Wawancara Khusus

Diaz Hendropriyono: Musik, Politik dan Transformasi PKPI Partai Zaman Wow

JAKARTA, SENAYANPOST.com — Tokoh muda DIAZ HENDROPRIYONO lima tahun terakhir mewarnai panggung politik Tanah Air. Jebolan Virginia Tech University, Amerika Serikat, ini mulai terjun ke politik praktis menjelang Pilkada DKI Jakarta tahun 2012 dan memenangkan Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta. Namun, namanya mencuat ke permukaan ketika membentuk dan memimpin kelompok relawan KAWAN JOKOWI pada Pilpres 2014 dan mengantar Jokowi menjadi Presiden RI ke-7. Dua tahun kemudian, ia diberi amanah mengawal pemerintahan Jokowi, sebagai Staf Khusus Presiden.

Kini, penggemar berat musik rock dan jazz ini menduduki posisi strategis sebagai Ketua Umum DPN Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI). Di bawah kepemimpinan Diaz, PKPI bertransformasi menjadi partai zaman wow yang sadar sejarah, kreatif, visioner, gaul dan lekat erat dengan generasi milenial, tanpa meninggalkan karakter partai pejuang, yang diwariskan para pendiri dan basis massa keluarga besar TNI/Polri, purnawirawan dan veteran.

PKPI Partai Zaman Wow merupakan cerminan, bahwa sebagai partai PKPI memahami sejarah masa lalu, di mana kebangkitan bangsa dan kemerdekaan RI merupakan hasil perjuangan pemuda-pemudi Indonesia; PKPI memahami masa kini di abad digital, di mana kemajuan bangsa dan negara amat ditentukan penguasaan teknologi informasi; dan memahami masa depan di mana visi dan misi PKPI mengantar Indonesia sebagai bangsa dan negara yang maju, serta berperadaban mulia, sesuai nilai-nilai Pancasila.

Sosok Diaz seperti representasi Jokowi muda, sama-sama gemar musik rock dan produktif melancarkan ide-ide kreatif, yang senafas dengan jiwa milenials.

Kepada Rivana Pratiwi, dari CNN Indonesia, politikus muda kelahiran 25 September 1978 ini mengungkap banyak hal seputar kesehariannya sebagai Ketua Umum PKPI dan Staf Khusus Presiden, dan hobinya nge-band dan bermain gitar di tengah berbagai kesibukan; transformasi PKPI menjadi partai zaman wow; kesiapan PKPI menyongsong Pemilu serentak 2019, membawa PKPI sukses melenggang ke Senayan dan memenangkan pasangan Calon Presesiden dan Calon Wakil Presiden nomor urut 01, Ir H. Joko Widodo dan KH Ma’ruf Amin untuk melanjutkan kepemimpinan dan pembangunan nasional.

Senayanpost menayangkan wawancara khusus tsb secara utuh, berikut kutipannya:

Bagaimana Mas Diaz mengatur waktu dengan seabrek tugas kenegaraan dan jadwal yang padat selaku Ketum PKPI?

Iya kan waktu ada 24 jam sehari, jadi gimana kita bisa nya aja sih, pagi di mana, siang ke mana, malam ke mana. Biasanya kalo masalah partai itu lebih ke sore hingga malem sih.

Selama ini, kegiatan yang sering Mas Diaz jalani antara lain sempatkan untuk nge-band dan nongkrong dengan teman-teman. Apakah sekarang masih bisa?

Enggak kalo nge-band nya sih. Udah enggak. Saya hanya maen gitar sendiri seperti sepulang kerja atau sebelum kerja. Main gitar sepuluh menitan tapi kadang-kadang sih malam jam sebelas malem gitu, baru mulai main pas istri lagi tidur.

Seperti halnya generasi milenial sekarang yang bergaya anak muda, kita lihat banyak politisi sekarang yang kemudian tiba tiba punya Instagram, nge-vlog, pake sneakers, pake jaket bomber termasuk bermusik seperti Mas Diaz. Persepsi Mas?

