Di Hadapan Sang Puasa

Di Hadapan Sang Puasa
Umbu Landu Paranggi

Oleh: Mustofa W. Hasyim

UMBU LANDU PARANGGI, adalah Sang Puisi sekaligus. Sang Puasa itu sendiri. Betapa tidak, dia sangat merindukan Taman Siswa dan ingin mereguk ilmu ketamansiswaan dari mata air kearifan Ki Hajar Dewantara di Yogyakarta. Akan tetapi sesampainya di Yogya dia diperintahkan Tuhan untuk berpuasa Taman Siswa. Tetapi rindu dan dahaga akan air jernih kehidupan pendidikan Taman Siswa tetap menggebu. Kadang tubuh dia menggigil karena rindu, kadang demam panas karena ingin ketemu.

Oleh karena itu kadang Umbu dengan cara sembunyi mencuri waktu untuk ‘berbuka puasa Taman Siswa’ dengan diam-diam menyusup di antara hadirin ketika ada kegiatan budaya di pendapa Taman Siswa. Karena Umbu selalu berpakaian rapi, dia justru dianggap tamu dan dipersilakan menikmati acara sampai selesai. Asupan rohani ini membuatnya makin terpesona dengan Taman Siswa dengan sistem among dengan guru sebagai pemomong yang berbagi ilmu dengan muridnya lewat keindahan seni budaya. Lalu Umbu mengetahui kalau di dalam sistem among ada disiplin ketat untuk melatih muridnya agar bisa jadi dan menjadi manusia. Ada metode nglakoni dalam budaya Jawa, manusia melakukan refleksi atas kehidupannya.

Kesederhanaan adalah pilihan agar tidak tergoda impian duniawi yang dikibarkan oleh imperialis kolonialis sekaligus kapitalis Belanda. Menurut bahasa dan rumus milenial sekarang, Taman Siswa membuat dan menciptakan sendiri algoritma pendidikan jiwa among yang merupakan antitesis dari algoritma pendidikan kapitalis dan birokratis Belanda. Kira kira sederhananya seperti itu.

Itulah yang diserap Umbu, yaitu ilmu nglakoni agar bisa mendapatkan ilmu, dan dia konsep menjadi ekstrem: mengutamakan proses ketimbang hasil, mengutamakan yang sublim ketimbang yang dangkal, mengutamakan yang yang substansial ketimbang yang artifisial.

Dan yang disebut nglakoni, bagi Umbu ya puasa itu sendiri. Ilmu puasa, metodologi puasa, edukasi total puasa, kehidupan puasa dia gali sendiri yang sebagai Cah Sumba Umbu terbiasa menjadi saksi bagaimana rumput sabana saja berpuasa air di musim kemarau panjang, harus menahan dahaga dan rindu hujan berbulan-bulan dengan hanya ditemani angin, badai dan petir. Dia kemudian mampu menaklukkan angin, badai dan petir, termasuk yang berdiam di kedalaman jiwanya.

Umbu melakukan eksperimen nglakoni sebagai disiplin diri kepada dirinya sendiri kemudian membuat kilas-kilas catatan pengalaman puitik waktu nglakoni dengan menulis sajak, kadang esai mini hemat kata, kadang mini kata berupa coretan yang ini kadang dia berikan sebagai hadiah yang membuat bingung muridnya.

Eksperimen nglakoni sebagai puasa ini kemudian dia lakukan untuk menghormati semua ajaran agama yang mengajarkan puasa. Maka ketika orang Islam berpuasa, dia berpuasa, ketika orang Hindu berpuasa dia pun berpuasa dan ketika umat Nasrani berpuasa pada dua hari dia pun berpuasa, diam-diam tanpa memberi tahu orang. Karena usia tubuh tidak sekuat kuda di zaman muda maka dia kena aradl basyariah kadang berupa sakit.

Umbu menurut teman yang setia menemani, cenderung berpuasa makan enak, dan memilih rebusan daun pepaya sebagai menu favorit. Daun pepaya yang pahit itu dia sebut bisa menyehatkan tubuh.

Barangkali yang tidak Umbu puasai hanya rokok, itu saja zaman periode Malioboro dia sering atau malah selalu menggoda atau melatih muridnya berpuasa rokok sepanjang malam.

Setelah suntuk membuka Universitas Terbuka Pintunya Lebar-Lebar Selebar Langit di Malioboro dengan siswa atau mahasiswa ribuan jumlahnya, tiba-tiba Umbu memutuskan untuk berpuasa ‘ruang waktu dan kejadian Malioboro’ dengan cara diam-diam meninggalkan Yogyakarta untuk pulang ke Sumba, ‘berbuka’ sebentar dengan berkeluarga lalu ‘berpuasa ruang waktu kejadian Sumba’ dengan pergi ke Bali atau mendatangi Bali.

Di Bali dia membuka Universitas Terbuka Pintunya Lebar-Lebar Selebar Langit di Bali dengan kantor rektorat Bali Post. Ketika murid Universitas Terbuka Pintunya Lebar-Lebar Selebar Langit Malioboro rindu kepada dia dan ingin ketemu dia sering memaksa murid Malioboro itu memperpanjang puasa rindu dengan cara tidak mau ditemui. Tidak ada yang tahu, apakah sesungguhnya Umbu menderita atau senang atau menikmati penderitaan sendiri ketika menyaksikan murid tersiksa karena gagal bertemu.

Mungkin suatu hari Umbu merasa hidup perlu keseimbangan. Ada puasa ada kalanya berbuka terhadap rindu bertemu. Saya beruntung tahun 2016 itu Umbu mau berbuka rindu. Mau menemui saya.

Hari-hari ini, dengan Tuhan memanggil Umbu, sesungguhnya Tuhan sedang memerintahkan kita semua untuk berpuasa ketemu fisik dengan Umbu. Bahkan Umbu sendiri sekarang juga menjalani perintah berpuasa. Dengan diistirahatkan di pulau Bali karena keadaan belum memungkinkan, Umbu pun berpuasa rindu karena belum bisa berdekatan dengan makam isterinya.

Sang Puasa masih melanjutkan puasa dan kehidupan puisinya, entah sampai kapan. Puisi itu misteri, demikian juga puasa dan Sang Puasa. Demikian Tuhan mengajarkan kepada kita agar dalam menjalani puasa, puasa sebagai proses tidak terganggu bayang-bayang berbuka. Misalnya dengan mengkoleksi makanan lezat untuk nanti kita nikmati setelah Maghrib.

Dalam konteks ini warga kampung saya Kauman, di masa pandemi ini dua tahun berpuasa dari menikmati Bazaar makanan Ramadhan. ‘Pasar tiban’ Ramadhan yang biasanya meramaikan hari membuat ibu-ibu sibuk memasak untuk dijual sebagian lagi membuat ibu-ibu menyiapkan uang untuk belanja makanan Ramadhan hari-hari ini tidak terlihat. Lorong kampung di depan rumah sepi. Hanya ada tiga warung yang buka melayani pembeli makanan dan lauk berbuka.

Puasa kali ini memang terasa sebagai puasa. Yang bagi Umbu pun puasa tetap dirasakan sebagai puasa. Buat apa manusia berpuasa kalau tidak berhasil memuasai hidupnya?

1 Ramadlan 1442 H/13 April 2021 M

Mustofa W. Hasyim, penyair dan jurnalis, tinggal di Kotagede, Yogyakarta.