shalat Istisqa’

Oleh: A. Musta’in Syafi’ie

KEKERINGAN melanda dan Tuhan mengancam, andai tidak karena hewan-hewan, maka Aku tak sudi mengguyurkan air untuk manusia. Demi memburu “sembako”, para sahabat bubar meninggalkan Rasulullah SAW yang sedang berkhutbah, hanya dua belas tersisa. Rasul mengancam ;”Andai semua bubar, maka Madinah ini akan hangus terlalap api”.

Kekeringan melanda, para sahabat tadzallul, beristighfar, puasa, berpakain lumrah dan bersama Rasulullah SAW menuju shakhra’ menunaikan shalat istisqa’. Dalam mengunduh keberkahan langit ini, mereka menempatkan para dlu’afa di baris depan, bahkan melibatkan hewan ternak sebagai dukungan mendemo langit. Dan langitpun menurut. Air hujan turun menyegarkan, memuaskan.

Negeri ini lama dilanda kekeringan hingga banyak warga yang menderita. Beberapa terpaksa minum air yang tersisa di genangan pematang. Jangan ditanya higienisnya. Kebakaran hutan ribuah hektar, asap menelan korban dan ribuan sekolah diliburkan. Jutaan galon air dibutuhkan, modifikasi cuaca juga dilakukan dan presiden-pun pusing memikirkan.

Lupakah, bahwa kita ini umat beragama, mayoritas islam. Ada kiai, ada ustadz, ada MUI, ada Syuriah NU, majlis Tarjih Muhammadiyah, Jam’iyah al-Washliyah, al-Irsyad, ada IPIM (Ikatan Persaudaraan Imam Masjid), dll. Mana yang mengibarkan bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid “La ilaha illa Allah”? Kok membisu tanpa bergeming menengadahkan tangan bersama ke langit. Kok tidak sesemarak 212 dulu? Apa para pemuka agama sudah tidak yakin kepada keberkahan langit?

Apa para kiai berkurang rasa iqtida’nya kepada Nabi SAW?

Di kemanakan kitab kuningnya?

Ingat, jika urusan politik mereka sangat serius mengadakan istighatsah bersama, doa bersama, Indonesia berdzikir, pertobatan nasional dan seterusnya?

Para kiai dan habaib tampil di depan dengan jubah kebesarannya.

Apa para kiai sudah tidak ada yang yakin dengan dirinya?

Atau sulit menemukan kiai “langit”?

Atau takut jika didaulat menjadi imam shalat istisqa’, lalu tidak turun hujan?

Kenapa tidak ada yang membisiki presiden agar menginstruksikan bangsa ini shalat istisqa’?

Wakil presiden kita kan seorang kiai besar, kemana feeling kekiaiannya?

Kok tidak seserius kampanye dulu?

Kok tidak seserius saat membisik minta jatah menteri?

Memilih Ahok saja dibela dengan dalil-dalil agama dan disahkan dalam Bahsul Masail.

Memang, sebagian umat memandang shalat istisqa’ bak uji kompetensi, sekaligus reputasi bagi seorang kiai. Apakah dia zuhud, wara’ atau tidak? Apa doanya langsung direspon Tuhan atau tidak? Mestinya tak perlu begitu. Ikhtiar itu keharusan, selanjutnya terserah Tuhan. Shalat istisqa’ adalah solusi paling murah, efektif dan efesien.

Shalat istisqa’, khutbah pertama diawali dengan istighfar (bukan takbir) sembilan kali dan tujuh kali pada khutbah kedua seperti pada ‘Id. Monggo kita istighfar sendiri-sendiri, barang kali “langit” sedikit mengerti.

*Penulis, santri di Jombang, Jawa Timur.