Mungkin saya hanya bisa mengomentari diri saya. Saya ini dari dulu begini aja, sukanya pake sneakers, sukanya pake jeans. Kalo belum gajian, jeans-nya sobek-sobek tapi kalo udah gajian sih jeans-nya gak sobek lah. Kemudian main gitar, ngeband. Emang penampilan saya begini dari dulu.

Tidak berubah setelah terjun sebagai politikus. Media sosial pun dari dulu saya udah punya, dari jaman Friendster yang jadul itu, ya mungkin itu generasi saya, walaupun saya juga udah milenials yang paling ujung.

Lebih suka jadi politisi atau jadi akademisi?

Lebih enak di politik karena selama saya ada di Amerika, saya bekerja dan belajar di sana kita hanya bisa sebatas mengamati dan memberikan masukan kepada para pembuat kebijakan. Jadi masih pada level itu.

Tapi kalo kita masuk ke politik, kita bisa masuk ke pemerintah. Kalo kita bisa masuk ke pemerintah kita bisa membuat kebijakan yang benar-benar berpengaruh untuk bangsa kita. Sebagai politikus, kebijakan yang kita buat bisa berpengaruh untuk semua orang ketimbang jadi akademisi.

Mas Diaz pernah bekerja sebagai konsultan politik di Amerika Serikat. Apa perbedaan mencolok sistem politik di Amerika dengan di Indonesia?

Sangat berbeda. Mau gak mau harus diakui di sana lebih matang ya politiknya. Di sini ya kita melihat masih baru ya, masih belum ada 20 tahun mungkin demokrasi yang kita jalankan sekarang.

Tapi saya yakin pasti akan lebih matang kok apalagi sekarang sudah banyak perubahan yang dibawa oleh Pak Presiden Jokowi. Dalam 5 tahun ke depan, jika beliau terpilih lagi pasti nanti proses demokrasi ini akan lebih matang

Berdasarkan data KPU, jumlah generasi milenial hampir 40% pada pemilu 2019 nanti. Menurut Anda, generasi milenial itu sudah melek politik tidak?   

Saya rasa, mereka udah pasti melek politik tergantung dari calon-calon yang diusung oleh parpol. Kalo calonnya ini bisa menyentuh hati para milenial , pasti mereka akan meningkatkan partisipasi mereka di politik. Misalkan saja hal yang sangat berpengaruh untuk kalangan milenial itu apa sih sekarang? Kalo dilihat dari segi itu, jelas lapangan pekerjaan, itu 25% mengatakan demikian. Jika ada caleg yang mampu menawarkan itu, jelas itu akan sangat berpengaruh dalam meningkatkan partisipasi politik di kalangan milenial.

Dan kalo saya lihat, Pak Presiden ini dalam 3-4 tahun terakhir ini sudah menciptakan lapangan pekerjaan lebih dari yang beliau janjikan.

Ketua Umum PKPI, Diaz Hendropriyono, menggendong bayi berumur 10 hari di tenda pengungsian.

Anda tampaknya sangat mengidolakan Presiden Jokowi?

Iya karena pada awalnya juga saya masuk politik karena beliau. Saya baru kembali dari Amerika tuh tahun 2012 dan saya diperkenalkan oleh ayah saya kepada Pak Jokowi. Saat itu beliau masih Walikota Solo. Dan memang tahun- tahun itu sering berkomunikasi, dan saya sangat tertarik lah dengan pandangan beliau dan pribadinya juga sangat baik.

Nah jadi kalo ditanya kenapa join politik, ya kalo dilihat dari sejarah saya, dan saya juga baru sadar bahwa saya ini masuk ke politik hanya karena mendukung Pak Jokowi, mulai dari Gubernur DKI Jakarta, Presiden dan sekarang Presiden lagi gitu. Kalo gak ada tokoh seperti Pak Jokowi saya gak mungkin masuk ke politik.

