Gus Baha (4)

Deklarasi Kewalian 

Deklarasi Kewalian 
Fauzi Rahman

Oleh: Fauzi Rahman

DEKLARASI atau maklumat kewalian dan keulamaan bagi mayoritas orang atau kyai selama ini dianggap tidak elok,  tabu, dan  kurang pantas.

Tapi bagi  Gus Baha hal seperti itu tidak berlaku, justru  kewalian dan keulamaan itu harus dideklarasikan atau diumumkan dengan maksud agar khalayak tahu bahwa seseorang itu wali atau ulama, identitasnya pasti.

Alasan Gus Baha menurut penulis masuk akal, beliau bermaksud agar setiap orang yang ahli dibidang apapun  harus pasti julukan dan alamatnya supaya orang lain tidak "salah alamat",  mau tanya ke ulama eeh ternyata  malah keliru ke dukun. 

Bagi Gus Baha itu penting agar semua menjadi terang benderang.

Dalam perbincangannya dengan Najwa  dan pak Quraisy shihab Gus Baha secara terus terang  bilang begini:

Saya dari kecil bercita-cita jadi wali karena bapak dan mbah-mbah saya terkenal wali, artinya wali disini adalah orang yang dekat dengan Allah, kedekatan mereka dengan Allah dibuktikan dengan cara melihat Allah begitu jelas,  kebenaran Allah harus dimaklumatkan dan disosialisasikan dalam rangka,  liyudhhiruru ‘aladdini kullih.

Begitu pula kenabian harus juga diperkenalkan, Allah dalam hadits qudsi menyebutkan, fakholaqtul kholqo luya’rifuni, Aku (Allah) sebenarnya tidak butuh mahluk, cuma orang harus mengenal Aku, diciptakan mahluk dalam rangka mengenal Aku, masak yang menciptakan tidak dikenal(?).

Makanya ketika Nabi Ibrahim, diperintahkan atau disuruh Allah menyampaikan tentang  haji dengan ayat 27 dalam Surat al-Hajj: Dan berserulah kepada manusia untuk memgerjakan haji, niscaya akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.

Ketika ada perintah ini Nabi Ibrahim "protes": Ya Allah, saya bisa apa, suara saya terbatas Ya Allah, sudah sampaikan saja, Saya yang menyampaikan pada semesta manusia kata Allah, ahirnya terbukti bahwa umat islam berbondong-bondong bahkan harus masuk daftar tunggu yang lama puluhan tahun untuk menunaikan ibadah haji, apalagi setelah ada pandemi covid-19 tentu masa tunggu akan lebih lma lagi.

Kata Gu Baha, bagi saya tidak penting terkenal atau tidak, yang penting saya memaklumatkan kalau saya wali dalam rangka mengumandangkan  eksistensi Allah dan segenap  kebenaran ajarannya, lho ..... bidan, dokter, profesor dan bahkan toko onderdil saja jelas alamatnya, masak ulama tidak.

Berkaitan keterkenalan Gus Baha yang youtubenya ditonton oleh jutaan orang, beliau dengan entengnya berkata, Saya sebenarnya tidak peduli terkenal apa tidak, kalau yang nonton saya jutaan di youtube tidak ngefek, tida beroengaruh pada kehidupan, apalagi saya tidak punya WA, saya biasa saja tidak berubah, tidak terus menjadi parlente,  yang penting saya sudah mengenalkan kebenaran Allah.

Jadi persis  seperti Nabi Ibrahim tadi maka Allahlah yang menjamin keterkenalan itu karena saya telah mengajarkan agama Allah.

Ketika Najwa shihab menyinggung tetap sederhana dengan sarungan dan pecian kemana saja pergi, dengan cerdas Gus Baha bilang, saya tidak akan terpengaruh dengan hiruk pikuk di luar, pakaian yang saya pakai adalah pakaian yang saya kenal dari kecil di pesantren, syukur mewakili bilisani qoumi, karena ini pakaian khas Indonesia.

Pada kesempatan yang lain Gus Baha bercerita kalau kadang nonton sinetron di TV, yang ditonton Angling darma atau mak lampir, bahkan pernah diledek istrinya, ulama kok nonton sinetron, jawaban Gus Baha seperti biasanya cerdas, aku nonton sinetron itu hanya ingin “ngerjain syetan”, biar syetan mangkel dan marah, dikira aku akan terlena dan akan terbawa cerita sinetron, sama sekali tidak ada pengaruhnya pada pikiranku, bahkan Gus Baha berseloroh, aku wali karena nonton sinetron sebab berhasil menipu syetan.

Kehadiran Gus Baha memang bagi siapapun memjadi fenomena baru yang memahami agama dengan begitu segar dan penuh keceriaan.

* Fauzi Rahman, Alumni PP Raudlatul Muta’allimin Situbondo, PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo dan Fak Syariah UIN SUKA Jogjakarta