Di Balik Penusukan Syekh Ali Jaber

Di Balik Penusukan Syekh Ali Jaber

Oleh: M. Saekan Muchith

ULAMA asal kota Madinah Arab Saudi Syekh Ali Jaber, hari minggu 13 September 2020 mengalami musibah yang sangat mengerikan dan  memprihatinkan.  Pada saat acara wisuda tahfidz Al qur'an di masjid Falahudin Lampung tiba tiba pemuda berperawakan kurus bernama Alfin Andrian (AA) menyerang dengan senjata tajam ( pisau) mengenai lengan kananya.  

Semua kalangan mempertanyakan motif pelaku, mengapa pelaku tega melakukan perbuatan biadab tersebut?, apakah pelaku bertindak sendirian atau ada yang menyuruh ? Apakah tindakan pelaku dalam kondisi sadar (sehat) ataukah dalam kondisi tidak sadar (sakit jiwa)?

Menteri pertahanan Mahfud MD sudah wanti wanti kepada aparat penegak hukum (Polri) segera menyelesaikan kasus ini secara tuntas dan transparan agar Polri bisa memberi kepastian dan menjawab rasa penasaran publik. 

Perspektif Sejarah Islam

Dalam sejarah Islam, apa yang dialami Syekh Ali Jaber pernah juga dialami tiga khulafaurrosyidin, Sayyidina Umar bin Khattab, Ustman bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib. Bahkan lebih dari itu, ke tiga sahabat Rasulullah Saw tidak hanya terluka tetapi meninggal dunia (wafat). 

Sayyidina Umar bin Khattab RA dibunuh seorang budak dari Persia bernama Firoz yang biasa di sapa Abu Lu'lu'ah. Pada saat Sayyidina Umar bin Khattab menjadi imam sholat berjama'ah, tepat saat malakukan ruku' Abu Lu'lu'ah menerobos barisan (Shaf) sholat, kemudian menghujamkan pisau belati ke pungung Umar bin Khattab sebanyak 6 kali hujaman. Seketika itu para jama'ah berusaha menangkap Abu Lu'lu'ah namun dalam proses penangkapan  Abu Lu'lu'ah berhasil melakukan bunuh diri dengan senjatanya sendiri. 

Beberapa saat setelah di rumah, Sayyidina Umar bin Khattab wafat dan sebelum wafat sempat berpesan minta di makamkan di dekat makam Rasulullah Saw.

Ada tiga versi  motif mengapa Abu Lu'lu'ah membunuh Sayyidina Umar yaitu pertama, dendam karena pajak yang dibebankan kepada Abu Lu'lu'ah terlalu besar sehingga berat untuk membayarnya. Kedua, kekecewaan orang orang Persia karena Islam berkembang pesat di Persia. Sekelompok orang Persia mencoba merayu dan memanfaatkan keluguhan atau kebodohan Abu Lu'lu'ah agar mau melakukan aksi pembunuhan kepada Sayyidina Umar bin Khattab. Ketiga,  ketidak sukaan dari orang orang kafir terhadap Sayyidina Umar bin Khattab atas kejayaan Islam di bawah kekhalifahanya. Abu Lu'lu'ah yang masih kafir dan bodoh mencoba dimanfaatkan dan di "cuci otak" sehingga bersedia membunuh Sayyidina Umar bin Khattab. 

Berbeda dengan Sayyidina Umar, Sayyidina Ustman bin Affan dibunuh oleh rival politik pada saat menjadi khalifah menggantikan Umar bin Khattab. Dalam kitab Al Bidayah Wa An  Nihayah karya Ibnu Katsir dijelaskan bahwa selama kepemimpinan Utsman bin Affan terdapat  dua issu yang jadi polemik, pertama keinginan sekelompok orang untuk mengganti beberapa gubernur yang dituduh tidak memiliki kapasitas dalam memimpin. Kelompok tersebut terus menerus melakukan propaganda atau hasutan dengan membuat opini negatif kepemimpinan Utsman bin Affan. Kedua, tuntutan sekelompok orang agar Utsman bin Affan memberi hukuman yang setimpal kepada siapa saja yang terlibat pembunuhan Umar bin Khattab.  

Sampai kurun waktu tertentu, Sayyidina Utsman bin Affan belum mengabulkan tuntutan kedua kelompok tersebut. Akhirnya kedua kelompok bersatu dan bersepakat  berkoalisi untuk menjatuhkan Sayyidina Utsman bin Affan dari kursi kekhalifahan. 