Seandainya hasil Pemilu legislatif tidak seperti yang Anda harapkan, Anda tidak akan berhenti kan jadi politisi, karena udah terlanjur kecemplung?

Iya mungkin. Kita lihat aja nanti.

Kita sempat tanya nih ke anak-anak muda pemilih milenials yang sekarang. Ternyata belum banyak yang tahu soal PKPI. Apa strategi Anda sebagai Ketua Umum?

Sewaktu saya jadi ketua umum, saya lihat basis masa PKPI. Kita sudah punya 1,1 juta pemilih 2014, dan sudah hampir 400 anggota DPRD di seluruh Indonesia. Pemilih nya itu secara tradisional adalah keluarga besar TNI, Polri, purnawirawan dan veteran.

Lalu saya buat satu bidang kesejahteraan prajurit dan veteran. Itu untuk memberikan sinyal kepada pemilih kita yang dulu itu, pemilih loyalis yang 20 tahun selalu segitu.

Walaupun ada rebranding di PKPI, ada peremajaan, tapi sekarang kepentingan mereka tidak akan terlupakan. Mereka akan selalu di-openi karenanya kita telah membentuk bidang kesejahteraan prajurit dan veteran. PKPI satu-satunya partai yang mempunyai bidang tersebut.

Dan, at the same time, kita pun juga tau bahwa dunia ini sedang mengalami perubahan khususnya karena teknologi, jadi kita pun mengetahui ada dampaknya pada beberapa sektor, misalnya sektor olahraga.

Nah sektor olahraga ini kita bentuk satu departemen di PKPI namanya Departemen E-sport atau olahraga elektronik untuk menggarap segmen pasar yang baru.

Jadi, kalo kita bicara mengenai strategi, strategi kita mempertahankan loyalis PKPI yang 1.1 juta dan kita merambah ke pasar baru yaitu para gamers dari kalangan milenials, kita tahu jumlah gamers di Indonesia sudah 43,7 juta, dan ini adalah suatu segmen yang saya rasa PKPI bisa masuki.

Apa sih yang dimiliki oleh seorang Diaz Hendropriyono, modalnya itu apa sehingga bisa menjadi Ketua Umum PKPI?

Kalo itu justru saya ingin menanyakan juga kepada khususnya Pak Try Sutrisno atau kepada ketua-ketua DPP yang memilih saya secara aklamasi untuk memimpin sebuah partai yang besar ini.

Saya tidak bisa mengatakan apa yang saya miliki, tapi saya memiliki keyakinan bahwa semua yang saya miliki ini bisa membawa PKPI lebih maju.

Jadi yang menilai kemampuan saya atau ketidakmampuan saya, mungkin bisa ditanyakan langsung kepada yang memilih saya

Siapa patron politik Anda?

Saat ini idola saya ya Pak Jokowi. Karena seperti tadi saya bilang, saya masuk ke politik setelah saya melihat tokoh yang berbeda, dia bukan dari elit, dia dari orang yang biasa-biasa saja. Saya mengenal beliau juga pada waktu itu, ya ke mana-mana pake kijang aja. Gak ada yang ngawal gitu. Hanya berdua dengan supir. Kok saya merasa tokoh ini cocok untuk pemimpin daerah bahkan pemimpin bangsa Indonesia sekarang.

Nama belakang Anda Hendropriyono. Seperti kita tahu kan Pak Hendropriyono itu mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), pasti beliau ini banyak teman dan di sisi lain juga banyak musuh. Apa yang Anda rasakan?

Saya ini mewarisi semua. Mewarasi semua temannya dan juga semua musuhnya. Jadi ya semua campur aduk jadi satu. Jadi kalo ditanya apakah enak atau enggak dengan menyandang nama belakang Hendropriyono, justru mungkin lebih gampang nama belakang saya bukan Hendropriyono. Karena saya bisa mulai dari sesuatu yang baru. Tapi baru mulai sekarang yang sudah ada, ya baik, itu berkah atau pun beban semua menjadi satu, tapi tidak apa lah.