Kelompok barisan "sakit hati" mengepung rumah Sayyidina Utsman selama 40 hari 40 malam. Tepat malam ke 40, Sayyidina Utsman bermimpi bertemu Rasulullah Saw, dalam mimpinya Rasulullah mengajak Utsman untuk berbuka bersama sayyidina Abu Bakar dan Umar. Keesokan harinya, Utsman berpuasa dan berkata kepada semua pasukan yang menjaga rumahnya untuk berhenti menjaga rumahnya.  Akhirnya musuh musuhnya leluasa bisa masuk  dan menyerang Sayyidina Utsman dengan mudah. Tepat hari ke 40 pengepungan, Sayyidina Utsman terbunuh dalam posisi sedang membaca Al qur'an. Innalillahi wainnailaihi rojiuun, Sayyidina Utsman wafat ditangan musuh politiknya.

Lain lagi ceritanya, Sayyidina Ali bin Abi Thalib dibunuh oleh seorang ulama besar dari kelompok khawarij yang  hafal Al qur'an (hafudz), sangat taat beribadah dan sholat malam bernama Abdurrahman Ibnu Mulzam. 

Sayyidina Ali bin Abi Thalib diyakini sebagai kafir karena melakukan perundingan damai dengan Mu'awiyah yang melahirkan hukum untuk menyelesaikan suatu persoalan. Sayyidina Ali bin Abu Thalib dianggap membuat hukum, padahal pembuat hukum hanya milik Allah bukan manusia.

Dengan keyakinan itulah, akhirnya Ibnu Mulzam berhasil menyarangkan pedangnya yang beracun di punggung  Sayyidina Ali pada malam 19 ramadan 40 Hijritah. Dua hari kemudian Sayyidina Ali wafat karena racun dari pedangnya Ibnu Mulzam menyebar keseluruh tubuh. 

Kasus Syekh Ali Jaber

Motif  penusukan syekh Ali Jaber yang dilakukan AA harus bisa dibongkar secara cepat, tuntas dan transparan. Apakah termasuk kasus kriminal murni atau bernuansa politis, apakah AA bekerja sendirian atau ada  kelompok lain dibelakangnya, apakah obyek sasaranya hanya kepada Syekh Ali Jaber atau ada sasaran yang lebih besar. 

Mengacu kasus yang menimpa tiga sahabat Rasulullah Saw di atas, kasus Syeh Ali Jaber memiliki kemiripan dengan kasus Sayyidina Umar bin Khattab, setidaknya dilihat dari pelaku, lokasi dan cara menyerang. 

Pertama, Latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang tidak jelas mengakibatkan seseorang memiliki kelemahan yang mudah dipengaruhi dan dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. AA yang tidak jelas pendidikan dan pekerjaanya dan Abu Lu'lu'ah sebagai budak sangat rawan dipengaruhi dan dimanfaatkan orang lain untuk meraih kepentingan pribadi atau golongan. 

Kedua, pelaku kejahatan selalu mencari momentum yang dianggap tepat dan efektif. AA dan Abu Lu'luah menganggap lokasi masjid dianggap tepat untuk melampiaskan amarahnya. Masjid Falahuddin Lampung tempat Syekh Ali Jaber mengisi pengajian bagi AA dianggap momentum yang tepat untuk menyerang. Masjid Nabawi tempat Sayyidina Umar bin Khattab melaksanakan sholat berjama'ah bagi Abu Lu'luah dianggap waktu yang tepat untuk menyerang. 

Ketiga, orang yang melakukan perbuatan karena di pengaruhi atau diprovokasi orang lain biasanya sering melakukan hal hal yang nekat dan aneh menurut kacamata manusia pada umumnya. Perbuatan AA dan Abu Lu'lu'ah bisa dikategorikan nekat dan aneh karena dengan cara terang terangan diketahui banyak orang. AA menerobos para jama'ah pengajian sedangkankan Abu Lu'luah menerobos barisan sholat berjamaah. 

Abu Lu'lu'ah membunuh Sayyidina Umar bukan keinginan atau dendam pribadi tetapi  jelas diprovokasi dan dimanfaatkan oleh tokoh Persia dan tokoh kafir Quraisy Madinah  yang tidak suka atas keberhasilan Sayyidina Umar dalam melakukan dakwah Islam.

Lalu bagaimana dengan AA? Apakah yang dilakukan AA itu inisiatif sendiri? Atau ada pihak pihak lain yang memprovokasi atau "menunggangi" seperti yang dilakukan Abu Lu'lu'ah?  Kita tunggu proses hukum yang masih berjalan. 

*Dr. M. Saekan Muchith, S.Ag, M.Pd, Ketua Umum Pengurus Masjid Besar Islamic Center Kab. Kudus, Dosen IAIN Purwokerto Jawa Tengah.