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Presiden Joko Widodo(Jokowi) meyakini Diaz Faisal Malik Hendropriyono membawa angin segar bagi Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI). Diaz terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) PKPI dalam Kongres Luar Biasa (KLB) PKPI. "Saya yakin PKPI semakin maju
Pendiri dan Ketua Dewan Penasihat PKPI Jenderal (Purn) Try Sutrisno, menyerahkan pataka PKPI kepada ketua umum PKPI terpilih, Diaz Hendropriyono.

Tapi kalau nama belakang Anda bukan Hendropriyono, Anda yakin bisa jadi Ketua Umum PKPI?

Saya rasa waktu saya diminta jadi Ketua Umum PKPI, bukan dilihat dari saya anak siapa gitu, saya udah katakan bahwa Pak Try Sutrisno sendiri yang berkata bahwa beliau melihat sepak terjang saya dalam menggarap milenial pada tahun 2012 dan 2014 kemarin.

Bagaimana Anda beradaptasi ke dunia politik kita yang sedikit banyak disebut-sebut di mata generasi milenial sangat tidak menarik, penuh kontroversi, penuh politik pencitraan?

Politik itu asyik atau gak asyik gitu. Kalau politik itu dimanipulasi atau dimanfaatkan oleh satu dua orang untuk mencapai tujuan tertentu, tujuan yang tidak baik maka politik itu menjadi tidak asyik.

Tapi, kalau politik itu kita jalankan sebagai pengabdian, seperti yang disampaikan Pak Jokowi, maka dengan politik kita bisa memberikan jalan untuk menjadi bagian dari pemerintah. Dan itu hal yang sangat baik karena ketika kita sudah jadi bagian dari pemerintah kita membawa perubahan untuk bangsa ini. Itu menurut saya, melihat bagaimana membawa perubahan kepada bangsa itu sesuatu yang asyik banget. Jadi bukan sesuatu yang harus dihindari justru harus kita geluti supaya kita terus bisa memberikan perubahan sekecil apapun itu.

Ketua Umum PKPI sedang santap siang lesehan bersama pengungsi.

Sebenarnya, sulitkah bagi warga Indonesia untuk beradaptasi dengan politik di Tanah Air?

Enggak kalau kita menjadi diri kita sendiri. Tapi kalau menjadi orang lain akan lebih sulit, misalnya saya orangnya biasa mungkin pake batik. Pake jas bawaannya tua tiba tiba hanya karena ingin menggarap suara-suara milenial suara tertentu mulai lah pake baju ini dan itu. Nah, itu menurut saya akan sulit dan gak asyik banget.

Tapi kalo bener-bener kita jadi diri kita, tampilkan apa adanya, menurut saya itu akan kelihatan sangat netral dan justru akan sangat fun. Misalnya orang yang dulu akrabnya sama kaum muslim biarkan berkembang di situ. Orang yang mungkin aktifnya musisi dengan yang seniman apapun juga keluarkan apa yang ada di diri kamu. Jadi makna be yourself itu sangat  sangat dalam untuk diadaptasi pada politik kita sekarang ini.

Apa yang membedakan Anda dengan Pak AM Hendropriyono?

Pasti beda. Bapak saya terus terang mulainya dari nol. Bapak saya itu dulunya lucu juga, adalah seorang preman yang kerjaannya berantem aja. Terus masuk tentara, tanda kutip, jadi “lebih benarlah”, dan akhirnya meniti karir sendiri. Beliau benar-benar mulai dari zero, dari kosong.

Kalau saya mulai ya itu, apa yang sudah ada dari keluarga saya, baik itu yang itu tadi kawan maupun yang musuh. Jadi sudah ada semuanya. Mungkin kalau perbedaannya ya itu. Mau tidak mau harus diakui gitu.

ARTA, SENAYANPOST.com - Ketua Umum Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta maaf ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Jaksa Agung M Prasetyo terkait cuitan Andi Arief soal kader PD yang pindah ke NasDem dengan tagar 2018GantiPresiden. PKPI mengatakan harus ada sanksi internal yang diterapkan. "Per

Apakah Pak AM Hendropriyono itu sejak awal mengkader Anda ya untuk menjadi politisi kemudian menjadi Ketua Umum Partai?

Enggak, enggak juga. Saya rasa beliau hanya mengajarkan nilai nilai kekeluargaan di rumah dan melihat potensi anak-anaknya itu di mana sebenarnya. Dan setelah itu ya silahkan anak-anaknya sendiri aja menjalankan apa yang mereka inginkan. Kayak kakak saya yang laki sekarang lebih ke usaha jadi pengusaha. Kakak saya yang perempuan sekarang sibuk dampingi suaminya aja. Jadi ya gak ada semua anaknya itu harus jadi politisi gitu.

Bagaimana Anda menjawab semua cibiran dari sebagian masyarakat yang menganggap Anda anak emas atau putra mahkota sehingga bisa mencapai posisi sekarang di PKPI itu karena anaknya Hendropriyono?

Jadi emang gak ada permintaan dari ayah saya supaya saya bisa menjadi Ketua Umum PKPI. Malahan ada permintaan yang awalnya dari PKPI itu sendiri untuk meminta saya. Jadi menurut saya, kalau orang mencibir atau nyinyir kalo memang tidak tahu fakta yang terjadi itu apa, lebih baik ya stay quit aja.

Jadi, politisi itu gak boleh baper?

Iya, politisi gak boleh baperan.

PKPI kan sudah hampir 20 tahun berdiri. Berkali-kali ikut pemilu tapi perolehan suaranya masih belum mencapai ambang batas. Bagaimana Anda menjawab ini, sebagai Ketua Umum PKPI?

Kita juga ingin mendapatkan coattail effect dari Pilpres ini karena coattail effect itu walaupun sedikit tidak sesuai dengan prediksi seperti yang terjadi di tahun 2014, tapi itu real.

Dan itu akan dapat dan akan terbentuk kalau ada asosiasi antara tokoh yang kita dukung dengan tokoh partai itu sendiri. Jadi coattail effect itu ada meskipun tidak sebesar yang kita bayangkan.

Secara historis dukungan dan komitmen yang saya berikan kepada Pak Jokowi mulai dari 2012, saya rasa di situ akan ada asosiasinya bahwa komitmen kita untuk mendukung Pak Jokowi  itu memang benar ada, dan itu bukan hanya ada ditikungan terakhir.

Jadi coattail effect itu tidak akan terjadi jika partai itu mendukung suatu calon hanya karena tidak bisa mendukung siapa-siapa lagi gitu. Kalau memang tidak ada hubungannya antara tokoh dan yang didukung, apalagi dulunya sudah sering berantem gitu ya, tiba tiba di tikungan terakhir bilang wah saya dukung ini. Saya rasa itu akan ada lebih negative effect-nya.

Presiden Joko Widodo menjamu santap siang Ketum PSI Grace Natalie, Ketum Perindo Hary Tanoesoedibjo dan Ketum PKPI Diaz Hendropriyono di beranda Istana Presiden Bogor, Sabtu (28/7/2018).(Foto/Biro Pers Setpres)

Seperti biasa, kuis sebagai penutup. Saya akan berikan satu kata kemudian Mas Diaz kasih tanggapan dua kata atas satu kata tersebut. Dua kata tentang Indonesia?

Keberagaman, keharmonisan.

Dua kata tentang politik dinasti?

Tidak boleh diteruskan, bisa diteruskan.

Dua kata tentang generasi milenial?

Kekinian, masa depan.

Dua kata menggambarkan Pak Jokowi?

Merakyat, bersih.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close